Oleh: Melki Deni, S. Fil.
Sedang Studi Teologi di Universidad Pontificia Comillas, Madrid, Spanyol
Kita sedang berada dalam tegangan dialektis antara kemajuan teknologis yang eksponensial dan kerentanan ontologis yang mendalam. Pertanyaan mengenai alasan dasar keberadan kita, ─seperti mengapa kita ada di sini, untuk apa, dan untuk siapa─ menuntut sebuah refleksi yang melampaui sekadar efisiensi algoritma.
Melalui sintesis beberapa pemikiran filsuf dan Paus Leo XIV, kita menemukan bahwa kemanusiaan bukan sekadar data yang harus dioptimalkan atau disistematisasi, melainkan sebuah misteri yang harus dijaga melalui etika perhatian, pandangan penuh perhatian, dan dialog eksistensial terhadap kerapuhan sesama.
Lingkaran setan kerapuhan manusia─kemiskinan, penderitaan, dan kebodohan─yang begitu melekat dalam diri kita, seharunya membuat kita bertanya: apakah hanya saya yang paling miskin? Apakah hanya yang paling menderita? Apakah hanya saya yang paling bodoh?
Alasan dasar keberadaan manusia, menurut Jean Grondin, berakar pada fakta bahwa manusia adalah makhluk yang mencari makna secara konstitutif dan kontinu.
Dalam bukunya Ensayo sobre el sentido de la vida (Barcelona: Herder Editorial, S.L., 2005, hlm. 13), Grondin menyatakan bahwa “hidup tanpa pengujian diri tidak layani dijalani”. Kita berada di sini karena kita adalah subjek dan sekaligus objek di mana pertanyaan tentang makna hidup itu sendiri diajukan. Binatang, pohon, batu, dan Kecerdasan Buatan (AI) tidak mempersoalkan, merefleksikan apalagi menguji makna hidupnya.
Bagi Grondin, keberadaan kita memiliki arah menuju “Kebaikan” (the Good) yang melampaui kepentingan egoistik. Para pengemis, pemulung dan orang-orang yang dengan gangguan jiwa memiliki alasan untuk hidup; bukan sekadar mewujudkan pengharapan, melainkan melampauinya, yakni mengasihi tanpa tanda tanya.
Paus Leo XIV dalam ensikliknya Magnifica Humanitas (Città del Vaticano: Libreria Editrice Vaticana, 2026, no. 1) mempertegas ini dengan menyebut kemanusiaan sebagai “manusia yang agung” yang diciptakan Allah untuk selalu membangun kembali “Yerusalem” baru─sebuah kota persaudaraan─ tatakala manusia jatuh, dan bukan sibuk mendirikan “Menara Babel” digital yang justru memisahkan manusia dari wajah sesamanya, dan aroma kemanusiaan universal.
Kita berada di sini bukan hanya sebagai penonton pasif dari proses teknologi, melainkan sebagai kolaborator dalam karya penciptaan yang dipanggil untuk berefleksi secara kritis dan mengasihi dengan cuma-cuma.
Simon Weil, filsuf, dan mistikus Prancis abad lalu, melihat keberadaan kita sebagai tindakan “penarikan diri” Allah agar makhluk-Nya dapat ada. Bagaimana maksud dari kalimat ini? Dalam A la espera de Dios (Madrid: Editorial Trotta, S.a., 1996, hlm. 67), Weil menjelaskan bahwa “Allah adalah pada dasarnya kasih, sehingga persatuan… hanyalah efek dari kasih”.
Tujuan hidup kita, dari perspektif ini, adalah melakukan “deskreasi” (descreación), yaitu meruntuhkan pusat “aku” yang ilusif untuk membiarkan kasih Allah hadir melalui diri kita kepada sesama, dan dunia.
Pertanyaan mengapa kita (harus) menderita, sakit, dan miskin di tengah kemajuan teknologi dan ilmu pengetahuan, mendapatkan jawaban yang serius dari Byung-Chul Han. Han berpendapat bahwa penderitaan saat ini, seperti depresi dan burnout, merupakan hasil dari “masyarakat pencapaian” (performance society) yang memaksa individu mengeksploitasi diri sendiri atas nama kebebasan.
Dalam The Burnout Society (Fordford, California: Standford University Press, 2015, hlm. 11), Han menulis, “depresi adalah penyakit masyarakat yang menderita karena kelebihan positivitas”. Kita sakit saat ini bukan lagi karena penindasan eksternal, melainkan karena perang internal atau ekploitasi diri untuk terus menjadi yang lebih baik, lebih berprestasi, lebih untung, lebih kaya, leboh beruntung, yang berakhir pada “infark mental”.
Namun demikian, di beberapa tempat lain, penderitaan fisik masih dialami terutama dalam kasus pemerkosaan, pembegalan, perampokan, perampasan tanah, pembunuhan, peperangan, dll.
Bagi Weil, penderitaan fisik dan “kemalangan radikal” (desdicha) adalah sarana di mana realitas dunia menembus tubuh kita.
