Oleh: Pater Darmin Mbula, OFM
Anggota Dewan Perguruan Tinggi (DPT), Perguruan Tinggi Nasional (DPN) dan Ketua Presidium Majelis Nasional Pendidikan Katolik (MNPK)
Sekolah seharusnya mengajak murid mengembangkan pengetahuan, kreativitas, empati, disiplin, dan kemampuan menyelesaikan masalah secara jernih dan arif bijaksana.
Model Sekolah seperti inilah mampu membentuk murid untuk tidak mudah terjerumus pada kekerasan, perundungan, yang membahayakan diri sendiri maupun orang lain.
Melalui pembelajaran yang memadukan sains, teknologi, rekayasa, seni, matematika, dan sport (STEAMS), murid dibimbing untuk mengolah kecerdasan emosional; mempertimbangkan dampak dari setiap pilihan; serta membangun relasi yang saling menghormati di rumah, sekolah, dan masyarakat.
Di tengah meningkatnya kekhawatiran tentang bunuh diri pada anak dan remaja, dan berbagai bentuk ancaman terhadap keselamatan di ruang public dan privat, STEAMS menjadi salah satu pendekatan yang dapat memperkuat karakter, budi pekerti dan budaya kehidupan damai.
Belajar untuk Budaya Kehidupan
Seorang murid belajar untuk kehidupan melalui pengalaman sehari-hari di rumah, sekolah, lingkungan pergaulan, dan ruang digital. Dari pengalaman itu, murid membentuk cara memandang dirinya sendiri, orang lain, dan harapan masa depannya.
Jika dalam proses tersebut murid terus menerima contoh kekerasan, kebencian, dendam atau pembenaran terhadap tindakan merusak, ia dapat mengalami kesalahan dalam menilai suatu tindakan.
Akibatnya, murid mulai menganggap bahwa meledakkan bom di ruang kelas adalah tindakan yang benar atau diperlukan. Padahal tindakan itu bertentangan dengan nilai kemanusiaan, hukum agama, hukum sipil dan kehidupan bersama.
Pembentukan diri seorang murid secara holistik berlangsung melalui olah tubuh, olah hati, dan olah otak yang teritegrasi. Olah tubuh membantu murid belajar mengendalikan tindakan dan menghargai keselamatan diri maupun orang lain.
Olah hati menumbuhkan cita rasa ramah, kasih sayang, empati, kesetiakawanan, rukun sama teman, dan rasa bersalah ketika menyakiti sesama, serta kepedulian terhadap kehidupan.
Olah otak membantu anak memahami akibat dari setiap pilihan, membedakan fakta dengan propaganda, dan mempertimbangkan dampak jangka pendek dan jangka panjang.
Jika ketiga aspek ini tidak berkembang secara seimbang karena pengaruh lingkungan yang penuh kekerasan, manipulasi, atau indoktrinasi, kemampuan murid dalam belajar untuk budaya kehidupan dapat terganggu.
Karena itu, keluarga, sekolah, dan masyarakat memiliki tanggung jawab untuk membangun lingkungan yang aman, penuh kasih, dan menghargai martabat setiap manusia.
Anak perlu dibimbing agar terbiasa menyelesaikan masalah melalui dialog, mencari bantuan ketika mengalami kesulitan, serta menghormati perbedaan.
Dengan pengalaman positif yang terus-menerus, anak belajar bahwa setiap persoalan dapat dihadapi tanpa kekerasan.
Proses pembelajaran seperti ini memperkuat kemampuan anak untuk membuat keputusan yang bertanggung jawab, memilih jalan damai, dan menjaga keselamatan dirinya maupun orang lain.
Murid Berpikir Bijaksana
Murid yang berpikir bijaksana, dalam perspektif konsep Thinking, Fast and Slow dari Daniel Kahneman, adalah murid yang mampu mengenali kapan harus merespons dengan cepat dan kapan harus berhenti untuk berpikir lebih mendalam.
Ia tidak langsung bereaksi karena marah, takut, tersinggung, atau terpengaruh tekanan teman sebaya, tetapi membiasakan diri memeriksa fakta, mempertimbangkan berbagai pilihan, dan memikirkan dampak tindakannya terhadap diri sendiri maupun orang lain.
Ketika menghadapi konflik, perbedaan pendapat, atau godaan untuk melakukan perundungan dan kekerasan, murid yang bijaksana tidak membiarkan dorongan sesaat menguasai dirinya, melainkan menggunakan pertimbangan yang tenang, logis, dan berlandaskan nilai moral.
