Oleh: R.B. Thundang
Digital Strategist
Saya pulang.
Setelah sekian belas tahun di Jakarta — merantau, menjelajah citra dan impian yang dulunya hanya ada di sinetron — saya pulang ke Manggarai. Bukan karena gagal. Bukan pula karena rindu yang romantis. Saya pulang karena ada pertanyaan yang tidak bisa dijawab dari balik layar laptop di Rawamangun: apakah semua yang saya pelajari tentang teknologi ada gunanya untuk kampung saya sendiri?
Pertanyaan itu terdengar sederhana. Tapi coba Anda jawab sambil duduk di teras rumah, memandang sekian deret koker kemangi dan seledri di halaman yang terbatas, sementara di ponsel Anda Gemini sedang menjawab pertanyaan dalam 0,8 detik tentang cara mengoptimalkan kandungan makronutrien Pupuk Organik Cair. Ada jurang yang sangat lebar di sana. Dan jurang itu bukan soal teknologi. Jurang itu soal konteks.
Mari kita bicara jujur. Tanpa jargon seminar. Tanpa optimisme kosong.
Sejarah Singkat yang Perlu Kita Pahami
Kecerdasan buatan — atau yang sekarang semua orang panggil AI — bukan barang baru. Alan Turing sudah memikirkannya sejak 1950, ketika ia bertanya: bisakah mesin berpikir? Pertanyaan itu memicu puluhan tahun riset, dari laboratorium MIT hingga garasi-garasi Silicon Valley. Tapi selama hampir setengah abad, AI hanya hidup di jurnal akademis dan film fiksi ilmiah. Ia belum menyentuh kehidupan orang biasa.
Yang mengubah segalanya adalah tiga hal yang terjadi hampir bersamaan dalam dua dekade terakhir: ledakan data digital, kemampuan komputasi yang melonjak drastis, dan — ini yang paling penting — algoritma yang akhirnya cukup pintar untuk belajar sendiri dari data. Deep learning, mereka menyebutnya. Mesin yang bisa mengenali wajah, menerjemahkan bahasa, menulis puisi, dan menganalisis citra satelit — semua itu lahir dari satu terobosan: mesin tidak lagi diprogram untuk pintar, ia dilatih untuk pintar.
Lalu datanglah November 2022. ChatGPT diluncurkan. Dan tiba-tiba, AI bukan lagi urusan ilmuwan komputer. Tukang bakso di Glodok bisa minta ChatGPT membuatkan caption Instagram. Mahasiswa di Kupang bisa minta bantuan menyusun proposal skripsi. Ibu rumah tangga di Surabaya bisa bertanya resep masakan dalam bahasa Jawa.
Dalam waktu kurang dari dua tahun, AI bergerak dari laboratorium ke dapur.
Pertanyaannya sekarang: apakah ia sudah sampai ke dapur-dapur di Borong?
Di Mana Manggarai Timur Berdiri Hari Ini?
Saya ingin jujur. Karena kejujuran adalah satu-satunya fondasi yang layak untuk membangun apapun.
Manggarai Timur, per hari ini, belum siap untuk AI. Titik.
Bukan karena masyarakatnya bodoh — jauh dari itu. Orang Manggarai adalah salah satu komunitas paling cerdas dan adaptif yang pernah saya kenal. Mereka yang bisa bertahan hidup di tanah vulkanik yang keras, mengembangkan sistem pertanian lingko yang jenius, dan membangun jaringan diaspora yang kuat dari Papua sampai Eropa — mereka tidak punya masalah dengan kecerdasan.
Masalahnya ada di infrastruktur. Dan ini bukan masalah kecil.
Sinyal internet di banyak kecamatan di Manggarai Timur masih tidak stabil. Saya bicara dari pengalaman langsung: minggu lalu saya mencoba mengunggah satu foto dari sekitaran Poco Ranaka ke Instagram, dan butuh empat belas menit. Empat belas menit untuk satu foto. Di Jakarta, waktu itu cukup untuk meeting virtual dengan tiga zona waktu berbeda.
Data BPS NTT menunjukkan penetrasi internet di provinsi ini masih di kisaran 35-40 persen — jauh di bawah rata-rata nasional yang sudah melewati 70 persen. Dan itu data provinsi. Untuk kabupaten seperti Manggarai Timur, angkanya bisa lebih rendah lagi, terutama di desa-desa yang jauh dari Borong.
