Soe, VoxNTT.com – Kehadiran Lapak Ikan Brigadir Oebesa di RT 11 RW 05, Kelurahan Oebesa, Kecamatan Kota SoE, Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), mendapat respons positif dari masyarakat. Sejumlah pelanggan mengaku puas dengan kualitas ikan yang dijual serta harga yang dinilai terjangkau.
Salah seorang pembeli asal Kampung Lakat, Tirsa, mengaku rutin berbelanja di lapak tersebut karena kualitas ikan yang selalu segar.
“Harganya murah dan juga kualitas ikannya sangat segar,” ujar Tirsa, Senin, 22 Juni 2026.
Ia mengatakan dirinya bersama keluarga telah menjadi pelanggan tetap di Lapak Ikan Brigadir Oebesa.
Hal serupa disampaikan Silvi, pelanggan yang datang dari Bena untuk membeli persediaan ikan bagi keluarganya.
“Beli ikan untuk stok satu Minggu,” katanya yang juga merupakan pelanggan setia lapak ikan tersebut.
Pelanggan lainnya, Oktavianus Tuan, datang dari Siso untuk membeli ikan di lapak tersebut. Menurutnya, kesegaran ikan menjadi alasan utama memilih berbelanja di sana.
“Murah dan ikannya segar. Kalau tempat lain saat saya beli susah melek makanya saya beli di sini karena segar,” kata Oktavianus kepada Voxntt.com.
Kantongi Izin Usaha
Owner Lapak Ikan Brigadir Oebesa, Dewei Yovita Samol mengatakan, usaha yang dirintis bersama suaminya sejak Mei 2026 telah mengantongi izin usaha yang diperlukan.
Menurut Dewi, usahanya telah memiliki Nomor Induk Berusaha (NIB) dan sertifikat standar berbasis risiko yang diterbitkan oleh Kementerian Investasi dan Hilirisasi serta Pemerintah Kabupaten TTS.
“Sebelum mulai bisnis ini saya sudah mengurus admistrasi di Dinas Perijinan dan sudah punya NIB,” kata Dewi.
Selain memastikan legalitas usaha, Dewi juga menegaskan bahwa pengelolaan limbah menjadi perhatian utama dalam menjalankan bisnis tersebut.
“Saya sangat memperhatikan limbah. Tidak pernah membuang di lingkungan sekitar,” kata anggota Polri yang bertugas di Polres TTS itu.
Ia menjelaskan, air bekas pencucian ikan selalu ditampung terlebih dahulu sebelum dibuang ke lokasi yang jauh dari kawasan permukiman.
“Saya buang di tanah yang adalah milik saya pribadi,” ujarnya.
“Saya tidak membuang limbah sembarangan. Sehabis jualan air ikan ditaruh di boks dan dibuang di tempat saya sendiri yang jauh dari pemukiman penduduk,” katanya menambahkan.
Tetangga Tidak Terganggu
Klaim tersebut juga diperkuat oleh Yohanis Boimau, tetangga yang rumahnya berdampingan dengan lokasi usaha.
Ia mengaku tidak pernah melihat limbah ikan dibuang sembarangan maupun mencium bau yang mengganggu lingkungan sekitar.
“Saya yang rumah berdampingan merasa tidak terganggu. Bapak mereka bisa lihat sendiri. Kalau ada yang protes soal limbah silakan mereka datang langsung ke sini kan.”
“Bukan mau bela siapa siapa tapi emang tidak ada bau yang kami cium,” kata Yohanis.
Buka Lapangan Kerja
Selain melayani kebutuhan masyarakat, keberadaan lapak ikan tersebut juga dinilai membantu membuka lapangan pekerjaan bagi warga setempat.
Salah seorang pekerja, Orpa Napur (61), warga Kelurahan Nunbeu, mengaku dirinya dan pekerja lainnya sangat terbantu dengan adanya usaha tersebut.
“Menurut saya ibu Dewi sangat baik. Sejak kami kerja di sini selau diperhatikan dengan baik. Saya sangat bangga. Mereka ada pekerjaan sendiri tapi bisa buka lahan pekerjaan bagi kami untuk kerja di sini.”
Orpa mengatakan sebagian besar pekerja di lapak tersebut merupakan ibu-ibu dan janda yang membutuhkan pekerjaan untuk memenuhi kebutuhan keluarga.
“Mereka sudah mengurangi pengangguran di TTS. Mereka masih ada perhatian bagi anak anak tidak sekolah. Hampir semua yang kerja di sini kami ibu-ibu janda. Kalau gaji sesuai UMR. Kami rasa bangga. Mereka benar benar membantu kami,” pungkasnya.
Penulis: Ronis Natom