Dengan kebiasaan tersebut, ia belajar mengambil keputusan yang bertanggung jawab, menghargai martabat setiap manusia, menyelesaikan masalah melalui dialog, serta membangun budaya kehidupan damai di sekolah, keluarga, dan masyarakat.
Menurut Daniel Kahneman dalam Thinking, Fast and Slow, perilaku kekerasan dan perundungan (bullying) pada anak dapat dipahami melalui dua cara kerja berpikir yang saling berinteraksi.
Cara berpikir yang cepat bersifat spontan, emosional, impulsif, dan sering kali muncul tanpa pertimbangan mendalam, sehingga anak dapat dengan mudah bereaksi agresif ketika marah, merasa terancam, ingin diterima oleh kelompok, atau meniru perilaku yang dilihat di rumah, sekolah, media, maupun lingkungan sosial.
Sebaliknya, cara berpikir yang lambat bersifat lebih reflektif, hati-hati, dan mempertimbangkan akibat dari setiap tindakan, sehingga membantu anak mengendalikan dorongan sesaat, memahami perasaan orang lain, serta memilih penyelesaian konflik yang damai.
Dari perspektif ini, pencegahan kekerasan dan perundungan tidak cukup hanya dengan memberikan hukuman, tetapi perlu membangun lingkungan keluarga, sekolah, dan masyarakat yang melatih anak untuk berhenti sejenak sebelum bertindak, mengenali emosi, mempertimbangkan konsekuensi moral dan sosial dari tindakannya, serta membiasakan pengambilan keputusan yang bertanggung jawab melalui teladan, dialog, dan pembiasaan sehari-hari.
Konsep heuristics and biases yang dikembangkan oleh Daniel Kahneman bersama Amos Tversky menjelaskan bahwa manusia sering menggunakan heuristik, yaitu jalan pintas mental yang memungkinkan pengambilan keputusan secara cepat ketika menghadapi informasi yang kompleks atau situasi yang tidak pasti.
Meskipun heuristik sering membantu dalam kehidupan sehari-hari, penggunaannya juga dapat menimbulkan bias, yaitu penyimpangan sistematis dalam penilaian dan pengambilan keputusan.
Contohnya, seseorang dapat menilai orang lain hanya berdasarkan kesan pertama (representativeness), lebih mudah mempercayai informasi yang sering didengar atau mudah diingat (availability), atau terlalu bergantung pada informasi awal meskipun informasi tersebut kurang akurat (anchoring).
Dalam konteks pendidikan, heuristik dan bias dapat memengaruhi cara guru, orang tua, maupun anak memahami perilaku, prestasi, atau karakter seseorang, sehingga diperlukan kebiasaan berpikir yang lebih reflektif, memeriksa bukti secara cermat, mempertimbangkan berbagai sudut pandang, dan menyadari bahwa penilaian awal belum tentu mencerminkan kenyataan secara utuh.
Memahami Kehidupan Manusia
Menurut Daniel Kahneman, kehidupan manusia dapat dipahami melalui konsep two selves, yaitu experiencing self (diri yang mengalami) dan remembering self (diri yang mengingat).
Experiencing self menjalani setiap peristiwa dari saat ke saat, merasakan kegembiraan, kesedihan, ketakutan, atau kedamaian secara langsung, sehingga membentuk experienced well-being, yaitu kualitas pengalaman hidup yang benar-benar dialami pada setiap momen.
Sebaliknya, remembering self menyusun berbagai pengalaman itu menjadi sebuah kisah yang bermakna (life as a story), memilih peristiwa-peristiwa tertentu untuk diingat, ditafsirkan, dan diceritakan kembali sebagai gambaran tentang kehidupan.
Ketika seseorang thinking about life, ia umumnya tidak menilai seluruh pengalaman yang pernah dijalani, tetapi lebih banyak mengandalkan kisah yang telah dibangun oleh ingatannya.
Oleh karena itu, penilaian seseorang tentang apakah hidupnya bahagia, bermakna, atau berhasil sering kali lebih dipengaruhi oleh cara ia mengingat dan menafsirkan pengalaman daripada oleh keseluruhan pengalaman yang benar-benar telah dijalani.