Ia menyatakan dalam Pensamintos desordenados (Madrid: Editorial Trotta, S.A., 1995, hlm 10), “setiap kali kita menderita, kita dapat mengatakan dengan jujur bahwa itu adalah alam semesta… yang masuk ke dalam tubuh kita”.
Penderitaan, dalam konsep ini, bukanlah kesalahan yang yang harus diperbaiki secara teknis, melainkan sebuah “pembuka” yang memungkinkan kita merasakan ketergantungan mutlak kita pada Allah.
Tampaknya konsep ini tentu sangat bertentengan dengan pemerkosaan, pembegalan, perampokan, perampasan tanah, pembunuhan, siksaan publik, genosida peperangan, yang justru menyengsarakan korban.
Saat menderita, korban tidak langsung mencari Allah, ya mungkin dia menyebut dan memanggil-memanggil nama Tuhannya, tetapi naluri kemanusiaannya secara spontan mencari jalan keluar, menghindar, berontak, atau melawan.
Dengan melihat kemajuan teknologi saat ini, Paus Leo XIV memperingatkan bahwa kemiskinan dan ketidakadilan sering kali dipertajam oleh “mentalitas teknokratis” yang menganggap manusia hanya sebagai sumber daya (data) yang harus dioptimalkan.
Dalam Magnifica Humanitas (no.172), Paus Leo XIV mencatat bahwa kerentanan manusia seperti penyakit, penuaan, dan kematian sering kali dianggap sebagai “cacat” daripada dilihat sebagai ruang untuk pendewasaan.
Kemiskinan saat ini, menurutnya, adalah jeritan global yang menuntuk tanggung jawab etis kita untuk “menyentuh daging” mereka yang menderita, bukan menekan tombol “suka”, “super” atau mengedit/ menyulap penderitaan orang lain sebagai data untuk konten di media sosial.
Hal-hal privasi di media sosial tidak lagi kunci jati diri, tetapi data yang tanpa malu dibagi-bagi. Kata-kata kehilangan gaibnya karena diungkapkan secara fulgar tanpa etika.
Cara berpakaian semakin transparan, dan sensual, karena sudah terjebak dalam algoritma pornografis: Siapa yang tampil telanjang, pasti disayang!
Penderitaan dan kemiskinan dinormalisasikan di media sosial di bawah rezim media neoliberal, struktural dan kebodohan manusia yang tidak menghargai identitas dan jati diri orang lain.
Ketika penderitaan dan kemiskinan dinormalisasi sebagai hal yang biasa-biasa saja, kebodohan dan ketidakpedulian global menjadi abadi. Sebaliknya kalau kebodohan dan ketidakpedulian dipelihara, dan dianggap sebagai hal yang layak dipelihara, penderitaan dan kemiskinan menjadi kekal.
Seperti yang terjadi berabad-abad, ada manusia digital yang begitu bangga melihat orang-orang berada dalam kesusahan, penderitaan, peperangan, diperkosa, dirampok, dibegal, diserang secara brutal, dibunuh, aborsi, dan bunuh diri. Orang-orang seperti ini menderita penyakit kehilangan perhatian dan kasih.
Josep Maria Esquriol dalam El respeto o la mirada atenta (Barcelona: Editorial Gedis, S.A., 2007, hlm. 51) memberikan metode praktis yakni respek. Ia menegaskan bahwa “intisari dari respek adalah tatapan penuh perhatian”.
Apa yang dapat kita lakukan adalah berhenti sejenak, melihat kembali, dan tidak mengabaikan fragilitas yang ada di sekitar kita. Ketidakpedulian adalah lawan dari respek; tanpa memandang (memberikan perhatian dengan penuh kasih), kita bahkan dapat “menginjak” keberadaan sesama kita.
Byung-Chul Han dalam La expulsión de lo distinto (Barcelona: Herder Editorial, S.L., 2017, hlm. 124) menambahkan bawa kita harus memulihkan kembali kemampuan untuk “mendengarkan”. Bagi Han, “mendengarkan memiliki dimensi politik… itu adalah partisipasi aktif dalam keberadaan orang lain”. Di dunia yang penuh dengan kebisingan digital, mendengarkan adalah tindakan etis yang memungkinkan komunitas terbentuk.
Mendengarkan berarti memberikan ruang dan waktu sepenuhnya, di mana ia mengisahkan semuanya tanpa mencela, menghakimi, mewasiti, apalagi menghinanya. Namun demikian, ketika semua orang ribut di ruang digital, tidak ada lagi yang mendengarkan, dan memang media sosial diciptakan untuk mengekspresikan dan meneriakkan semua yang ada di dalam kepala, tetapi tidak lagi melatih sikap mendengarkan dan etika perhatian.
Di media sosial: siapa menghormati siapa? Siapa mendengarkan siapa? Siapa peduli kepada siapa?
