Close Menu
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
Facebook X (Twitter) Instagram
VoxNtt.comVoxNtt.com
Facebook X (Twitter) Instagram
Subscribe
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
VoxNtt.comVoxNtt.com
Home»INTERNASIONAL»Terbongkar! Inilah Strategi Militer China yang “Dicuri” Taliban dalam Merebut Afghanistan
INTERNASIONAL

Terbongkar! Inilah Strategi Militer China yang “Dicuri” Taliban dalam Merebut Afghanistan

By Redaksi24 Agustus 20215 Mins Read
Facebook Twitter WhatsApp Telegram
Delegasi Taliban saat bertemu menlu China beberapa waktu lalu (Foto: Ist)
Share
Facebook Twitter Pinterest Telegram WhatsApp

Kupang, VoxNtt.com-Alih-alih membawa misi perdamaian, China ternyata punya maksud terselebung dengan mendukung gerakan Taliban mengusai Afghanistan.

Dengan berhasil dikuasainya Kota Kabul, ibukota Afghanistan oleh kelompok Taliban, maka sesungguhnya babak baru percaturan kekuasaan dan ekonomi telah dimulai.

Selama ini China tak hanya menonton gerak-gerik Amerika di Afghanistan. Informasi intelijen Barat menyebutkan China membantu Taliban secara diam-diam mulai dari pendanaan sampai pasokan senjata.

Tak hanya itu, pengamat strategi militer juga menyebut Taliban memakai strategi China untuk menguasai Kabul. Lalu, siapa yang menyusun strategi kemenangan Taliban di Afghanistan? Jawabannya mungkin mengejutkan. Sosok itu adalah Mao Zedong.

Pemimpin revolusi Komunis China ini memiliki pengaruh yang kuat di Afghanistan. Dia bisa dianggap sebagai Bapak Perlawanan Modern: ajarannya antara lain menginspirasi gerakan FARC di Kolombia, Al Qaeda dan ISIS.

Pada tahun 2004, ahli strategi Abu Bakr Naji dari kelompok perlawanan Islam merilis dokumen yang berjudul “Managemen Kebiadaban”. Artikel ini menjadi buku teks perlawanan kelompok Islam namun isinya meminjam strategi Mao Zedong.

Untuk diketahui Mao mengasah naluri militernya di garis depan dalam perang melawan pendudukan Jepang dan perang saudara untuk merebut China melawan kaum Nasionalis yang didukung Amerika.

Dia mengemukakan gagasannya tentang perang gerilya dan, kemudian disebut “perang rakyat”.

Pengamat pemikiran Mao, Dr Thomas Marks, mengatakan: Perang ala Mao adalah perang yang tidak teratur bila dibandingkan dengan perang ala Barat.

Dalam tulisannya untuk Pusat Pemberantasan Terorisme di West Point, Dr Marks menjelaskan “Tulisan-tulisan Mao sangat penting untuk mencapai dan mempertahankan keberhasilan dalam pemberontakan di Irak dan Afghanistan.”

Lalu, apa yang Mao katakan tentang perang gerilya, dan apa yang dipelajari Taliban?

Dia menunjukkan bagaimana kekuatan yang lebih kecil dapat mengalahkan yang lebih besar. Dalam bukunya, Tentang Perang Gerilya, Mao mengatakan pemberontak haruslah gesit, harus beradaptasi dan menggunakan pengetahuan dan penduduk lokal bagi keuntungan mereka.

Mao menulis, “Strategi gerilya terutama harus didasarkan pada kewaspadaan, mobilitas, dan serangan. Hal ini harus disesuaikan dengan situasi musuh, medan, jalur komunikasi yang ada, kekuatan relatif, cuaca dan situasi rakyat.”

Bagi Mao, ini adalah perang rakyat: petani hari ini adalah tentara esok hari. Dan di atas semua ini terjadi apa yang disebutnya “perang yang berkepanjangan”,pertempuran panjang dan sulit untuk melemahkan dan mengusir musuh.

Dekatnya hubungan China dan Taliban juga ditandai dengan pertemuan delegasi keduanya di China pada 28 Juli 2021 lalu. Pertemuan itu dalam rangka melakukan perbincangan mengenai situasi di Afghanistan.

Dalam kesempatan itu, Menteri Luar Negeri China Wang Yi mengatakan Taliban memiliki peran penting dalam proses perdamaian, rekonsiliasi, dan rekonstruksi Afghanistan.

China juga menyerang AS dengan menyebut penarikan pasukan AS dan NATO dari Afghanistan menunjukkan kegagalan kebijakan AS terhadap Afghanistan.

Lalu apa sebenarnya yang diincar China di Afghanistan?

Afghanistan sampai saat ini disebut memiliki cadangan sumber daya alam terbesar di dunia yang belum dieksploitasi seperti tembaga, batu bara, kobalt, merkuri, emas, dan lithium. Nilainya sangat fantastis yakni diperkirakan lebih dari USD1 Triliun.

China saat ini juga merupakan investor asing terbesar di negara tersebut bersaing dengan India.

