Close Menu
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
Facebook X (Twitter) Instagram
VoxNtt.comVoxNtt.com
Facebook X (Twitter) Instagram
Subscribe
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
VoxNtt.comVoxNtt.com
Home»Feature»Lansia di Kupang Bertahan Hidup Bersama Anak 6 Tahun, Berharap Uluran Tangan
Feature

Lansia di Kupang Bertahan Hidup Bersama Anak 6 Tahun, Berharap Uluran Tangan

By Redaksi9 Maret 20264 Mins Read
Facebook Twitter WhatsApp Telegram
Lansia di Kupang Bertahan Hidup Bersama Anak 6 Tahun, Berharap Uluran Tangan
Bundi Santoso bersama anaknya (kiri) dan mahasiswa Stikes Maranatha saat merawat dan membersihkan Budi (kanan) (Foto: HO)
Share
Facebook Twitter Pinterest Telegram WhatsApp

Kupang, VoxNTT.com – Budi Santoso, seorang lanjut usia (lansia) di Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur, kini harus menjalani hari-harinya dalam kondisi sakit stroke tanpa perawatan yang memadai. Hidupnya bahkan bergantung pada anak perempuannya yang baru berusia enam tahun.

Di sebuah kamar kos sederhana di belakang Pasar Oebobo, Kelurahan Fatululi, Budi tinggal bersama anaknya, Lusi Hartati. Di usia yang seharusnya diisi dengan bermain dan belajar, Lusi justru harus mengurus ayahnya seorang diri.

Saat ditemui di kamar kos tersebut belum lama ini, kepolosan Lusi terlihat jelas. Ia tampak setia mendampingi sang ayah yang terbaring sakit.

Kondisi kamar kos yang mereka tempati juga memprihatinkan. Ruangan itu tampak tidak terurus, dengan bau tidak sedap yang tercium hingga ke luar kamar. Situasi tersebut terjadi karena tidak ada orang lain yang merawat Budi selain anak kecil itu.

Dengan suara terbata-bata dan penuh kesedihan, Budi mengisahkan perjalanan hidupnya sejak ditinggalkan istrinya lima tahun lalu. Sejak saat itu, ia mengasuh Lusi seorang diri.

Namun nasib malang menimpanya. Sekitar lima bulan lalu, pria yang sehari-hari bekerja sebagai tukang servis elektronik dan buruh bangunan itu terserang stroke.

Budi diketahui merupakan perantau dari Pulau Jawa yang telah tinggal di Kota Kupang selama 15 tahun.

Dengan mata berkaca-kaca, ia mengaku kini hanya bergantung pada putrinya.

“Hanya anak ini yang bisa bantu saya, dia tidak sekolah, hidup saya bergantung padanya,” ujarnya.

Bagi Budi, Lusi adalah malaikat penolong dalam hidupnya saat ini. Untuk makan sehari-hari dan membayar biaya kos sebesar enam ratus ribu rupiah setiap bulan, ia hanya mengandalkan bantuan dari tetangga dan warga yang berbelas kasih.

Budi pun berharap ada perhatian dari pemerintah maupun para dermawan agar ia bisa mendapatkan pengobatan dan anaknya dapat bersekolah.

“Saya mohon bantuan dari pemerintah, dan bapak ibu yang bisa membantu, saya tidak bisa apa-apa lagi,” katanya berharap.

“Saya berusaha agar bisa sembuh, agar dapat bekerja menyekolahkan anak saya.”

Harapan serupa juga diungkapkan Lusi. Dengan polos, ia mengaku ingin bersekolah dan bermain bersama teman-temannya, namun ia ingin ayahnya sembuh terlebih dahulu.

“Beta (saya) juga mau sekolah dan main bersama teman – teman pak, tetapi setelah Bapa sembuh baru Beta (Saya) pergi sekolah,” ungkapnya dengan penuh kejujuran.

Dikunjungi Mahasiswa dan Petugas Sosial

Pada hari yang sama, Budi Santoso mendapat kunjungan dari mahasiswa Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (Stikes) Maranatha Kupang program studi Ners serta seorang staf dari UPTD Kesejahteraan Sosial Lansia Budi Agung Dinas Sosial Provinsi NTT.

Jefri Jap, staf Panti Lansia Budi Agung Kupang, mengatakan, kunjungan tersebut merupakan bagian dari kegiatan sosial bersama mahasiswa yang sedang menjalani praktik keperawatan gerontik.

“Ketika mendapat informasi dari masyarakat, hari ini saya bersama mahasiswa yang melakukan praktik keperawatan gerontik di UPTD Kesos,” kata Jefri.

