Close Menu
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
Facebook X (Twitter) Instagram
VoxNtt.comVoxNtt.com
Facebook X (Twitter) Instagram
Subscribe
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
VoxNtt.comVoxNtt.com
Home»Figure»Yoseph Yapi Taum dan Pergumulan di Dalam Cultural Studies
Figure

Yoseph Yapi Taum dan Pergumulan di Dalam Cultural Studies

By Redaksi1 November 20173 Mins Read
Facebook Twitter WhatsApp Telegram
Yoseph Yapi Taum (Dok pribadi)
Share
Facebook Twitter Pinterest Telegram WhatsApp

(Tribute to Yoseph Yapi Taum atas prestasi sebagai dosen berprestasi Indonesia)

Oleh Hengky Ola Sura

Redaksi Seni dan Budaya VoxNtt.com

 Dusun berkabut di atas bukit itu masih tetap di sana,

bagai elang di dahan tertinggi

tak berkedip menatap empat penjuru mata angin

menjaga anak-anaknya dari serangan musuh

Ia Ataili. Kampungku yang sebenar-benarnya

Waikomo,27 Desember 2017

(karya Yoseph Yapi Taum, dari penggalan puisi Ataili)

Nama lengkapnya adalah Yoseph Yapi Taum. Pria kelahiran Ataili Lembata ini masuk jajaran dosen yang cemerlang dalam menulis. Kepiwaiannya dalam menulis dan terlebih terlibat dalam penelitian-penelitian sastra dan kebudayaan menghantarkannya sebagai dosen yang meraih juara pertama pemilihan pendidik dan tenaga kependidikan berprestasi tingkat nasional kategori dosen sosial dan humaniora dari Kemenristekdikti pada 30 Oktober 2017.

Torehan atas prestasi ini sesungguhnya adalah jalan panjang dari proses belajar yang tak kenal henti. Sebagai seorang anak tanah Lembata, Yapi sadar setiap pergi adalah perjuangan tak kenal kata menyerah. Aras pemikiran ini jelas terpatri dalam kalbunya.

Merunut dari sajak Ataili yang ditulisnya di atas hendak membuktikan bahwa tanah lahir Ataili itu adalah lokus ‘elan vital’ yang membawa Yapi, sosok pembelajar itu untuk ikut menunjukkan bahwa sejauh-jauhnya ia pergi dan belajar Ataili jadi serupa magnet yang menakik-nakik semangat untuk bekerja, belajar dan berprestasi. Simak penggalan puisi ini;

Dusun berkabut di atas bukit itu masih tetap di sana,

bagai elang di dahan tertinggi

tak berkedip menatap empat penjuru mata angin

menjaga anak-anaknya dari serangan musuh

Ia Ataili. Kampungku yang sebenar-benarnya

Penggalan puisi ini saja sudah jadi pegas bagi dirinya yang seorang pendidik itu untuk menunjukan kiprah intelektualnya.

Ia percaya bahwa Ataili, sebuah kampung nun jauh di Lembata, tanah dimana ari-arinya disemayamkan itu jadi pelindung untuk kerja-kerja kebudayaannya.

Hampir kebanyakan buku dan artikel yang ditulis oleh Yapi titik berangkatnya adalah cultural studies.

Tentunya pilihan ini adalah juga karena dasar pertimbangan bahwa cultural studies adalah sebuah bidang akademis yang pendekatannya adalah selalu kritis dengan agenda moral yakni memperbaiki kinerja kebudayaan secara keseluruhan.

Menurut Yapi, melalui paradigma ini, kebudayaan yang didominasi oleh pemaksaan kepentingan kekuasaan mendapatkan bargaining secara mendasar.

Merujuk dari beberapa buku yang ditulisnya seperti Kisah Wato Lele-Lia Nurat dalam Tradisi Puisi Lisan Flores Timur, Penerbit Obor Indonesia dan Asosiasi Tradisi Lisan, Buku Studi Sastra Lisan, Sejarah, Teori, Meotde, dan Pendekatan Disertai Contoh Penerapannya, oleh Penerbit Lamalera, Balada Arakian: Kumpulan Puisi, Penerbit Lamalera, dan buku Sastra dan Politik: Representasi Tragedi 1965 dalam Negara Orde Baru, terbitan Sanata Dharma University Press, kita sesungguhnya sedang diajak berpelesir kedalam studi-studi kebudayaan yang dinarasikan oleh Yapi.

Secara pribadi saya menangkap adanya geletar seorang pendidik sejati yang terus bersuara melalui bahasa tulisan dari sejumlah penelitian-peneltiannya untuk ikut mencerdaskan dan mencintai keIndonesiaan kita dengan sebenar-benarnya.

Prestasi yang diraih adalah sebuah kerja yang tentunya tidak selesai dengan predikat juara satu.

Cultural studies adalah juga sebuah perjuangan untuk mendaratkan pemahaman yang sebenar-benarnya dan seadab-adabnya. Prestasinya adalah juga kebanggaan kita semua dari NTT.

Nusa Tetap Tercinta ini harus terus menghasilkan orang-orang hebat dengan kerja-kerja besar dan mulia.

Adalah Maria Matildis Banda, novelis dan dosen dari Universitas Udayana Bali mengungkapan bahwa apa yang dicapai Pak Yapi adalah sebuah kebanggan.

Karya dan kerja-kerjanya adalah juga inspirasi untuk kita semua. Selamat Pak Yapi, Ataili, kampung nun jauh di Lembata itu adalah lewo yang selalu jadi pembuka jalan untuk kerja muliamu.

Previous ArticlePetani Lokal NTT Tawarkan Sorgum Solusi Rawan Pangan
Next Article Konser Seni Flores di Ende, Ibu Ini Jual Keripik Pisang di Tempat Gelap

Related Posts

Kuryanto, Penjual Bakso Keliling yang Menjadi “Ayah Kedua” Bagi Adik-Adiknya

11 Desember 2025

Meski Kalah dalam Politik, Jane Natalia Suryanto Tetap Mengabdi untuk Rakyat

13 November 2025

Jane Natalia Suryanto Bangkitkan Semangat Petani NTT lewat Kebun Jane

12 November 2025
Terkini

Mari Minum dan Membasuh Diri dari Sumber Air Hidup Kekal

7 Maret 2026

51 Relawan Dapur SPPG Wolowae Ikuti Pelatihan Penjamahan Makanan, Cegah Keracunan MBG

7 Maret 2026

Pemda Manggarai Minta Penghuni Kosongkan Stan Penjual Tuak di Pasar Reo

7 Maret 2026

Satgas Pangan Sidak Pasar, Pastikan Stok Aman dan Harga Stabil di Labuan Bajo Jelang Idul Fitri

7 Maret 2026

Ketua PSSI Manggarai Barat Buka O2SN Gugus 04 Namo di Lembor Selatan

7 Maret 2026
© 2026 VoxNTT
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.