Close Menu
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
Facebook X (Twitter) Instagram
VoxNtt.comVoxNtt.com
Facebook X (Twitter) Instagram
Subscribe
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
VoxNtt.comVoxNtt.com
Home»Gagasan»Gonta-Ganti Kurikulum: Strategi Guru di Pelosok NTT
Gagasan

Gonta-Ganti Kurikulum: Strategi Guru di Pelosok NTT

By Redaksi7 Desember 20258 Mins Read
Facebook Twitter WhatsApp Telegram
Ilustrasi
Share
Facebook Twitter Pinterest Telegram WhatsApp

Oleh: Krisogonus Kusman & Eustakius Kerbiyono Dagur

Dua puluh enam tahun pengabdian tak lepas dari badai kebijakan pemerintah. Arkadius Woda (52) menggelengkan kepala saat membahas perubahan kurikulum yang datang setiap pergantian kabinet.

“Itu hanya untungkan para pejabat, tetapi jadi sulit bagi kami sebagai eksekutor di lapangan,” keluhnya.

Menurut sosok yang sudah mengabdi 26 tahun di pelosok-pelosok NTT ini, kebijakan pemerintah pusat sering kali dibuat berdasarkan riset di Jawa lalu dipaksakan implementasinya di daerah.

“Mereka riset di Jakarta dan Surabaya lalu paksa kita di daerah pelosok seperti NTT untuk ikut standar mereka. Kita ini fasilitas minim, internet lemah dan gaji guru wah jangan omong lagi.”

Kenyataan yang dialami Pak Arka, demikian akrabnya, membuat implementasi kurikulum baru selalu menjadi mimpi buruk bagi para guru di Indonesia.

“Mutu pendidikan pasti goyah. Korbannya ya siswa-siswi. Kita guru saja kalang kabut, apalagi mereka?” katanya sambil merentangkan kedua tangannya.

Menurut Peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Deni Hadiana, pergantian kurikulum akibat pergantian kabinet tidak meningkatkan mutu pendidikan di Indonesia.

Justru sebaliknya mengalami ketimpangan dalam implementasi, beban atministratif dan kurang adanya standar yang jelas.

“Seharusnya pergantian kurikulum memberikan dampak positif terhadap prestasi murid dan kesejahteraan guru,” kata Deni saat diwawancarai wartawan Kompas (Kompas, 24/2024).

Arkadius juga kritis terhadap penghapusan Ujian Nasional (UN), yang diganti Asesmen Nasional (AN) dan Tes Potensi Akademik (TPA).

“Bagus untuk mengukur potensi, tapi hilangnya standar nasional membuat evaluasi sulit,” katanya. Di NTT, di mana akses teknologi terbatas, asesmen berbasis digital justru memperlebar kesenjangan.

Saat pandemi misalnya, Arkadius harus beradaptasi dengan metode mengajar yang berkombinasi dengan peralatan seadanya.

Kebijakan ini, baginya, mencerminkan ketidakpekaan pemerintah pusat terhadap pendidikan di wilayah pinggiran, di mana guru seperti dia menjadi korban kebijakan yang kurang realistis.

Suka duka guru di pelosok menjadi cerita yang getir. Banyak rekan guru Arkadius yang digaji di bawah Upah Minimum Regional (UMR). “Itu matikan semangat orang,” ujarnya.

“Di NTT, biaya hidup mahal karena ongkos transportasi dan kebutuhan aneka bahan pokok. Kalau gaji guru rendah, jelas kita enggan berinovasi.”

Lebih parah lagi, menurut tamatan Undana ini, hal ini bisa menurunkan minat anak muda memilih profesi ini.

“Padahal, pemerintah kan bilang SDM kaum muda adalah fondasi negara?” dengan nada retoris.

Arkadius menganalogikan krusialnya pendidikan dengan kebangkitan Jepang pasca peristiwa Hiroshima dan Nagasaki di Perang Dunia II.

Saat bom atom menghancurkan kota itu, Jepang bangkit bukan dari reruntuhan, tapi dari pendidikan dan disiplin rakyatnya.

“Guru adalah ujung tombaknya,” tegasnya penuh keyakinan.

Mengenal Sosok Arkadius Woda

Malam itu, 11 November 2025 tepat pukul 20.00 Wita, ketika menemui dia di kediamannya, Arkadius bercerita dengan mata berbinar.

“Saya jadi guru pada 1 Maret 1999, ketika baru berusia 26 tahun. Masih muda dan semangat.”

Kini, setelah lebih dari dua dekade, Arkadius masih setia bangun sebelum fajar, menempuh perjalanan 30 menit dari Nita ke sekolahnya.

Pukul 06.15, ia berangkat, menembus kabut pagi Nita yang sejuk, dan kembali pukul 13.20 dengan hati puas meski lelah.

SMAK St. Yohanes Paulus II Maumere, sekolah Katolik berakreditasi A+ di bawah naungan Keuskupan Maumere, menjadi ladang pengabdiannya saat ini.

