Labuan Bajo, VoxNTT.com – Durian super premium terus dikembangkan di kebun Watu Mori Farm yang berlokasi di Dusun Melo, Liang Ndara, Kecamatan Mbeliling, Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur.
“Hari ini kita melanjutkan program penanaman pohon durian super premiun di kebun Watu Mori Farm, walau hujan kita tetap gaspul,” tulis Anggota DPR RI, Benny K. Harman melalui akun Facebook resminya.
Benny sendiri merupakan ayah kandung dari penggagas kebun Watu Mori Farm, Stevi Harman. Watu Mori Farm, sebuah kawasan agrowisata durian pertama di NTT. Jaraknya sekitar 10 kilometer dari Labuan Bajo, ibu kota Kabupaten Manggarai Barat.
Kebun ini menawarkan pengalaman unik, yakni pengunjung dapat memetik dan menikmati durian langsung dari pohonnya.
Perkebunan ini membentang di lahan seluas kurang lebih 25 hektare. Ribuan pohon durian tumbuh di antara bukit-bukit kecil, dengan buah yang tampak bergelantungan, mulai dari yang siap panen hingga yang masih berbunga.
Lanskap hijau dan udara pegunungan yang sejuk membuat kawasan ini menyerupai harmoni pedesaan yang tenang, lengkap dengan suara burung, serangga, serta hewan ternak seperti ayam, kambing, kuda, kerbau, babi, dan sapi.
Ketika memasuki area kebun, aroma khas durian langsung menyergap. Jalur berkelok yang mengitari perkebunan memperlihatkan panorama alam yang elok, ditambah kabut tipis yang menyelimuti perbukitan pada pagi hari.
Di siang hari, mentari terasa menyengat, namun suasana tetap sejuk berkat pepohonan yang rimbun.
Watu Mori Farm menyediakan sejumlah titik foto berlatar hamparan pohon durian, punggung gunung berkabut, dan pemandangan senja dari puncak bukit.
Pengunjung tidak dipungut biaya masuk, namun kunjungan dilakukan melalui tiga paket utama yang disediakan perkebunan.
Pertama, paket menikmati enam jenis durian premium langsung dari pohonnya. “Hanya di Kebun Watu Mori Farm para pengunjung akan merasakan sensasi melahap durian langsung dari pohonnya,” demikian konsep yang ditawarkan pengelola.
Varietas yang tersedia antara lain musang king, bawor, monthong, namlung, super tembaga, dan ochee.
Kedua, menikmati makanan di Resto Say Se’i di pusat Kota Labuan Bajo. Restoran ini menyajikan hidangan se’i, daging asap khas NTT, dengan bahan produksi langsung dari kebun. Tautan petunjuk lokasi disediakan oleh pihak pengelola.
Ketiga, fasilitas menginap di Hotel Parlezo, yang juga berada di pusat kota. Hotel ini disiapkan untuk pengunjung Watu Mori Farm yang ingin menikmati wisata Labuan Bajo secara lengkap.
Selain agrowisata durian, kebun ini juga melayani kebutuhan hewan ternak seperti kambing, babi, dan ayam. Pengunjung yang membutuhkan dapat melihat langsung ternak di kandang yang telah disediakan.
Perjalanan menuju Watu Mori Farm dapat ditempuh sekitar 15–20 menit dari Labuan Bajo menggunakan motor atau mobil.
Pengelola menyebut musim panen berlangsung pada Oktober hingga Maret, periode terbaik menikmati durian premium sambil bersantai bersama keluarga, pasangan, atau sahabat.
Penggagas, Stevi Harman berkomitmen mengembangkan pertanian holistik yang berkelanjutan dan berdampak bagi generasi muda.
Dengan visi “Terwujudnya perusahaan pertanian yang terintegrasi”, Watu Mori Farm menjadi pelopor pertanian ekologis di wilayah tersebut.
Fokus pengembangan tidak hanya pada produksi pertanian, melainkan juga peternakan dan perikanan.
Pengelolaan kebun turut mendorong pengembangan sumber daya manusia, membuka lapangan kerja bagi generasi muda NTT, menyediakan ruang praktik kerja lapangan (PKL), serta mendukung perekonomian petani sekitar.
Dalam sektor peternakan, hasil ternak dimanfaatkan bukan hanya sebagai sumber daging, tetapi juga untuk pembuatan pupuk kompos, yang ikut melestarikan metode pertanian tradisional masyarakat lokal.
Watu Mori Farm kini menjelma menjadi destinasi wisata sekaligus model praktik pertanian berkelanjutan di NTT. [VoN]

