Oleh: Melki Deni, S. Fil
Sedang Studi Teologi di Universidad Pontificia Comillas, Madrid, Spanyol
Manusia modern tidak sedang kehilangan Tuhan atau kebenaran, tetapi kehilangan kemampuan paling dasar untuk hadir sepenuhnya dalam diri sendiri dan memberikan perhatian. Kondisi ini menyebabkan manusia berada di persimpangan antara pembangunan martabat sejati atau penghancuran diri melalui teknologi (autoeksploitasi). Tesis dasar tulisan ini adalah runtuhnya perhatian manusia modern telah runtuh sebagai kemampuan eksistensial untuk hadir, yang sekaligus mengganggu cara manusia memahami makna.
Paus Leo XIV menggunakan dua citra alkitabiah untuk menggambarkan kondisi teknologi saat ini: Menara Babel (Kej 11:1-9) dan pembangunan kembali tembok Yerusalem oleh Nehemia (Neh 1-6). AI dan media sosial bekerja dalam logika Babel, yakni ambisi keterhubungan total yang justru menghasilkan keterasingan (Paus Leo XIV, Magnifica Humanitas, Kota Vatikan: Librería Editrice Vaticana, 2026, no. 7-10).
Dalam pandangan Paus Leo XIV, teknologi digital saat ini telah menciptakan “paradigma teknokratis” yang cenderung mereduksi manusia menjadi sekadar data. Hal ini tentu menciptakan risiko teknofasisme terselubung, di mana kontrol sosial dilakukan bukan melalui kekerasan fisik, melainkan manipulasi algoritma dan pengawasan yang tak terlihat (Paus Leo XIV, Magnifica Humanitas, no. 102). Grondin mengingatkan bahwa kesadaran manusia selalu sudah berada dalam horizon makna; kita tidak pernah netral terhadap dunia, tetapi seallaui memahami dan menilainya(Jean Grondin, Del sentido de las cosas, Barcelona: Herder Editorial, 2018, hlm. 45).
Kebenaran bukan sekadar informasi yang benar secara faktual, melainkan sebuah kebutuhan jiwa yang paling kudus. Bagi Weil, kebenaran bukan sekadar informasi, melainkan kebutuhan spiritual paling dasar manusia (Simone Weil, Echar raíces, Madrid: Editorial Trotta, 1996, hlm. 48). Dalam konteks AI, Paus Leo XIV melihat kebenaran adalah “kebaikan bersama”. Demokrasi terancam ketika warga negara tidak lagi mampu membedakan antara fakta dan fiksi karena manipulasi algoritmik. Teknofasisme muncul ketika kebenaran dianggap sebagai teritori yang harus dikuasai untuk kepentingan kekuasaan politik, bukan sebagai pijar cahaya yang memerdekakkan. Kebenaran adalah adaequatio (kesesuaian) antara intelek dan realitas benda.
AI hanya dapat mensimulasikan kecerdasan, tetapi tidak pernah memiliki akses pada kebenaran sebagai pengalaman hidup. Grondin menulis, “pengetahuan yang mengaku benar ‘mengarahkan diri’ menuju realitas, dasarnnya, dan berupaya keras untuk mencapainya” (Jean Grondin, Del sentido de las cosas, Barcelona: Herder Editorial, 2018, hlm. 152).
Dan untuk melawan budaya kekuasaan yang opresif, Paus Leo XIV mempromosikan “peradaban kasih” sebagai koreksi atas logika teknologis yang cenderung mengorbankan yang lemah. Dalam kaitan dengan persoalan kebenaran yang diproduksi dan direkayasa oleh AI dan media sosial ini, Paus Leo XIV menyerukan untuk “melucuti” kecerdasan buatan (Paus Leo XIV, Magnifica Humanitas, no.110).
Ini bukan berarti menolak teknologi, melainkan melepaskan dari logika kompetisi persenjataan, baik militer, ekonomi, maupun kognitif. AI tidak boleh menjadi instrumen dominasi dan kematian.
Tujuan tunggal keberadaan manusia, menurut Weil, adalah keterbukaan pada “pengorbanan” sebagai bentuk pelepasan ego demi sesama. (Simone Weil, Intuiciones precristianas, Madrid: Editorial Trotta, 2004, hlm. 189).
Kita berada di sini untuk belajar melepaskan ego kita agar cahaya Tuhan dapat menembus dunia melalui diri kita. Tujuan hidup kita adalah bagi sesama, terutama mereka yang menderita. Kita berada di sini untuk “menemukan kembali yang lain” yang telah diusir dari kecenderungan digital yang narsistik. Dalam logika digital, relasi manusia direduksi menjadi validasi instan yang memperkuat struktur dominasi halus (Byung-Chul Han, Psychopolitics: Neoliberalism and Technologies of Power, London: Verso, 2017, hlm. 13).