Weil, dalam Echar raíces (Madrid: Editorial Trotta, S.A., 1996, hlm. 24), menekankan bahwa satu-satunya kewajiban abadi kita terhadap sesama manusia adalah menghormati kebutuhan jiwa dan tubuh mereka, terutama kebutuhan akan “akar” atau pijakan dasar dalam hidupnya.
Kita mesti belajar memandang kemalangan orang lain tanpa berpaling, sebuah tindakan yang Weil sebut sebagai “perhatian kreatif” yang mampu menghidupkan kembali mereka yang telah dianggap “sampah” oleh masyarakat.
Weil menulis, “di bawah tekanan ketidakpedulian umum, setiap orang yang tidak beruntung berusaha─melalui dusta atau ketidaksadaran─untuk membuat dirinya sendiri menjadi tuli. Hanya operasi supranatural dari rahmat yang mampu membawa sebuah jiwa melewati pemusnahan dirinya sendiri, menuju ke tempat di mana jenis perhatian, tertentu dihimpun, sebuah perhatian yang, secara mandiri, memungkinkan seseorang untuk peka terhadap kebenaran dan kemalangan.
Perhatian itu adalah sama untuk kedua objek tersebut. Ini adalah sebuah perhatian yang intens, murni, tanpa motif, cuma-cuma, murah hat; dan perhatian ini adalah kasih.” (Simone Weil, Profesión de Fe. Antología y crítica, Narvarte, México, D.F.: Pleroma Ediciones, 2007, hlm. 41).
Untuk siapakah kita berada di sini? Grondin dalam Ensayo sobre el sentido de la vida (hlm. 141) menyimpulkan bahwa kita harus hidup seolah-olah hidup kita akan “diadili”, dan diuji terus-menerus. Hidup untuk orang lain adalah satu-satunya kesempatan untuk melampai fragilitas kita. Tanpa orang lain, fragilitas kita justru semakin akut, bahkan sampai kita meninggal sebelum ajal.
Grondin dalam Ensayo sobre el sentido de la vida (hlm. 154)menulis, “Makna hanya eksis di mana kita terperangkap, tertarik, dan diantarkan keluar dari diri kita sendiri.
Tidak ada kehidupan yang mampu mendasari dirinya sendiri. Ia berasal dari tempat lain dan napasnya terbatas. Kehidupan yang bermakna mentransendensikan dirinya sendiri karena ia memiliki kesadaran akan batas-batasnya, akan kefanaannya.
Kita tidak lebih dari sekadar sang waktu yang tidak kita kuasai. Apakah kita harus memanfaatkan momen untuk ‘merayakan’ dengan harapan dapat membahagiakan diri kita sendiri? Hal itu mustahil karena, tanpa adanya keabadian, kebahagiaan yang diproduksi, atau diproduksi secara mandiri, adalah sesuatu yang artifisial dan pahit.
Makna dari orang lain dan makna dari generasi mendatang—mereka yang akan bernapas setelah kita—adalah satu-satunya peluang kita. Keyakinan akan sebuah eksistensi dipertahankan didasarkan pada orang lain, pada kasih terhadap sesama.”
Keberadaan kita adalah kompas di tengah algoritma, yang mengingatkan kita bahwa kita lebih dari sekadar data; kita adalah hati tempat Tuhan ingin tinggal, dan melakukan misi-Nya. Kita dipanggil untuk “mempersenjatai diri dengan kemanusiaan” dengan menolak godaan transhumanisme dan posthumanisme yang ingin menghapus batas-batas kemanusiaan.
Misteri keindahan manusia tidak terletak pada bagaimana, sejauh mana dan berapa jumlah konten foto atau video telanjang, dan kata-kata fulgar di media sosial. Misteri keindaha manusia justru semakin agung, ketika ia tidak dipamerkan atau dijadikan sebagai data.
Hidup dengan penuh perhatian, menghormati yang rapuh, mendengarkan dengan penuh perhatian dan berani “menderita bersama” sesama adalah jawaban atas kebodohan dan kemiskinan batin zaman kita.
Manusia itu mesti dipandang sebagai makhluk misteri justru karena kerentanannya. Dan manusia adalah makhluk rentan, justru karena keindahannya. Misteri keindahan manusia menjadi bukti bahwa ada misteri lebih besar di balik keberadaan, dan kematiannya, yang darinya manusia berasal, sumber rahmat, dan tujuan keberadaannya di sini, yang kita sebut Allah.
Dengan demikian, mensyukuri misteri keindahan yang kita miliki ini, kita memuji dan memuliakan Allah bersama Samuel: “Siapakah aku ini, ya Tuhan Allah, dan siapakah keluargaku, sehingga Engkau membawa aku sampai sedemikian ini? Dan hal ini masih kurang di mata-Mu, ya Tuhan Allah; sebab itu Engkau telah berfirman juga tentang keluarga hamba-Mu ini dalam masa yang masih jauh dan telah memperlihatkan kepadaku serentetan manusia yang akan datang, ya Tuhan Allah.” (2 Samuel 7:18-19; 1 Tawarikh 17:16-17)

