Close Menu
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
Facebook X (Twitter) Instagram
VoxNtt.comVoxNtt.com
Facebook X (Twitter) Instagram
Subscribe
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
VoxNtt.comVoxNtt.com
Home»NTT NEWS»Izin Amdal Incenerator DLHK NTT Belum Terbit, Anggaran 790 Juta Telah Dicairkan ke Tim Undana
NTT NEWS

Izin Amdal Incenerator DLHK NTT Belum Terbit, Anggaran 790 Juta Telah Dicairkan ke Tim Undana

By Redaksi13 Juli 20213 Mins Read
Facebook Twitter WhatsApp Telegram
Kepala DLHK NTT Ondy Christian (kanan) dan Kabid Pemberdayaan DLHK NTT, Rudi Lismono (kiri)
Share
Facebook Twitter Pinterest Telegram WhatsApp

Kupang, Vox NTT- Anggaran sebesar Rp790 juta telah dicairkan kepada tim kajian Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) dari Kampus Undana sejak tahun 2020.

AMDAL tersebut dalam proyek incenerator milik Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) Provinsi NTT di Manulai, Kota Kupang.

Hal itu dibenarkan oleh Kepala Bidang Pembinaan di DLHK Provinsi NTT, Rudi Lismoni, saat dijumpai VoxNtt.com, Senin (12/07/2021) siang.

Rudi mengatakan, sejak awal rencana pembangunan incenerator di DLHK yang menelan anggaran sesuai kontrak sebesar 5,9 miliar telah dilakukan usaha untuk menerbitkan izin AMDAL.

Namun sayangnya, lima (5) bulan sudah proyek itu dinyatakan selesai, izin AMDAL tidak kunjung diterbitkan, sebagaimana termuat dalam laporan temuan BPK RI wilayah NTT pada Mei lalu.

Rudi mengungkapkan, secara teknis dana Rp790-an juta dibayar dari bendahara kepada tim penyusun AMDAL.

Informasi ini diketahui Rudi ketika dilakukan audit. Biaya penyusunan AMDAL pun sudah ditransfer kepada pihak penyusun.

“Saat itu saya katakan kenapa pekerjaan belum selesai sudah dilakukan transfer. Berkaitan dengan anggaran mestinya dibayarkan sebelum tutup anggaran, misalnya tahun 2019 progres kegiatan atau sepertinya yang sudah dilakukan saya begitu kurang paham,” tegas Rudi.

Rudi mengatakan, proses pembangunan UPT Incenerator dan fasilitas pendukungnya sudah dimulai sejak September tahun 2019.

Dikatakan, pada Desember 2019 sudah ada kerangka acuan penyusunan AMDAL. Kemudian, pada Januari 2020 datang tim supervisi dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) RI.

“Setelah mereka pelajari maka disepakati dilakukan oleh kementerian. Kami lakukan konsultasi lebih jauh dengan membawa KA (Kajian AMDAL). Tim penilai AMDAL dari pusat dengan mengacu pada aturan Kementerian Lingkungan Hidup menyetujui agar proses dilanjutkan untuk semua proses pembangunan incenerator yang sudah mengalami kemajuan,” jelas Rudi.

Rudi menambahkan, pda Maret 2020, pihaknya mengirimkan berkas ke pusat. Namun, karena pandemi Covid-19 tim tidak berani melakukan sidang terbuka.

Meski begitu, sidang AMDAL tetap dilakukan secara virtual dan baru dijalankan pada Desember 2020.

“Pada bulan Desember tahun 2020, keluar KA final. Saya waktu itu tidak pegang dokumen kontrak soal pembangunan ini, belakangan begitu ada masalah saya coba cek berkasnya. Saya tetap konsultasi dengan kepala dinas dalam keadaan darurat saya harus lakukan itu,” kata Rudi.

Sementara soal denda keterlambatan kepada rekanan, Rudi menjelaskan, sudah dilakukan audit oleh auditor dan besaran denda sebanyak Rp11 juta terhitung sejak 31 Desember tahun 2020.

Mengenai pengoperasian mesin incenerator, Rudi mengatakan sejauh ini belum optimal karena masih mengguakan genset.

Ia mengaku sudah melakukan pertemuan dengan PLN agar menggunakan tenaga listrik milik PLN.

Sementara Kepala DLHK Provinsi NTT Ondy christian Siagian mengaku ia memimpin dinas itu baru dimulai sejak Januari 2021 lalu.

Meski begitu, Ondy mengaku dirinya berniat untuk membantu Undana dalam menyelesaikan proses AMDAL.

“Jadi, pemerintah dan pemerintah sekarang ini saling membantu. Pemerintah provinsi membantu mengurus ke pemerintah pusat. Semoga cepat diselesaikan lah,” katanya.

Kadis Ondy mengaku, pihaknya sementara mengurus percepatan penerbitan AMDAL.

“Kendalanya karena covid ini. Apalagi banyak yang virtual. Kalau Jakarta itu mungkin 3% yang berkantor. Ada banyak tim ahli nanti, apalagi kementerian,” ujarnya.

Penulis: Ronis Natom
Editor: Ardy Abba

 

Kabupaten Kupang
Previous ArticleTantangan Kebebasan Berekspresi di Era Digital 
Next Article Gugat Menkumham di PTUN, Pengacara KSP Moeldoko Diduga Pernah Palsukan Surat Kuasa

Related Posts

Nama Wakil Ketua DPRD NTT Dicatut dalam Dugaan Penipuan Lowongan Kerja, Ratusan Orang Mengaku Jadi Korban

6 Maret 2026

Gubernur NTT Buka Diskusi Nasib 9.000 PPPK di Ruang Publik

5 Maret 2026

Pemprov NTT Harus Lobi Pemerintah Pusat soal Nasib 9.000 PPPK

5 Maret 2026
Terkini

Pentingnya Pendidikan Karakter dalam Membentuk Generasi Remaja Berintegritas

7 Maret 2026

Tuhan sebagai Gembala dan Bapa Yang Penuh Belaskasih dan Mengampuni 

7 Maret 2026

Surat Cinta untuk Mama

7 Maret 2026

Imigrasi Labuan Bajo Gelar Sosialisasi Bersama Desa Binaan di Kabupaten Manggarai, Cegah TPPO dan TPPM

7 Maret 2026

Demokrat Kritik Bawaslu NTT Soal Pelanggaran Pemilu 2024

7 Maret 2026
© 2026 VoxNTT
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.