Di sekolah ini, ia mengajar 28 jam dalam sepekan: 5 jam untuk kelas IX, 20 jam untuk kelas VIII, dan 3 jam untuk kelas VII. Beban itu berat, tetapi baginya itu adalah bentuk cinta terhadap profesinya.

Arkadius berkisah, sebelum mendarat di SMAK St. Yohanes Paulus II Maumere, perjalanan putra Nita ini berliku-liku.

“Saya pernah mengajar di Pulau Rote. Itu satu pulau terpencil di ujung selatan NTT. Akses transportasi menjadi makanan harian,” kenangnya.

Beranjak ke Flores, Arkadius kemudian mengajar di SMAN 1 Nita, sebuah sekolah negeri yang ramai dengan siswa beragam latar belakang.

Setelah itu, ia berlabuh ke SMP Susila Koting dan Seminari Bunda Segala Bangsa (BSB) Maumere, di mana ia belajar nilai-nilai spiritual yang kini menyatu dalam pengajarannya.

Pengalaman lintas lembaga tersebut membentuknya menjadi guru yang fleksibel namun tegas.

Ia mampu beradaptasi dengan ritme sekolah swasta yang lebih menekankan karakter dan sekolah negeri yang fokus pada kurikulum standar.

“Saya belajar bahwa pendidikan bukan hanya tentang buku atau teks, melainkan bagaimana cara membangun jiwa dan menempatkan diri,” katanya sambil tersenyum, mengenang hari-hari awal di Pulau Rote di mana ia harus berjalan kaki sejauh 10 Km melintasi bukit untuk mencapai ruang kelas.

Sebagai guru senior pengampu mata pelajaran Geografi di SMAK St. Yohanes Paulus II Maumere, Arkadius tak hanya mengajarkan peta dan fenomena alam, tetapi juga nilai-nilai kemanusiaan yang mendalam. Ia melihat sekaligus memaknai pendidikan sebagai panggilan mulia untuk memanusiakan manusia.

Didik Tanpa Rotan

Mengapa Arkadius memilih profesi guru? Jawabannya sederhana namun mendalam, “Mengajar ibarat petani yang merawat kebunnya. Sekolah umpama sawahnya dan siswa adalah tanamannya.”

Visi ini, diakuinya terinspirasi dari mendiang Pastor Georg Kirchberger, SVD, misionaris Jerman yang juga adalah dosen yang membina para calon imam di Ledalero-Flores.

Pater Kirch mengajarkan bahwa pendidikan sejati adalah mendidik orang menjadi disiplin tanpa menjadikan mereka sebagai penurut buta. Inti dari pendidikan adalah menyokong mereka menjadi orang baik.

“Guru adalah lentera yang menerangi, bukan palu yang menghancurkan,” tegas Arkadius, menggemakan ajaran itu.

Arkadius menolak keras pola pengajaran lama yang mengandalkan kekerasan fisik. Baginya, slogan “Di ujung rotan ada emas” sudah harus ditinggalkan.

“Itu haram bagi saya dan tidak akan saya buat,” tegasnya sembari menggelengkan kepala.

Sebaliknya, pembinaan karakter, mesti dimulai dari keluarga. Sekolah hanya sebagai wadah untuk menyempurnakannya.

Pengetahuan bisa dipelajari otodidak melalui buku atau internet, tetapi karakter harus dibentuk secara mendalam.

“Ingat, kita perlu bedakan: pendidikan karakter, bukan pengetahuan karakter,” ungkapnya bijak. Pengalaman 26 tahun di sekolah swasta dan negeri memperkuat pandangannya.

Menurutnya, sekolah swasta seperti SMAK lebih unggul dalam membangun karakter, sementara sekolah negeri acap kali terhambat birokrasi.

Di Flores, di mana tradisi Katolik bercampur dengan budaya lokal, Arkadius melihat tugasnya sebagai guru merupakan sebuah misi ilahi, yakni menciptakan generasi yang berintegritas.

Arkadius Woda bukanlah tipe guru yang memaksa para murid untuk belajar menghafal. Metode pengajarannya berpusat pada kebebasan ekspresi, di mana siswa didorong untuk menganalisis isu-isu sosial terkini melalui lensa Geografi.

Bayangkan, di sebuah kelas di mana remaja Flores berdiskusi tentang perubahan iklim yang mengancam alam mereka, atau urbanisasi yang mengubah desa tradisional menjadi kota kecil. Kira-kira apa yang harus dibuat seorang guru geografi?

“Saya beri mereka ruang untuk berpikir kritis,” ujarnya dengan raut wajah yang tegas.

Pendekatannya seimbang: lunak saat membangun kepercayaan, keras saat menuntut tanggung jawab. Bahkan, ia mengizinkan penggunaan ponsel di kelas.

Baginya, ini merupakan langkah progresif di era digital. Pemakaian ponsel, bukan untuk bermain game, melainkan untuk mencari data tentang aneka isu serta fenomena aktual yang terjadi di sekitar.