Listrik? Masih sering padam. Ketika listrik padam, internet ikut mati. Ketika internet mati, AI hanyalah singkatan dua huruf yang tidak berarti apa-apa.
Lalu ada masalah literasi digital. Banyak warga — terutama generasi yang lebih tua — masih menggunakan smartphone hanya untuk telepon dan WhatsApp. Mereka belum tahu bahwa ponsel yang sama bisa digunakan untuk mengecek harga kopi real-time di pasar global, mengakses informasi pertanian presisi, atau berkonsultasi kesehatan dengan AI yang jauh lebih sabar dari dokter puskesmas yang harus melayani tiga kecamatan sendirian.
Ini bukan aib. Ini adalah kondisi yang harus diterima sebagai titik mulai, bukan sebagai alasan untuk menyerah.
Tapi Tunggu — Ada yang Sudah Bergerak
Di tengah semua keterbatasan itu, saya menemukan hal-hal yang membuat saya diam-diam optimistis.
Pertama, anak-anak muda Manggarai di perantauan. Mereka — kita — sudah terbiasa dengan teknologi. Diaspora Manggarai di Jakarta, Bali, Kalimantan, dan kota-kota lain sudah menggunakan AI tanpa sadar: Google Translate untuk bisnis, filter Instagram yang ditenagai machine learning, algoritma TikTok yang tahu persis video apa yang kita suka. Mereka sudah melek digital. Dan banyak dari mereka yang rindu kampung. Rindu yang produktif. Rindu yang bisa diubah menjadi kontribusi nyata.
Kedua, pemerintah pusat sedang mendorong digitalisasi desa secara masif. Program Smart Village, Dana Desa untuk infrastruktur digital, dan rencana pembangunan jaringan internet di wilayah 3T (Tertinggal, Terdepan, Terluar) — semua ini adalah jendela peluang yang terbuka. Pertanyaannya: apakah Manggarai Timur siap memanfaatkannya, atau kita akan menunggu sampai jendela itu tertutup lagi?
Ketiga — dan ini yang paling personal bagi saya — saya sudah membuktikan sendiri bahwa AI bisa bekerja di konteks Manggarai. Dalam enam bulan terakhir, saya menggunakan sistem AI untuk membantu riset konten tentang Manggarai Timur: menganalisis data BPS, menyusun strategi SEO untuk konten ekowisata Flores, bahkan membantu menulis draft profil UMKM lokal. Hasilnya? Produktivitas saya naik tiga sampai lima kali lipat dibanding cara kerja konvensional. Satu orang, dibantu AI, bisa menghasilkan output yang sebelumnya butuh tim tiga sampai lima orang.
Ini bukan teori. Ini sudah terjadi. Di Manggarai Timur. Dengan sinyal yang kadang hilang.
AI yang Dibutuhkan Manggarai: Bukan yang Canggih, Tapi yang Berguna
Di sinilah saya harus bicara sebagai praktisi, bukan sebagai orang yang terpesona oleh teknologi.
Manggarai Timur tidak butuh AI yang bisa melukis gambar surealis atau menulis puisi dalam bahasa Sansekerta. Manggarai Timur butuh AI yang bisa menjawab pertanyaan sederhana tapi kritis:
Berapa harga kopi arabika grade 1 di pasar ekspor hari ini, dan apakah petani di Colol mendapat harga yang adil?
Puskesmas mana di Kecamatan Elar yang masih punya stok obat TBC, dan berapa jarak tempuhnya dari desa terdekat yang ada pasien TBC?
Dari data curah hujan lima tahun terakhir, kapan waktu terbaik untuk menanam jagung di lahan kering di Pota dan sekitarnya?
Berapa realisasi Dana Desa di tiga desa dengan angka stunting tertinggi, dan apakah anggarannya benar-benar digunakan untuk program gizi?
Pertanyaan-pertanyaan seperti ini bisa dijawab oleh AI yang sudah ada hari ini. Tidak butuh superkomputer. Tidak butuh jaringan 5G. Cukup ponsel Android dan koneksi internet yang — meskipun lambat — masih bisa mengakses layanan berbasis teks.
Inilah yang saya sebut sebagai AI relevan: teknologi yang tidak mencari masalah untuk dipecahkan, tapi teknologi yang ditanamkan ke dalam masalah yang sudah nyata di depan mata.