Untuk mengunci kekuatan India yang digoncengi Amerika, China menggandeng Pakistan. Kerja sama Ekonomi China-Pakistan adalah proyek unggulan di kawasan itu . Kedua negara ini ingin melibatkan Afghanistan melalui jalur jalan raya dan kereta api.

China juga berkepentingan menggandeng Pakistan minimal pada dua hal: merintangi manuver ekonomi India di kawasan dan memastikan Taliban Pakistan tidak menyerang proyek unggulan China di sana.

Pakistan adalah sekutu China yang paling kuat dan China akan sangat bergantung pada Pakistan untuk memastikan proyek-proyeknya di Afghanistan dan secara regional aman.

Kepentingan lain China dengan berkompromi dengan Taliban juga berhubungan dengan muslim Uighur di provinsi Xinjiang.

China sebenarnya telah lama khawatir tentang Afghanistan. Afghanistan bisa menjadi pijakan bagi separatis minoritas Uighur di wilayah perbatasan sensitif di provinsi Xinjiang.

Untuk diketahui, Suku Uighur merupakan salah satu suku minoritas yang ada di China dan penduduknya rara-rata beragama Islam. Secara budaya, suku ini lebih dekat dengan bangsa Turki dari pada mayoritas bangsa Han.

Awal abad ke-20 menjadi awal munculnya suku Uighur. Mereka lalu mendeklarasikan kemerdekaan dengan nama Turkestan Timur. Dari situ, warga Uighur dicap punya kecenderungan ‘memberontak’ oleh petinggi di Beijing-Cina.

Pemerintah China juga menaruh rasa curiga pada suku Uighur. Mereka dianggap ingin melepaskan diri dari RRC. Ditambah lagi muncul isu diskriminasi dari lembaga Human Right Watch yang mengatakan lebih dari 10 juta suku Uighur dipersulit untuk membuat paspor.

Inilah yang membuat warga dari suku Uighur sulit ke luar negeri. Petugas imigrasi mewajibkan mereka menyerahkan puluhan dokumen serta wawancara untuk memeriksa ideologi politik mereka.

Jadi, masalah China dengan muslim Uighur sebenarnya lebih ke persoalan separatism karena mereka minta untuk merdeka. Di sisi lain, China bersikap sangat represif terhadap gerakan semacam itu.

Kembali ke Taliban, China akhirnya menemukan celah untuk menyelesaikan masalah separitisme Uighur. Sayangnya, langkah China ini bukan menyelesaikan persoalan. Dengan bermain mata dengan kelompok Taliban, China sebenarnya ingin menerapkan strategi cuci tangan.

Hal itu diperjelas dengan delegasi tingkat tinggi Taliban bertemu dengan Menteri Luar Negeri China Wang Yi di Tianjin akhir Juli lalu.

Taliban menjanjikan Afghanistan tidak akan digunakan sebagai basis bagi militan mana pun, termasuk separatis minoritas Uighur.

Sebagai gantinya, China menawarkan dukungan ekonomi dan investasi untuk rekonstruksi Afghanistan. Tak hanya itu, sebagai imbalan setelah dipasok uang untuk membeli senjata, sumber Barat meyakini pemberontak akan menjauh dari Uighur, yang sempat mereka dekati.

Selain Uighur, sumber intelijen meyakini China mengharapkan sumber daya mineral dan jalur perdagangan lewat Afghanistan.

Langkah ini tentu berbeda dengan strategi Amerika yang lebih memilih pendekatan militer di Afghanistan. Pendekatan China adalah melalui dukungan ekonomi seperti menciptakan jalan, menciptakan infrastruktur, dan memastikan setiap orang memiliki pekerjaan.

Bagi China, Jika semua warga Afghanistan pergi bekerja jam sembilan pagi dan pulang jam 6 sore, mereka tidak punya waktu untuk memikirkan terorisme.

(Dirangkum dari Berbagai Sumber)

Afghanistan China Taliban
Previous ArticleTaliban Kibarkan Bendera Syahadat Mirip Adegan Imo Jiwa, Joe Biden Diminta Mundur
Next Article Rumor Cristiano Ronaldo Ingin Pindah ke Liga Inggris, Berikut Empat Calon Klub Barunya

Related Posts

Dubes Indonesia untuk Zimbabwe dan Zambia Tatap Muka dengan Warga Indonesia

22 April 2022

Daftar 15 Negara Tertua di Dunia, Terbanyak di Asia

6 April 2022

Berikut Penemuan Besar Stephen Hawking yang Dikenang Dunia

4 April 2022
Terkini

Pentingnya Pendidikan Karakter dalam Membentuk Generasi Remaja Berintegritas

7 Maret 2026

Tuhan sebagai Gembala dan Bapa Yang Penuh Belaskasih dan Mengampuni 

7 Maret 2026

Surat Cinta untuk Mama

7 Maret 2026

Imigrasi Labuan Bajo Gelar Sosialisasi Bersama Desa Binaan di Kabupaten Manggarai, Cegah TPPO dan TPPM

7 Maret 2026

Demokrat Kritik Bawaslu NTT Soal Pelanggaran Pemilu 2024

7 Maret 2026
© 2026 VoxNTT
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.