Close Menu
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
Facebook X (Twitter) Instagram
VoxNtt.comVoxNtt.com
Facebook X (Twitter) Instagram
Subscribe
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
VoxNtt.comVoxNtt.com
Home»Gagasan»Harapan Tak Pernah Boleh Pudar
Gagasan

Harapan Tak Pernah Boleh Pudar

-Sekadar satu perenungan-
By Redaksi20 Oktober 20234 Mins Read
Facebook Twitter WhatsApp Telegram
P. Kons Beo, SVD
Share
Facebook Twitter Pinterest Telegram WhatsApp

“Letakan harapanmu pada belaskasih Allah dan Cinta Kristus; katakan setiap saat sambil memandang SALIB: Di sana pusat semua harapanku…”

(St. Paulus dari Salib, 1694 – 1775)

Oleh: P. Kons Beo, SVD

Terjaring banyak selera hati

Kita terlalu banyak mau-maunya. Tak sadar sederet harapan telah kita bentangkan. “Harusnya begini, maunya begitu.” Maka jalan hidup kita tak lain adalah memenuhi kerangka harapan itu. Terlalu banyak ruang kosong yang sendiri kita telah ciptakan. Dan kita sendiri dipaksa untuk harus mengisinya. Tetapi, apakah kita sanggup tiba pada ‘isi harapan pada forma itu sepenuhnya? Tak jarang, jalan tanjak harapan dengan penuh tingkungannya mesti kita lewati.

Kita bisa saja merayap dalam aneka kesulitan. Kegelapan bisa lingkupi hidup kita. Dan bahkan kehancuran pun sudah jadi milik dan kisah kita. Di sisi seberangnya, tumpukan harapan dunia luar pun satu demi satu sudah ditempatkan di pundak kita. Dunia dan sesama punya harapan tak ringan pada kita. Maka hidup tak lebih sebatas ‘mengisi dan menjawabi harapan dunia dan sesama.’ Dan, sanggup kah kita penuhi segalanya?

Kalang kabut jalan hidup jadi nyata saat harus hadapi berondongan tanya: ‘Mana kah sumpahmu? Inikah ujung dari semua janjimu? Begini kah akhir nyata dari mimipi-mimpi indahmu di saat itu? Bagai tebar janji berbulan madu ke ujung dunia. Sayangnya, “Tapi janji tinggal janji, bulan madunya hanya mimpi.” Dan lalu tertahan mati di bibir.

Dunia nan redup penuh bayang?

Dunia tak selamanya  ceriah berseri di hadapan kita. Teribarat ‘roda zaman menggilas kita, terseret tertati-tati.’ Tampaknya kita seperti di persimpangan jalan. Dikitari sejuta tanya, dan lalu bagi kita, “Entah ke mana ayunan kaki ini mesti  melangkah?”

Dan kita lalu berjuang untuk ‘bangkit dan pulang.’ Tetapi, tidak ingin ke mana-mana. Tak juga kepada siapa-siapa. Sebab kita tak ingin terjebak dalam pencitraan semu; tak hendak menimbah pengakuan publik dan pujian hampa dari siapapun yang terkadang sulit ditebak ujung maksudnya.’

Mungkinkah ada kesempatan diam barang sejenak? Demi menengadah tatapi langit? Sekadar kumpulkan kekuatan, ya energi positif itu untuk kemudian kembali kepada diri sendiri? Ada yang telah disia-siakan dari diri sendiri di hari-hari silam itu.

Apa yang telah kita ‘kumpulkan sedikit demi sedikit, kini semuanya terkesan hilang lenyap. Seperti tak tersisa lagi.’ Dan kini, apakah yang dapat kita banggakan? Sekadar kejayaan masa silam yang perlahan jadi puing tergerus dalam waktu? Diri kerap diadili dalam dua kata  penuh sesal, “Tahu begitu…..”

Sebuah titik balik penuh harapan

Tetapi, haruskah kita mesti tak tersisa sama sekali? Kata-kata bertuah ingatkan, “Salah satu respon yang kreatif terhadap kehilangan adalah tetap berharap, bahkan pada saat kita mengalami kehilangan dan kesulitan.” Segelap apapun yang memblokir di hadapan sana, selalu terdapat horison harapan yang mesti tersingkapkan.

