Close Menu
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
Facebook X (Twitter) Instagram
VoxNtt.comVoxNtt.com
Facebook X (Twitter) Instagram
Subscribe
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
VoxNtt.comVoxNtt.com
Home»Gagasan»Diri Menjadi Pusat: Tuhan, Sesama, dan Alam Jadi Satelit
Gagasan

Diri Menjadi Pusat: Tuhan, Sesama, dan Alam Jadi Satelit

By Redaksi22 Juni 20263 Mins Read
Facebook Twitter WhatsApp Telegram
Inosensius Sutam
Share
Facebook Twitter Pinterest Telegram WhatsApp

(Senin MB XII, 22 Juni  2026, Tahun A; 2 Raj 17:5-8, 13-15a,18; Mzm 60:3.4-5.12-13; Mat  7:1-5)

Manusia sering memasukkan balok dan selumbar pada matanya. Yang menghalanginya untuk melihat dirinya secara benar, melihat sesama secara adil dan jujur, melihat Tuhan dengan setia dan iman. Keduanya dari alam. Keluarkan balok dan selumbar dari mata manusia maka alam selamat.

Oleh: Rm. Inosensius Sutam

1

Aman dengan Diri, Tuhan Ditentang, Sesama Dihakimi, Alam Dikeruk

Manusia mencari rasa aman dan nyaman. Pilarnya adalah kepintaran, kuasa, kekayaan, seks, popularitas, legasi. Dirinya menjadi sentral. Semua hanya satelit di luar dirinya. Karena itu perintah Tuhan dilanggar. Agama yang sesuai dengan nafsunya diciptakan dan diikuti. Sesama dihakimi.

2

Masuklah pada Hadapan Allah Setia, Sebelum Masuk dalam Dunia

Bacaan pertama lagi-lagi dikisahkan (a) orang Israel yang tidak setia an berdosa kepada Tuhan yang setia kepada mereka: (i) menolak ketetapan dan perjanjian yang sudah dibuat; (ii) membuang peraturan. (b) Mereka hidup menurut adat-istiadat bangsa-bangsa lain yang menjadi musuhnya dan telah diusir Tuhan dari hadapan mereka, dan (c) menyembah Allah mereka.

3

(d) Mereka sudah diperingati lewat para nabi yang diutus Tuhan. Namun mereka tidak mau mendengarkan. (e) akibatnya Tuhan sangat murka; (f) mereka diusir dari hadapan Tuhan, diserahkan ke bangsa Asyur dan dibuang ke Asyur.

4

Masuklah dalam Diri, Sebelum Keluar

Dalam Injil, Yesus mengingatkan dua hal yang sebenarnya satu dan sama: (a) jangan menghakimi, supaya tidak dihakimi: (i) penghakiman dan (ii) ukuran yang dipakai untuk menghakimi akan dipakai juga menghukumi diri sendiri

5

(b) Jangan melihat selumbar dalam mata sesame, sementara balok dalam sendiri tidak dilihat: (i) keluarkan dulu balok dalam mata sendiri, agar (ii) kita melihat dengan jelas dan mengeluarkan selumbar pada mata sesama.

6

Keluarkan Balok dan Selumbar, Alam akan Selamat

Pesan bacaan hari ini untuk kita:
Pertama, setia artinya masuklah ke hadapan Tuhan dan setia memegang janji, perintah, dan aturannya. Setelahnya, boleh keluar dan memasuki dunia untuk membawa pesan Tuhan bukan untuk mengikuti dunia.  Masuklah dalam diri, dan periksa diri dengan baik. Bersihkan diri. Setelah itu baru keluar dan mengeritik sesama. Dengan itu, kita tidak menjadi orang yang diserang dan menjadi buangan dan terasing dari kehidupan ini.

7

Kedua, tidak setia pada Tuhan akan menyebabkan kita lupa diri, dan menganggap diri benar, dan seperti Tuan dan Tuhan. Lalu menghakimi dan menghukum sesame dengan aturan dan ukuran yang membela kepentingan diri dan menghantar orang lain pada posisi sebagai orang yang menempatkan kita sebagai pusat.

8

Ketiga, dimensi ekologis dari bacaan hari ini adalah negeri, kota, sungai, bukit, balok, selumbar, nama wilayah/bangsa seperti Samaria, Asyur, dll. Manusia sering menciptakan alah-alah lain yang disembahnya seperti kekayaaan yang dengannya kuasa, seks, popularitas, legasi diperoleh. Alam sering “dihakimi” (dikelola/dikeruk) dengan ukuran dan kebutuhan manusia. Bukan menurut eksistensi alam sendiri yang telah mendukung hidupnya. Manusia sering memasukkan balok dan selumbar pada matanya. Yang menghalanginya untuk melihat dirinya secara benar, melihat sesama secara adil dan jujur, melihat Tuhan dengan setia dan iman. Keduanya dari alam. Keluarkan balok dan selumbar dari mata manusia maka alam selamat.

Ino Sutam Inosensius Sutam
Previous ArticleAlgoritma dan Asap Dapur di Manggarai Timur
Next Article Mantan Kadis DP3AKB Manggarai Timur Diperiksa Kejari Manggarai Terkait Dugaan Korupsi Anggaran

Related Posts

Kesuburan  “Tanah” Hidup: Sinergi Sabda, Hati, dan Kelestarian Ekologis

12 Juli 2026

Apa yang Tersisa dari Manusia Ketika Artificial Intelligence Meniru Segalanya?

11 Juli 2026

Menakar Prioritas NTT: Antara Berburu Pajak Plat Luar dan Menelantarkan Terminal Tipe B

10 Juli 2026
Terkini

Kompak Indonesia Desak Kejati NTT Supervisi Kasus Dana BOK Puskesmas Benteng Jawa

14 Juli 2026

Dua Siswa SMPN 10 Poco Ranaka Lolos OSN Provinsi, Wakili Manggarai Timur

14 Juli 2026

JPIC OFM dan FORKASI Adukan Konflik Agraria Tonggurambang ke Komnas HAM

13 Juli 2026

Jelang Pelantikan Pejabat, Pemkab Nagekeo Bantah Isu Retaknya Hubungan Bupati dan Wakil Bupati

13 Juli 2026

Kesuburan  “Tanah” Hidup: Sinergi Sabda, Hati, dan Kelestarian Ekologis

12 Juli 2026
© 2026 VoxNTT
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.