Close Menu
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
Facebook X (Twitter) Instagram
VoxNtt.comVoxNtt.com
Facebook X (Twitter) Instagram
Subscribe
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
VoxNtt.comVoxNtt.com
Home»Gagasan»Pendidikan Karakter bagi Remaja di Lingkungan Sekolah pada Era Modern
Gagasan

Pendidikan Karakter bagi Remaja di Lingkungan Sekolah pada Era Modern

By Redaksi28 Januari 20264 Mins Read
Facebook Twitter WhatsApp Telegram
Atriyanti Dirsa Taopan
Share
Facebook Twitter Pinterest Telegram WhatsApp

Oleh: Atriyanti Dirsa Taopan

Peserta didik SMA katolik St. Josef Freinademetz- Tambolaka, Sumba Barat Daya

Pendidikan karakter adalah aspek utama dan fondasi utama dalam kehidupan sehari-hari, bahkan telah dimulai pada kehidupan berkeluarga sejak dini.

Apa pentingnya menanamkan karakter yang baik bagi remaja?

Di era modern ini, banyak anak remaja yang telah mengetahui tentang penggunaan ponsel genggam bahkan mengetahui banyak informasi terkait segala perubahan yang ada, sehingga mempengaruhi bagaimana cara remaja itu untuk berpikir.

Karakter remaja telah dibentuk sejak lahir dari ajaran keluarga kecilnya namun pengajaran karakter oleh keluarga belum tentu menjamin perkembangan karakter dan pemikiran yang baik pada remaja.

Oleh sebab itu dibutuhkan pendidikan karakter yang mendalam bagi anak-anak terkhususnya bagi anak remaja tahap menengah (usia 12-15 tahun) dan anak remaja tahap akhir (usia 15-17 tahun), agar tidak terjadi ketimpangan di dalam masyarakat di kemudian hari.

Bagi saya pendidikan karakter itu bukan hanya diperjuangkan di keluarga masing-masing namun juga di sekolah.

Pendidikan karakter juga penting bukan hanya untuk kepentingan sang remaja itu sendiri namun juga untuk menjaga kedamaian dan kerukunan di dalam masyarakat.

Terkadang suatu masalah itu sering muncul dikarenakan tindakan atau sikap yang tak pantas dari anak remaja.

Oleh sebab itu dibutuhkan pendidikan karakter yang mendalam bagi remaja terkhususnya bagi anak SMP dan SMA/SMK, karena sebelum turun dalam masyarakat untuk berinteraksi, sekolah juga memiliki peran penting dalam mendidik karakter siswa.

Sering kali kita melihat bahwa sebuah masalah selalu muncul di lingkungan sekolah, bahkan sampai menghilangkan nyawa.

Sebagai seorang siswa, saya juga menyadari akan hal tersebut, dengan kurangnya pendidikan karakter bagi anak remaja sangatlah berpengaruh pada interaksi di sekolah.

Fakta bahkan menunjukan bahwa karakter siswa yang buruk di sekolah dapat mengakibatkan percecokan antara guru atau bahkan dengan teman sebayanya.

Berdasarkan data yang ada, seorang siswa di SMAN 1 Sinjai (Sulawesi Selatan) bahkan berani memukuli guru lantas tak menerima ia ditegur karena sering bolos sekolah, sebagai sanksinya sang guru menyita tasnya dan dikembalikan dalam keadaan rusak.

Dari sudut pandang saya, guru memang memiliki niat yang baik untuk menegur siswa agar tak bolos sekolah lagi.

Namun di sisi lain dengan merusak barang pribadi seseorang memang dapat meningkatkan emosi yang tak tertahan apalagi benda tersebut adalah barang favoritnya.

Namun siswa tersebut juga salah dalam bertindak yang langsung memukuli sang guru ketika berada dalam ruang Bimbingan Konseling (BK).

Dari kasus ini kita dapat melihat bahwa ternyata sikap menghargai, mendengarkan, kesabaran dan sikap pengendalian diri sang siswa belum tertanam baik dalam diri sang remaja.

Bukan hanya kasus tersebut, ada pula beberapa tindakan remaja yang bahkan dapat menimbulkan hilangnya nyawa seseorang.

Seperti tindakan perundungan yang terjadi di SMPN 19 Tanggerang Selatan (Tangsel), Banten, diketahui bahwa anak remaja berinisial MH mendapatkan perundungan saat masih menjelang MPLS hingga terus berlanjut, yang pada akhirnya mengakibatkan luka secara fisik dan psikologi bagi sang korban.