Tentu benarlah Henri Nouwen, “Yang tidak punya harapan akan masa depan tidak akan dapat hidup secara kreatif di masa kini.” Kisah ziarah hidup setiap kita belumlah berakhir. Kita adalah insan sejarawi yang masih saja terbuka pada pada kisah-kisah kehidupan dalam berbagai kemungkinan tak terbatas. Sebab itulah, “Aku tidak pernah menjadi orang istimewa, yang punya kisah keseluruhan dan lengkap tentang siapakah aku ini.”

Setiap kita tetaplah ‘berdebu dan rentan.’ Benarlah, jika sekiranya kita tak berani hadapi kerentanan penuh debu, kita mudah terperangkap dalam penjara ‘tipu diri sendiri yang paling keji.’ Kita sering tergoda untuk bersibuk kata, seperti tak pernah puas dan terus saja berselancar tentang ‘kerentanan dan debu tanah punya sesama’ sambil berilusi bahwa seolah-olah ‘kitalah yang istimewa dan terbentuk seluruhnya dari logam mulia surgawi.’

Selembar Harapan kita tenun dalam iman

Karenanya, harapan itu tak pernah boleh pudar dan dibikin redup.  Betapapun kerasnya kehidupan di kefanaan ini. Di alam kenestapaan dan jatuh dalam kegetiran hidup, memang terdengarlah riuh suara  ‘gembira bertepuk tangan’ di sisi kiri. Namun, sekeras dan sederas apapun ‘gelak tawa’ dan tepuk tangan di sisi kiri itu, bagaimanapun di sisi kanan, selalu ada ‘tangan-tangan sunyi’ yang menarik kita kembali untuk beharap.

Marilah kita berpasrah dalam iman, bahwa di atas segalanya, “Di dalam Kristus, seluruh cerita setiap kita, mulai saat kelahiran hingga pada kematian, diangkat ke dalam hidup ilahi.”

Rasul Paulus berseru penuh peneguhan, “Dalam segalanya kami ditindas, namun tidak terjepit; kami habis akal, namun tidak putus asa; kami dianiaya, namun tidak ditinggalkan sendirian, kami dihempaskan namun tidak binasa” (2 Korintus 4:8-9). Tangan Tuhan selalu menyertai…..

Kita tetap percaya pada DIA yang hidup dan menghidupkan harapan di dalam diri dan pada jalan hidup setiap kita. Bahkan dalam derita, dan kematian di SALIB, tetap terpantul harapan penuh berkah. Ya, di dalam DIA dan bersama DIA, sesungguhnya kita  tak bakal mati di dalam hidup…

Verbo Dei Amorem Spiranti

Collegio San Pietro – Roma

P. Kons Beo SVD
Previous ArticleDPD II Golkar TTS Dapat Bantuan Mobil Ambulans dari Yellow Clinic dan IIPG Pusat
Next Article HUT Golkar ke-59, Melki Laka Lena: Kita Terus Warisi Api Perjuangan

Related Posts

Cerdas Digital Saja Tidak Cukup: Haruskah Psikologi Jadi Pelajaran Wajib di Sekolah?

6 Maret 2026

Memburu “Hantu”, Memukul Manusia, dan Psikologi Sosial

6 Maret 2026

Pastor Sumber Ajaran Moral, Jangan Bela Pelaku TPPO

4 Maret 2026
Terkini

Pengkab Taekwondo Sumba Barat Daya Dukung Ridwan Angsar Jadi Ketua Pengprov TI NTT

6 Maret 2026

Nama Wakil Ketua DPRD NTT Dicatut dalam Dugaan Penipuan Lowongan Kerja, Ratusan Orang Mengaku Jadi Korban

6 Maret 2026

Golkar NTT Umumkan Pengurus Baru 2025–2030, Targetkan Musda Kabupaten Rampung April

6 Maret 2026

Cerdas Digital Saja Tidak Cukup: Haruskah Psikologi Jadi Pelajaran Wajib di Sekolah?

6 Maret 2026

Rumah Harapan untuk Regina Uner di Cibal Barat Rampung 100 Persen

6 Maret 2026
© 2026 VoxNTT
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.