Di tengah kebisingan media sosial, keheningan menjadi perlawanan spiritual yang paling efektif. Weil memandang keheningan bukan sebagai kekosongan, melainkan sebagai kehadiran Allah yang paling murni. Hanya dalam keheningan manusia dapat melakukan disermen yang sejati. Keheningan, bagi Weil, bukan kekosongan, melainkan ruang hadirnya realitas yang paling intens (Simone Weil, Pensamientos desordenados, Madrid: Editorial Trotta, 1995, hlm. 89).
Weil mengaitkan mendengarkan dengan konsep “perhatian” (attention). Baginya, perhatian adalah bentuk doa tertinggi; orientasi penuh jiwa kepada realitas yang melampaui diri (Simone Weil, A la espera de Dios, Madrid: Editorial Trotta, 1996, hlm. 67). Doa sesungguhnya merupakan sekolah mendengarkan dan tempat melatih perhatian.
Tanpa kemampuan mendengarkan dan etika perhatian, pemeluk agama tidak dapat mendengarkan suara Tuhan, membaca Kitab Suci, merenungkan, dan memberikan testimoni atau kesaksian iman. Itulah keindahan iman. Iman adalah rahmat Allah yang berasal dari kerja sama antara disposisi batin, mendengarkan, dan perhatian.
Manusia, menurut Grondin, adalah makhluk yang selalaui melampaui dirinya dengan mengandaikan makna dalam hidupnya (Jean Grondin, Del sentido de la vida, Barcelona, Herder Editorial, 2005, hlm. 23). Kedagingan manusia, dengan segala kerapuhan, penuaan dan penderitaannya, adalah tempat inkarnasi Allah, tempat Allah menyatakan diri-Nya.
Perbedaan mendasar manusia da AI terletak pada kemampuan mengalami dunia sebagai penderitaan, cinta dan makna. Hidup manusia memiliki makna yang melampaui kalkulasi materialistik dan perintah algoritma. Memahami makna berarti menyadari bahwa kita adalah bagian dari tatanan yang lebih besar yang digerakkan oleh kasih dan perhatian.
Manusia sejati selalu mencari Allah, dan mengenal Firman-Nya. Di era di mana batas antara manusia dan mesin semakin kabur akibat narasi besar transhumanisme dan posthumanisme, kita dipanggil untuk mengukuhkan kembali martabat kemanusiaan yang agung. Paus Leo XIV, dalam diskursusnya di Plaza de Lima, Madrid, merumuskan lima orientasi etis yakni disermen, keheningan, mendengarkan, kebebesan batin, dan kembali pada kemanusiaan yang utuh.
Menurut Grondin, “hidup yang dirasakan ini, hidup yang bijaksana, yang memiliki rasa dan makna, adalah harapan luhur dari homo sapiens” (Jean Grondin, Ensayo sobre el sentido de la vida, hlm. 157). Menjadi manusia yang berdaging dan berdarah berarti mengakui kesakralan dalam setiap individu, suatu kesakralan yang menuntut rasa hormat tanpa syarat, kasih tanpa kepentingan pribadi, dan perhatian tanpa kriteria.
Kemanusiaan sejati ditemukan dalam kemampuan untuk menderita bersama sesama, dan memandang dunia sebagai cermin keindahan Ilahi (bdk. Roma 12: 9-21). Menjadi murid Kristus di era algoritma berarti memilih ketaatan pada kebenaran di atas kenyamanan arus informasi. Kebebasan sejati di sini bukanlah kemampuan untuk memilih apa pun tanpa batas, kesanggupan untuk tidak tunduk pada logika mesin, melainkan pada etika kasih yang lebih fundamental.
Manusia modern tidak kehilangan Tuhan dan kebenaran, tetapi kemerosotan kemampuan hadir dan memberikan perhatian secara utuh. Dalam arus teknologi digital yang bekerja seperti Babel, manusia direduksi menjadi data dan terjebak dalam ilusi keterhubungan yang justru melahirkan keterasingan. Kebenaran, yang seharusnya menjadi kebutuhan spiritual, kini dimanipulasi oleh logika algoritmik.
Melawannya, diperlukan peradaban kasih, keheningan, dan perhatian sebagai doa yang memulihkan makna hidup manusia. Menjadi manusi, dengan demikian, berarti kembali pada relasi, penderitaan, dan kasih sebagai dasar kebebasan sejati.