Roadmap: Langkah Konkret, Bukan Mimpi
Izinkan saya melepas topi praktisi sejenak dan memakai topi konsultan. Karena yang dibutuhkan Manggarai Timur bukan lagi analisis — yang dibutuhkan adalah rencana tindakan.
1-2 Tahun ke Depan: Tanam Bibit
Yang bisa — dan harus — dilakukan dalam dua tahun pertama:
Pertama, pelatihan literasi AI untuk perangkat desa dan guru. Bukan pelatihan yang mahal dan rumit. Cukup workshop tiga hari yang mengajarkan hal-hal praktis: cara menggunakan AI untuk menyusun laporan desa yang selama ini menyiksa kepala desa, cara guru menggunakan AI untuk membuat bahan ajar yang lebih menarik, cara petugas kesehatan menggunakan AI untuk mendeteksi pola stunting dari data yang sudah mereka punya tapi tidak pernah dianalisis.
Biayanya? Satu workshop untuk 20 orang bisa dilakukan dengan anggaran Rp 5-8 juta. Jika setiap kecamatan mengadakan satu workshop per tahun, total biaya untuk seluruh Manggarai Timur tidak lebih dari Rp 60-90 juta. Kurang dari harga satu unit mobil dinas.
Kedua, pilot project AI untuk pertanian kopi. Manggarai Timur adalah penghasil kopi. Kopi adalah komoditas yang datanya melimpah di level global. AI bisa membantu petani kecil mengakses data yang selama ini hanya dinikmati eksportir besar: prediksi harga, analisis kualitas berdasarkan foto biji kopi, rekomendasi waktu panen berdasarkan data cuaca. Teknologinya sudah ada. Yang belum ada adalah jembatan antara teknologi dan petani. Jembatan itu adalah orang-orang seperti kita — yang paham kedua dunia.
Ketiga, membangun ekosistem konten digital lokal yang dibantu AI. Portal berita lokal, platform promosi UMKM, direktori ekowisata — semua ini bisa diproduksi jauh lebih efisien dengan bantuan AI. Satu redaksi kecil yang dilengkapi sistem AI bisa menghasilkan konten yang volumenya setara dengan redaksi konvensional yang jauh lebih besar. Ini bukan teori — ini sudah saya jalani.
3-5 Tahun ke Depan: Tuai Hasil
Jika bibit ditanam dengan benar dalam dua tahun pertama, inilah yang bisa terjadi:
AI untuk tata kelola desa yang transparan. Bayangkan setiap desa di Manggarai Timur punya dashboard sederhana yang menampilkan realisasi anggaran Dana Desa secara real-time — data yang dianalisis AI untuk mendeteksi anomali, keterlambatan, atau pola yang mencurigakan. Bukan untuk menghakimi, tapi untuk membantu kepala desa mengelola dengan lebih baik dan membantu warga mengawasi dengan lebih efektif.
AI untuk pariwisata yang cerdas. Manggarai Timur bisa menjadi destinasi ekowisata yang dipersonalisasi: AI merekomendasikan rute wisata berdasarkan preferensi pengunjung, chatbot dalam tiga bahasa menjawab pertanyaan wisatawan tentang Danau Ranamese atau Agrowisata kopi Colol, dan sistem manajemen pengunjung berbasis data memastikan destinasi tidak kelebihan kapasitas sehingga kelestarian alam terjaga.
AI untuk kesehatan yang menjangkau. Dengan infrastruktur internet yang membaik — dan ini harus diperjuangkan secara politis — AI bisa menjadi perpanjangan tangan tenaga kesehatan yang jumlahnya sangat terbatas. Triase awal berbasis AI di puskesmas pembantu, analisis data gizi anak yang lebih cepat dan akurat, bahkan konsultasi jarak jauh yang menghubungkan bidan desa dengan dokter spesialis di Kupang atau Denpasar.
Hambatan yang Harus Diakui
Saya bukan orang yang suka menjual harapan tanpa mencantumkan harganya.