Menurut dia, kegiatan tersebut merupakan bagian dari program penjangkauan lansia non-potensial di luar panti yang membutuhkan pelayanan, termasuk lansia terlantar seperti Budi.

Ia menjelaskan ada tiga bentuk bantuan utama yang diberikan dalam kegiatan tersebut.

Pertama adalah santunan sosial berupa sembako, sabun mandi, pakaian, serta bantuan uang secukupnya.

Kedua adalah pelayanan kesehatan yang melibatkan mahasiswa keperawatan.

Jefri menilai konsep social health worker penting untuk menanamkan nilai kemanusiaan dalam diri mahasiswa kesehatan agar lebih peka terhadap masyarakat yang terlantar.

“Ini menjadi barang langka, sehat itu mahal maka implikasinya adalah biaya kesehatan menjadi mahal tidak terjangkau oleh masyarakat,” ujanrya.

Ia menambahkan kegiatan sosial di luar panti seperti ini dilakukan tanpa anggaran pemerintah. Bantuan biasanya berasal dari pihak ketiga yang peduli terhadap kondisi lansia terlantar di masyarakat.

Belum Bisa Dirawat di Panti Lansia

Menanggapi pertanyaan mengapa Budi Santoso belum dibawa ke Panti Lansia Budi Agung, Jefri menjelaskan, ada keterbatasan fasilitas serta kriteria penerima manfaat di panti tersebut.

Menurut dia, hingga saat ini panti belum memiliki fasilitas memadai untuk merawat lansia dengan keterbatasan mobilitas berat seperti yang dialami Budi.

Karena itu, terdapat proses seleksi bagi lansia yang dapat diterima di panti.

Jefri berharap ke depan fasilitas serta sumber daya manusia di Panti Budi Agung Kupang dapat ditingkatkan agar mampu melayani lansia non-potensial dengan kondisi ekstrem.

Berdasarkan data yang ia miliki, di Kota Kupang masih terdapat lebih dari 50 lansia terlantar.

Sementara itu, perwakilan mahasiswa Stikes Maranatha Kupang, Krisanta Cantika Runesi berkata, kegiatan tersebut merupakan bagian dari praktik personal hygiene bagi pasien lansia.

“Saya dan teman-teman yang sedang melaksanakan praktek Gerontik, meliputi personal hygiene atau memandikan pasien, observasi tanda – tanda vital serta bedah kamar pasien diluar panti saya merasa bersyukur dan bangga bisa membantu pasien seperti ini, saya juga berharap pasien ini segera di bantu agar bisa diurus kesehatannya,” kata Cantika.

Mahasiswa juga membersihkan kamar serta membantu merawat Budi selama kunjungan berlangsung.

Pantauan VoxNtt.com, Budi Santoso tampak menikmati pelayanan yang diberikan para mahasiswa Stikes Maranatha Kupang dengan penuh kasih.

Penulis: Ronis Natom

Bundi Santoso Kelurahan Fatululi Kota Kupang Pasar Oebobo Pemkot Kupang STIKES Maranatha Kupang
Previous ArticleRasio yang Terpenjara dalam Viralitas: Kritik Kantian atas Kemunduran Sapere Aude
Next Article Pohon Tumbang Tewaskan Pengendara di Jalan Trans Flores Ruteng–Borong

Related Posts

Penyidik Polresta Kupang Dinilai Tak Berani Periksa Tim SPPG Polda NTT

3 Maret 2026

Perumda Air Minum Kota Kupang Luncurkan Promo Sambungan Baru dan Website Resmi Jelang HUT ke-17

2 Maret 2026

Perjuangan Mama Sebina: Bertahan Hidup, Sekolahkan Anak di Tengah Kemiskinan Manggarai Timur

25 Februari 2026
Terkini

Penyuluh KB Tewas Tertimpa Pohon Tumbang saat Berangkat Kerja, Bupati Manggarai Sampaikan Belasungkawa

9 Maret 2026

Polsek Amarasi Timur Pantau Korban Banjir Bandang di Desa Oebesi

9 Maret 2026

Fraksi Gerindra DPRD Ngada Desak Buka Jalur Dialog soal Pelantikan Sekda

9 Maret 2026

Angin Kencang Rusak Tiga Ruang Kelas SDI Ra’ong di Golo Mori

9 Maret 2026

Pohon Tumbang Tewaskan Pengendara di Jalan Trans Flores Ruteng–Borong

9 Maret 2026
© 2026 VoxNTT
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.