Close Menu
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
Facebook X (Twitter) Instagram
VoxNtt.comVoxNtt.com
Facebook X (Twitter) Instagram
Subscribe
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
VoxNtt.comVoxNtt.com
Home»Regional NTT»Pola Asuh Orangtua Bisa Jadi Penyebab Bunuh Diri
Regional NTT

Pola Asuh Orangtua Bisa Jadi Penyebab Bunuh Diri

By Redaksi6 Juni 20193 Mins Read
Facebook Twitter WhatsApp Telegram
Psikolog sekaligus praktisi komunikasi publik, Jefry Harianto
Share
Facebook Twitter Pinterest Telegram WhatsApp

Ruteng Vox NTT- Psikolog sekaligus praktisi komunikasi publik, Jefry Harianto menilai pola asuh anak merupakan salah satu faktor maraknya kajadian bunuh diri.

“Itu tergantung pola asuh di keluarga, ada soal yang harus menjadi perhatian publik tentang bagaimana cara mendidik anak, cara bangun komunikasi dengan anak dan bagaimana sikap orangtua dalam menyelesaikan persoalan yang dihadapi anaknya,” jelas alumnus Universitas Gadjah Mada itu kepada VoxNtt.com, Senin (03/06/2019).

Jefry menilai sebagian besar pola asuh yang dilakukan orangtua selama ini tidak update. Orangtua masih mengikuti pola lama yang sebenarnya tidak kontekstual lagi untuk digunakan sekarang.

Padahal, kata dia, generasi yang dihadapi sudah berbeda. Sehingga tantangannya juga demikian, tidak seperti yang terjadi sebelumnya.

“Sehingga kalau itu (pola asuh) tidak berubah, harus ada kesadaran publik untuk tidak lagi menggunakan pola lama dalam mengasuh anak. Karena yang dihadapi beda dengan anak-anak zaman dulu,” katanya.

Jefry mengaku tantangan yang dihadapi sekarang adalah mengubah mindset publik untuk mengadakan evaluasi terkait pola asuh orangtua.

“Sekarang kami sering masuk pada kursus perkawinan, kelas parenting kami banyak sekali, kami berharap supaya mereka bisa menjadi orangtua hebat. Karena pabriknya rumah sedangkan anak yang jadi korban,” tuturnya.

Jefry menambahkan, ketahanan konstruksi psikolog anak terhadap ketahanan stresnya menurun, sebab kecerdasan untuk mengelola situasi dan kondisinya sangat rendah.

Hal itu, kata dia, karena anak saat ini dipermudahkan dalam segala hal. Orangtua jarang melatih anak untuk bekerja keras dan berusaha untuk medapatkan sesuatu.

Bahkan orangtua memperlakukan anak sebagai tuan besar. Semua yang menjadi tanggung jawab anak diambil alih oleh orangtua.

Ia melanjutkan, anak terlalu dimudahkan dan digampangkan dalam kehidupan keluarga. Sehingga, anak-anak tumbuh dan besar dalam ketidakmampuan dalam mengelola risiko. Kebiasaan seperti itu, kata Jefry, dapat memengaruhi mental anak.

“Sekarang banyak anak-anak yang putus kuliah hanya karena maslah sepele, semisal hanya karena dosennya tidak mau ketemu atau judul skripsinya selalu ditolak maupun masalah cinta, anak yang bermental tidak baik akan cepat putus asa, bahkan sampai pada aksi bunuh diri,” katanya.

Jefry berharap orangtua harus memperkaya pola asuh terhadap anak.

Kursus perkawinan juga, kata dia, harus kontekstual. Artinya, harus sesuai dengan tantangan zaman dan harus dikaji lebih dalam terkait pola asuh terhadap anak.

“Kadang-kadang dalam kursus perkawinan sekarang, materi sepuluh tahun lalu masih dipakai sampai sekarang, yang sebenarnya tidak cocok lagi untuk diterapkan sekarang. Makanya harus diubah,” ucap Jefry.

Di sisi lain, kata dia, pemberitaan media massa juga dapat mejadi penyebab maraknya kasus bunuh diri.

Yang tertangkap di publik adalah salah satu metode yang dipilih untuk menyelesaikan masalah. Sebab itu isi pemberitaan media massa harus sama mindset-nya.

Orientasi pemberitaan itu harus lebih kepada mengedukasi.

Hal ini bisa dilakukan dengan cara menanyakan kepada pengamat tentang apa itu bunuh diri. Tidak boleh menjelaskan secara detail kronologis kasus bunuh diri. Karena itu yang akan menjadi pola yang diikuti.

“Misalnya dalam kasus bunuh diri, yang pasti trendnya adalah bunuh diri. Lalu anak-anak yang tidak paham juga melihat bahwa pola penyelesaian masalah itu dengan cara bunuh diri. Karena di situ dijelaskan semua,” tutup Jefry.

Penulis: Pepy Kurniawan
Editor: Ardy Abba

Manggarai Yayasan Mariamoe Peduli
Previous Article25 Peserta Ikut Meriahkan Lomba Pawai Takbiran di Labuan Bajo
Next Article Pemuda Katolik Nagekeo Ajak Masyarakat untuk Saling Memaafkan di Bulan Suci Ramadan

Related Posts

Polres Manggarai Limpahkan Dua Tersangka Kasus Narkotika ke Kejaksaan

6 Maret 2026

Rumah Harapan untuk Regina Uner di Cibal Barat Rampung 100 Persen

6 Maret 2026

Perjuangan Mama Martina, Banting Tulang untuk Hidupi Keluarga sembari Rawat Suami Stroke

5 Maret 2026
Terkini

Kisah Nangadhero, Desa Pesisir di Nagekeo Tempat Petani dan Nelayan Menjaga Harmoni

7 Maret 2026

Pentingnya Pendidikan Karakter dalam Membentuk Generasi Remaja Berintegritas

7 Maret 2026

Tuhan sebagai Gembala dan Bapa Yang Penuh Belaskasih dan Mengampuni 

7 Maret 2026

Surat Cinta untuk Mama

7 Maret 2026

Imigrasi Labuan Bajo Gelar Sosialisasi Bersama Desa Binaan di Kabupaten Manggarai, Cegah TPPO dan TPPM

7 Maret 2026
© 2026 VoxNTT
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.