Karena tindakan bullying tersebut MH mengalami penurunan badan yang drastis. Kakak MH berkata bahwa aksi perundungan sering terjadi beberapa kali semenjak awal masuk sekolah hingga pada puncaknya pada tanggal 20 oktober 2025 MH di pukul menggunakan bangku sehingga mengharuskan ia untuk dirawat di rumah sakit.

Setelah sepekan kemudian sang korban dinyatakan telah meninggal dunia. Pada akhirnya hasil medis menunjukan bahwa sang korban meninggal akibat tumor otak dan tidak ada kaitan langsung dengan tindakan bullying.

Walaupun hasil akhir menunjukan tidak ada kaitan dengan tindakan perundungan, namun bagi saya tindakan tersebut juga mempengaruhi kinerja otak sehingga mengakibatkan stres kronis dan memperlambat saraf-saraf korban untuk kembali beroperasi dengan normal hingga pada akhirnya korban dinyatakan meninggal dunia.

Dari dua kasus di atas saya dapat mengambil kesimpulan bahwa kurangnya pendidikan karakter bagi anak remaja di lingkungan sekolah sering kali mengakibatkan masalah yang fatal.

Oleh sebab itu sekolah dan orang tua harus berkerjasama untuk memberikan edukasi karakter bagi remaja.

Edukasi karakter bagi remaja adalah proses menanamkan nilai-nilai moral seperti sopan santun, menghargai, kejujuran, empati terhadap sesama, berani, sikap tanggung jawab, percaya diri dan bersikap bijak dalam mengambil tindakan.

Dengan demikian untuk menerapkan edukasi karakter bagi remaja orang tua dan para pendidik memiliki peran penting untuk membangun karakter remaja pada era sekarang dengan cara orang tua bisa menjadi teladan dalam bertindak dan menunjukan emosi yang dapat dikendalikan bagi anak mereka.

Sekolah juga dapat mengambil peran dalam mendidik karakter bagi remaja yaitu dengan mengadakan sosialisasi karakter bagi siswa dan mengawasi tindakan setiap siswa di lingkungan sekolah.

Bisa disimpulkan bahwa pendidikan karakter itu memang penting bagi semua orang terutama bagi anak remaja yang emosinya terbilang belum stabil/matang.

Pendidikan karakter yang di terapkan juga harus konsisten di lingkungan keluarga dan sekolah agar dapat membantu remaja menghadapi berbagai tantangan perkembangan serta mencegah perilaku yang menyimpang dari moral.

Oleh karena itu pendidikan karakter perlu terus dikembangkan sebagai fondasi utama dalam menghadirkan generasi muda yang berakhlak mulia, berintegrasi, dan siap berkontribusi positif bagi masyarakat dan negara.

Atriyanti Dirsa Taopan SMA Katolik St. Josef Freinademetz SMA Katolik St. Josef Freinademetz Tambolaka
Previous ArticleMelki Laka Lena Resmikan NTT Mart ke-18 di Manggarai, Dorong UMKM Lebih Produktif
Next Article Serapan APBN di Manggarai Raya dan Ngada Capai 95,94 Persen hingga Akhir 2025

Related Posts

Cerdas Digital Saja Tidak Cukup: Haruskah Psikologi Jadi Pelajaran Wajib di Sekolah?

6 Maret 2026

Memburu “Hantu”, Memukul Manusia, dan Psikologi Sosial

6 Maret 2026

Pastor Sumber Ajaran Moral, Jangan Bela Pelaku TPPO

4 Maret 2026
Terkini

Pengkab Taekwondo Sumba Barat Daya Dukung Ridwan Angsar Jadi Ketua Pengprov TI NTT

6 Maret 2026

Nama Wakil Ketua DPRD NTT Dicatut dalam Dugaan Penipuan Lowongan Kerja, Ratusan Orang Mengaku Jadi Korban

6 Maret 2026

Golkar NTT Umumkan Pengurus Baru 2025–2030, Targetkan Musda Kabupaten Rampung April

6 Maret 2026

Cerdas Digital Saja Tidak Cukup: Haruskah Psikologi Jadi Pelajaran Wajib di Sekolah?

6 Maret 2026

Rumah Harapan untuk Regina Uner di Cibal Barat Rampung 100 Persen

6 Maret 2026
© 2026 VoxNTT
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.