(Pekan V, Masa Biasa Tahun A; Rabu, 10 Februari 2026; 1 Raj 10:1-10; Mzm 37:5-6.30-31.39-40; Mrk 7: 14-23)
Oleh: Rm. Inosensius Sutam
1
Bacaan hari ini (1 Raj 10:1-10; Mrk 7: 14-23) mengajak kita untuk menumbuhkan benih kebijaksanaan dalam hati, jiwa, dan roh kita. Seperti benih, kita harus memasuki tanah, berakar ke bawah, dan bertumbuh dari dalam tanan. Semakin berakar, semakin mendalam, semakin bertumbuh, bertunas, berdaun, berbunga, dan berbuah. Itulah spiritualitas hidup sebuah pohon kehidupan.
2
Salamo dalam bacaan pertama (1 Raj 10:1-10) berakar dan bertumbuh dalam kebijaksanaan. Sehingga ia kerindangan daunnya, semerbak bunganya, dan kepadatan buahnya dilihat banyak orang termasuk Ratu Negeri Syeba. Karena kedalaman akar kehidupan maka ia dapat menjawab semua pertanyaan sang ratu. Sang Ratu pun memuji kebijaksanaannya yang dinilainya lebih besar dari yang didengarnya. Sang Ratu pun memberinya hadiah: emas, permata, dan rempah-rempah. Itulah buah dari pohon kebijaksanaan.
3
Dalam bacaan Injil (Mrk 7: 14-23), Yesus Kristus menandaskan bukan apa yang masuk ke dalam tubuh/mulut kita yang menajiskan kita tetapi apa yang keluar dari dalam diri kita. Makanan dan minuman tidak dapat menajiskan kita. Sebaliknya hati, jiwa, roh, pikiran kitalah yang menyebabkan kenajisan. Benih kenajisan bisa tumbuh dalam hati kita: benci, dendam, irihati, curiga, dll. Semua itu bisa merendahkan bahkan menghilangkan kualitas kemanusiaan kita.
4
Kedua bacaan hari ini mengajak kita untuk:
Pertama, menjadi diri sendiri. Setiap kita unik dan tak tergantikan. Untuk itu masuklah ke dalam diri kita sendiri. Memeriksa hati, batin, jiwa, dan roh. Agar hidup itu berakar dalam spiritualitas yang benar, sehingga ia bisa bertumbuh dalam jalan moral yang benar.
5
Kedua, jika semua yang keluar dari diri kita tumbuh dari hati yang bening, jiwa yang bening, pikiran jernih, dan roh yang jujur, maka semuanya pasti berbuah. Walaupun menyakitkan banyak orang. Apa yang datang dari luar, yang dikenakan oleh orang panah kita sebagai fitnah, penggiringan opini negatif, dll. tentang kita, tidak akan menghancurkan hidup kita. Fakta hidup kita, ada pada diri kita sendiri, bukan pada orang yang tidak menghidupinya.
6
Marilah mengendapkan hal-hal baik pada diri kita supaya diri kita bisa berakar dalam kesucian, dan bertumbuh dari dalam kebaikan moral, dan berbuahkan keindahan hidup.