Selaras dengan filosofi Pancasila, Murid dapat belajar berpikir tentang kehidupan (thinking about life) melalui lima langkah strategis yang dilakukan secara bertahap dalam kehidupan sehari-hari.
Pertama, mengamati pengalaman dengan penuh perhatian, yaitu mengenali apa yang terjadi pada diri sendiri, orang lain, dan lingkungan sebagai anugerah Tuhan Yang Maha Esa.
Kedua, merenungkan makna pengalaman, yaitu bertanya mengapa suatu peristiwa terjadi, apa yang dirasakan, dan nilai apa yang dapat dipetik dengan menjunjung tinggi kemanusiaan yang adil dan beradab.
Ketiga, mempertimbangkan berbagai pilihan tindakan melalui dialog, musyawarah, dan penghargaan terhadap perbedaan pendapat sesuai semangat persatuan Indonesia dan kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan.
Keempat, memilih tindakan yang bertanggung jawab, yaitu mengambil keputusan yang mencerminkan kejujuran, kepedulian, keadilan, dan penghormatan terhadap martabat setiap manusia.
Kelima, mengevaluasi dan memperbaiki diri, yaitu belajar dari keberhasilan maupun kesalahan untuk terus bertumbuh menjadi pribadi yang bijaksana, berkarakter, peduli kepada sesama, serta berkomitmen mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.
Dengan langkah-langkah tersebut, anak belajar menjalani kehidupan, belajar memahami makna hidup, membangun kebijaksanaan, dan mengembangkan karakter yang selaras dengan nilai-nilai Pancasila.
Berpikir Sebelum Bertindak
Model STEAMS (Science, Technology, Engineering, Arts, Mathematics, dan Sports) dapat menjadi model pembelajaran yang membantu mengurangi risiko perilaku kekerasan pada anak di ruang kelas, ruang privat, maupun ruang publik.
Melalui sains, anak belajar berpikir berdasarkan bukti dan memahami akibat dari setiap tindakan. Melalui teknologi, anak belajar menggunakan media digital secara bertanggung jawab.
Melalui rekayasa, anak dilatih mencari solusi atas masalah tanpa kekerasan. Melalui seni, anak memperoleh ruang untuk mengekspresikan emosi, menghargai perbedaan, dan membangun empati. Melalui matematika, anak mengembangkan ketelitian, kesabaran, dan cara berpikir yang runtut.
Melalui olahraga, anak belajar disiplin, kerja sama, sportivitas, pengendalian diri, dan penghormatan terhadap aturan. Ketika keenam bidang tersebut dipadukan dalam suasana belajar yang aman, inklusif, dan penuh penghargaan, anak memiliki lebih banyak kesempatan untuk mengembangkan kemampuan sosial, mengelola emosi, menyelesaikan konflik secara damai, serta membangun karakter yang menghormati martabat orang lain.
Dengan demikian, STEAMS berkontribusi sebagai pendekatan pendidikan yang mendukung budaya damai dan mencegah berkembangnya perilaku kekerasan, tanpa menjamin bahwa kekerasan akan hilang sepenuhnya karena perilaku anak juga dipengaruhi oleh keluarga, lingkungan sosial, dan pengalaman hidupnya.
Model STEAMS membantu membangun murid yang berpikir bijaksana dengan mengembangkan pengetahuan, karakter, dan kebiasaan mengambil keputusan secara bertanggung jawab.
Melalui sains, murid belajar mencari kebenaran berdasarkan bukti; melalui teknologi, mereka belajar menggunakan informasi secara kritis dan bertanggung jawab; melalui rekayasa, mereka terbiasa mencari solusi yang kreatif dan damai; melalui seni, mereka mengembangkan empati, kepekaan, dan kemampuan mengekspresikan emosi secara positif; melalui matematika, mereka melatih ketelitian, penalaran, dan konsistensi; sedangkan melalui olahraga (sport), mereka membangun disiplin, sportivitas, kerja sama, serta pengendalian diri.
Perpaduan keenam bidang tersebut mendorong murid untuk berpikir sebelum bertindak, mempertimbangkan konsekuensi dari setiap pilihan, menghargai perbedaan, dan menyelesaikan konflik tanpa kekerasan.
Dampaknya, murid lebih siap menjadi pribadi yang tangguh, berintegritas, peduli terhadap sesama, mampu menghadapi tantangan kehidupan secara bijaksana, serta berkontribusi dalam membangun budaya damai di sekolah, keluarga, dan masyarakat.