Hal tersebut dibenarkan oleh salah seorang mantan muridnya, Kozha, mahasiwa Magister Teologi IFTK Ledalero.

“Pak Arka itu sosok guru yang berwawasan luas. Ia juga membantu kami para murid untuk berpikir kritis,” ungkapnya sambil mengingat masa lalu bersama Pak Arka.

“Geografi tidak melulu membahas peta, tetapi cerita tentang bagaimana manusia berinteraksi dengan lingkungannya,” tegasnya sembari menyeruput segelas air putih.

Pengalaman demikian menciptakan kesinambungan antara pelajaran dan kehidupan sehari-hari, di mana siswa belajar menghubungkan isu global, seperti pemanasan bumi dengan aksi lokal penanaman pohon di desa mereka.

Di SMAK St. Yohanes Paulus II Maumere, sekolah yang kental dengan nilai-nilai Katolik, metode ini selaras dengan misi membentuk manusia utuh, bukan sekadar pintar secara akademis.

Lentera Terus Menyala

Tak terasa, jam dinding menunjukkan pukul 20.45. Waktu terus berlalu dan berbagai pengalaman telah terdaftar di lembaran kenangan. Tak mungkin begini-begini saja. Arkadius melanjutkan berbagi pengalamannya.

Sebagai sesosok guru, Arkadius selalu menggaungkan filosofi “berpikir global, bertindak lokal”.

Ia ingin para murid melihat kelas bukan sebagai ruang terisolasi, melainkan jembatan ke dunia luar.

Sukacita sebagai guru datang dari momen-momen kecil. Ketika seorang mantan siswa kembali setelah lulus dan berterima kasih atas pelajaran hidup.

Arkadius ingat beberapa alumni yang kini menjadi pastor dan bekerja di luar negeri.

Mereka menerapkan filosofi “berpikir global, bertindak lokal” untuk memanusiakan anak-anak di berbagai belahan dunia. Itulah yang membuatnya bertahan, meski lelah fisik dan mental.

Daripada terus mengeluhkan kegelapan, Arkadius lebih memilih menyalakan lentera. Aktivis Gereja di Paroki Nita ini punya harapan konkret untuk pemerintah.

Menurutnya, pemerintah perlu meningkatkan kualitas guru melalui pelatihan khusus sebelum mengajar dan seleksi yang lebih ketat.

“Bukan semua orang bisa jadi guru; butuh panggilan hati.” Namun, pemerintah juga perlu  menjamin kesejahteraan guru.

“Bukan hanya gaji yang layak, tetapi sarana prasarana mesti lengkap, seperti buku pelajaran terkini, jaringan internet stabil dan ruang kelas nyaman.”

Ia bermimpi pemerintah belajar dari model sukses seperti Finlandia, di mana guru dihormati sebagai profesi elite. Di Indonesia, khususnya NTT, investasi ini bisa mengubah nasib pendidikan.

“Guru sebagai lentera harus diberi minyak yang cukup agar cahayanya tak padam,” ungkapnya penuh harap.

Arkadius Woda adalah cerminan guru dari pelosok, tetapi berpikir seluas globe. Pengabdiannya mengingatkan bahwa pendidikan sejati lahir dari hati, bukan dari dekrit.

Saat matahari terbenam di Maumere, Arkadius pulang dengan satu keyakinan: setiap muridnya adalah benih harapan untuk Indonesia yang lebih baik.

Namun, akankah minyak dari lentera itu terus diperhatikan oleh para pemegang tampuk kekuasaan? Semoga ia tak redup di tengah badai kebijakan pemerintah. [*]

Eustakius Kerbiyono Dagur Krisogonus Kusman
Previous ArticleSDI Leda Manfaatkan Lahan Tidur untuk Budi Daya Wortel, Siap Suplai ke Dapur MBG
Next Article Refleksi Teologi terhadap Kehadiran Geothermal di Flores

Related Posts

Tanah Ulayat, Identitas, dan Derita Sosial

6 Maret 2026

Cerdas Digital Saja Tidak Cukup: Haruskah Psikologi Jadi Pelajaran Wajib di Sekolah?

6 Maret 2026

Memburu “Hantu”, Memukul Manusia, dan Psikologi Sosial

6 Maret 2026
Terkini

Cerpen: Mata Tua di Tubuh Bayi Bole Wote

6 Maret 2026

Tanah Ulayat, Identitas, dan Derita Sosial

6 Maret 2026

Desa Golo Riwu Tetapkan APBDes Tahun Anggaran 2026, KMP dan MBG Jadi Fokus Utama

6 Maret 2026

Rote Ndao Siap Jadi Tuan Rumah Selancar Ombak PON 2028

6 Maret 2026

Polres Manggarai Limpahkan Dua Tersangka Kasus Narkotika ke Kejaksaan

6 Maret 2026
© 2026 VoxNTT
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.