Hambatan pertama dan paling mendasar: infrastruktur. Tanpa internet yang stabil dan listrik yang andal, semua rencana di atas hanyalah Power Point presentasi yang bagus. Ini bukan masalah yang bisa diselesaikan oleh satu kabupaten sendirian. Ini butuh komitmen pemerintah pusat dan provinsi. Tapi kabupaten bisa mulai dengan mengadvokasi secara agresif — dan memetakan secara detail di mana saja titik-titik kritis yang perlu prioritas.
Hambatan kedua: sumber daya manusia. Siapa yang akan menjalankan semua ini? Jawabannya ada di dua tempat: generasi muda Manggarai yang sedang belajar atau bekerja di kota — dan mereka perlu alasan yang cukup kuat untuk pulang atau berkontribusi dari jarak jauh — serta guru, perangkat desa, dan tenaga kesehatan yang sudah ada di lapangan dan perlu dilatih.
Hambatan ketiga: resistensi budaya terhadap perubahan. Ini nyata dan tidak boleh diremehkan. Saya pernah menjelaskan tentang AI kepada seorang sahabat saat berkunjung ke Borong dan beliau bertanya: “Apakah mesin itu tahu adat?” Pertanyaan yang sangat dalam. AI tidak tahu adat. AI tidak memahami mengapa compang harus dihormati, mengapa lingko harus dijaga, mengapa caci bukan sekadar tontonan. Dan karena itu, AI di Manggarai tidak boleh datang sebagai pengganti kebijaksanaan lokal — ia harus datang sebagai alat yang digunakan oleh orang-orang yang memahami kebijaksanaan itu.
Hambatan keempat: anggaran dan prioritas. Mari realistis. APBD Manggarai Timur terbatas. Ada stunting yang harus diatasi, jalan yang harus diperbaiki, sekolah yang harus dibangun. Memasukkan “AI” ke dalam daftar prioritas akan terdengar mewah bagi banyak orang. Karena itu, strategi yang tepat bukan menjadikan AI sebagai program terpisah yang butuh anggaran besar, tapi menanamkan AI ke dalam program yang sudah ada. Program pertanian? Tambahkan komponen AI untuk analisis data. Program kesehatan? Tambahkan AI untuk deteksi dini. Program pendidikan? Tambahkan AI untuk personalisasi belajar. Biaya tambahan marginal, dampak potensial signifikan.
Siapa yang Harus Bergerak Duluan?
Saya tidak percaya pada pendekatan top-down yang menunggu pemerintah bergerak.
Saya juga tidak naif untuk berpikir bahwa masyarakat bisa mengubah segalanya sendiri tanpa dukungan kebijakan.
Yang saya percaya adalah ini: perubahan dimulai dari orang-orang yang berdiri tepat di persimpangan antara dua dunia. Orang-orang yang paham teknologi dan paham konteks lokal. Orang-orang yang punya akses ke pengetahuan global dan punya akar di tanah Manggarai.
Itu adalah kita. Diaspora yang masih peduli. Anak-anak muda yang pulang — atau yang memilih berkontribusi dari jauh. Guru-guru yang tidak puas dengan keterbatasan. Kepala desa yang ingin desanya lebih baik. Jurnalis lokal yang ingin masyarakatnya lebih terinformasi.
AI bukan tongkat sihir. Ia tidak akan menyelesaikan masalah stunting. Ia tidak akan memperbaiki jalan berlubang di Borong-Elar. Ia tidak akan menggantikan kehangatan mama yang memasak ubi rebus di dapur berasap.
Tapi AI bisa menjadi alat yang membuat kita bekerja lebih cerdas, mengakses lebih banyak informasi, mengambil keputusan yang lebih baik, dan — mungkin ini yang paling penting — mendokumentasikan siapa kita agar generasi berikutnya tidak kehilangan akar mereka di tengah arus perubahan yang tidak bisa dihentikan.
Saya menulis ini dari Bealaing. Sinyal internet sedang bagus — tiga bar, lumayan untuk ukuran sore hari di sini. Di luar, sedang ramai orang pulang menonton turnamen Bealaing Cup. Di ponsel saya, ada tiga draft artikel yang sedang dibantu AI untuk riset datanya.
Ada yang bilang AI dan Manggarai Timur adalah dua dunia yang terlalu jauh. Mungkin mereka benar — untuk hari ini. Tapi jarak antara dua dunia tidak diukur dengan kilometer. Ia diukur dengan kemauan untuk mulai berjalan.
Dan seseorang harus mulai berjalan duluan.

