Oleh: Florentina Ina Wai
Staf Publikasi dan Jurnal Ilmiah Stipar Ende
Dusun Sawasina, Ngada, Nusa Tenggara Timur, mendadak menjadi cermin retak bagi wajah peradaban kita.
Di sana, YBS, seorang bocah berusia sepuluh tahun, ditemukan mengakhiri hidupnya di dahan pohon cengkeh pada akhir Januari 2026. Ia pergi bukan karena amarah, melainkan karena kelelahan eksistensial yang melampaui usianya.
Alasannya terasa sangat “sepele” bagi kelas menengah kota, namun mematikan bagi mereka di akar rumput. Ia tak mampu membeli buku dan pena.
Melalui sepucuk surat dalam bahasa Ngada, ia meminta ibunya untuk tidak menangis. Pesan “dewasa” ini adalah lonceng kematian bagi nurani bangs. Sebuah bukti bahwa di Republik ini, harga sebatang pena ternyata bisa lebih mahal daripada harga sebuah nyawa.
Tragedi ini menuntut kita membedah anatomi psikologis yang sering kali disederhanakan sebagai dampak kemiskinan materi belaka. Secara psikologis, YBS mengalami apa yang disebut sebagai ‘social death’ (kematian sosial) jauh sebelum kematian fisiknya terjadi.
Dalam teori psikologi individual Alfred Adler, penggerak utama manusia adalah perjuangan dari perasaan inferior menuju kebermaknaan. Bagi seorang anak, sekolah adalah panggung validasi sosial utama.
Ketika YBS tidak mampu memiliki buku dan pena, ia kehilangan “tiket” untuk merasa setara. Pena itu punya makna lebih dari alat tulis.
Ia adalah simbol identitas. Tanpa itu, ia merasa “telanjang” dan terasing di ruang kelasnya sendiri.
Usia YBS 10 tahun. Itu berarti YBS berada dalam tahap ‘Industry vs. Inferiority’ (Produktivitas vs. Rasa Rendah Diri) sebagaimana dirumuskan Erik Erikson.
Ketiadaan alat tulis memaksa YBS gagal dalam tahap ini secara sistemik. Ia tidak hanya merasa miskin.
Ia juga merasa tidak kompeten untuk menjadi manusia yang berfungsi. Tindakannya mencerminkan ‘altruistic suicide’ dalam kacamata Emile Durkheim.
Sebuah pengorbanan tragis karena ia merasa kehadirannya adalah “biaya” yang memberatkan ibunya.
Ia memilih meniadakan diri demi “menyelamatkan” ekonomi keluarga; sebuah manifestasi cinta yang salah arah akibat tekanan struktural.
Dari sudut pandang ekonomi manajemen SDM, tragedi Ngada menyingkap cacat logika dalam manajemen anggaran nasional yang saya sebut sebagai ‘Paradoks Input’.
Pemerintah saat ini tengah terobsesi pada program Makan Bergizi Gratis (MBG) sebagai investasi kualitas fisik.
Namun, memprioritaskan asupan gizi (hardware) sembari mengabaikan “alat produksi” intelektual (software) adalah sebuah inefisiensi yang nyata.
Merujuk pada ‘Human Capital Theory’ dari Gary Becker, gizi yang baik tanpa sarana pendukung pendidikan hanya akan melahirkan modal manusia yang pincang.
Investasi gizi menjadi sia-sia jika akses operasional pendidikan tidak dijamin. Kita sedang membangun “mesin” fisik yang kuat, namun lupa memberikan bahan bakar untuk menggerakkan akal budinya.
Sangat ironis ketika negara sanggup mensubsidi piring makan setiap hari, namun gagal menyediakan modal kerja (alat tulis) yang harganya tidak sampai satu persen dari anggaran makan tahunan seorang anak.
Meminjam kegelisahan Rocky Gerung, peristiwa ini adalah runtuhnya narasi kebesaran bangsa. Kita bertumbuh sebagai “makhluk ekonomi” yang mengejar angka statistik, namun kehilangan empati sebagai “warga negara”.
Sebagai solusi, kita mendesak perubahan paradigma: dari pendidikan gratis yang bersifat seremonial menjadi ‘Pendidikan Gratis Radikal’.
Di wilayah kemiskinan ekstrem (3T), bantuan tidak boleh lagi bersifat ‘demand-based’ (berdasarkan permintaan) yang mengharuskan si miskin “mengaku miskin” dan menghancurkan harga diri mereka.
Kebijakan ini harus beralih menjadi ‘Automated Provision’. Logistik pendidikan seperti buku dan pena harus tersedia secara otomatis di setiap meja kelas setiap semester tanpa siswa harus meminta.
Manajemen otomatis ini akan menghapus stigma kemiskinan dan memberikan keamanan psikologis bagi anak untuk tetap berani bermimpi.
Pada akhirnya, tragedi di Naruwolo memberikan pelajaran pahit: piring makan yang penuh tidak akan pernah bisa menyelamatkan jiwa yang kehilangan harapan.
Kematian YBS adalah peringatan agar pemerintah tidak hanya sibuk menghitung kalori, tetapi juga mulai menghitung “statistik keputusasaan” anak-anak di tepian negeri.
Jangan biarkan anak-anak kita tumbuh dengan fisik yang kuat karena makanan gratis, namun dengan mental yang hancur karena tak sanggup membeli sebatang pena.
Kita harus berjanji pada nisan YBS bahwa tidak akan ada lagi anak yang harus memilih antara sekolah atau mati.
Di dahan cengkih itu, nurani bangsa sedang diuji: apakah kita akan terus berhitung angka, atau mulai menyentuh jiwa?

