Ruteng, VoxNTT.com – Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT) Melki Laka Lena meminta Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) tetap menjalankan perannya sebagai mitra kritis pemerintah.
Menurut dia, PMKRI harus terus melahirkan gagasan segar, menggerakkan perubahan sosial, serta menjaga nilai-nilai kebangsaan melalui semangat kolaborasi dalam mendukung pembangunan daerah.
“Melalui semangat gotong royong dengan mengusung spirit: ayo bangun NTT, melayani, bekerja, berkolaborasi, dan menginspirasi,” ujar Melki saat memberikan orasi wawasan kepemimpinan daerah bertajuk Kepemimpinan Daerah dalam Menyongsong Cita-Cita Daerah pada Studium General Kongres Nasional XXXIV dan Majelis Permusyawaratan Anggota (MPA) XXXIII PMKRI Sanctus Thomas Aquinas di Aula Asumpta Katedral Ruteng, Senin, 20 Juli 2026.
Melki menegaskan pentingnya arah baru kepemimpinan daerah yang adaptif dan mampu membangun ekosistem ekonomi yang terintegrasi dari desa hingga pasar.
Menurut dia, pendekatan tersebut diperlukan untuk menjawab berbagai tantangan struktural yang masih dihadapi NTT.
Ia memaparkan visi Pemerintah Provinsi NTT untuk mewujudkan daerah yang maju, sehat, cerdas, sejahtera, dan berdaya saing. Untuk mencapai tujuan tersebut, pemerintah memfokuskan pembangunan pada lima pilar strategis, yakni peningkatan kualitas sumber daya manusia, penyediaan infrastruktur yang saling terkoneksi, hilirisasi potensi lokal, penciptaan lapangan kerja melalui perluasan investasi, serta penerapan tata kelola pemerintahan yang baik, transparan, dan akuntabel.
Melki menilai persoalan mendasar ekonomi NTT selama ini tidak hanya terletak pada potensi daerah, tetapi juga pada lemahnya konektivitas antara komoditas lokal dan akses pasar. Karena itu, ia menegaskan pembangunan tidak lagi dapat dilakukan secara sektoral.
“Pembangunan harus membentuk satu ekosistem yang utuh dan berkelanjutan,” tegasnya.
Menurut Melki, ekosistem tersebut mencakup penguatan rantai produksi komoditas desa, pengolahan hasil untuk meningkatkan nilai tambah, perluasan pemasaran melalui jaringan digital, hingga kemudahan akses pembiayaan bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Langkah itu diharapkan mampu memperkuat kemandirian ekonomi masyarakat.
Melki juga menyoroti tantangan geografis NTT sebagai provinsi kepulauan. Menurut dia, daerah ini membutuhkan pemimpin yang memiliki integritas, visioner, adaptif terhadap perubahan, serta berani mengambil keputusan berdasarkan data dan fakta di lapangan.
Melki menegaskan, keberhasilan pembangunan tidak dapat dicapai hanya oleh pemerintah.
Ia mendorong penerapan kolaborasi Pentahelix yang melibatkan pemerintah, akademisi, dunia usaha, masyarakat sipil dan media, serta generasi muda untuk mempercepat pembangunan di NTT. [VoN]

