Close Menu
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
Facebook X (Twitter) Instagram
VoxNtt.comVoxNtt.com
Facebook X (Twitter) Instagram
Subscribe
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
VoxNtt.comVoxNtt.com
Home»Gagasan»Tugas Imam: Antara Altar Ekaristi, Meja Belajar, dan Angkat Martabat Ciptaan
Gagasan

Tugas Imam: Antara Altar Ekaristi, Meja Belajar, dan Angkat Martabat Ciptaan

Altar ini bukan hanya sebuah tempat fisik, tetapi juga mewakili pemanggilan umat untuk hidup dalam persatuan dengan Kristus dan dengan sesama.
By Redaksi28 Agustus 20245 Mins Read
Facebook Twitter WhatsApp Telegram
Sekjen BMPS Indonesia, Dr. Vinsensius Darmin Mbula, OFM (Foto: Dok. Pribadi)
Share
Facebook Twitter Pinterest Telegram WhatsApp

Oleh: Pater Vinsensius Darmin Mbula, OFM 

Ketua Presidium Majelis Nasional Pendidikan Katolik (MNPK) 

Pastor Eddy Menori, sahabat saya mengirimkan sebuah video melalui aplikasi WhatsApp. Saya dikirimi oleh rekan pastor dari Wajor, Keuskupan Labuan Bajo sebuah video tentang pastoral sekolah. “Baru kali ini seorang pastor paroki memperhatikan pendidikan kami di sekolah..” pembukaan kalimat pertama dalam video ini.

Video berdurasi 9.44 menit ini berisi tentang berbagai macam kegiatan pastor paroki mulai dengan rekoleksi guru-guru, kunjungan ke sekolah, misa sekolah dan sambut baru dan masih banyak  kegiatan lain lagi.

Setelah menyimak isi video ini, lantas dalam pikiranku terlintas pertanyaan ini:  “bagaimana  hubungan antara tugas seorang imam untuk mempersembahkan misa di altar, tugas seorang guru di meja belajar sekolah, dan mengangkat martabat manusia, serta memulihkan kelestarian alam sebagai sebuah inti tindakan pastoral sekolah holistik”?

Hal ini dapat dipahami melalui perspektif pendidikan Katolik yang menekankan kesatuan antara iman, pembelajaran, dan tanggung jawab terhadap ciptaan.

Pendekatan ini mengintegrasikan nilai-nilai spiritual, akademik, dan ekologis dalam membentuk individu yang bermartabat, bertanggung jawab, dan sadar akan pentingnya menjaga planet bumi   sebagai bagian dari misi pastoral pendidikan  Gereja.

Altar Ekaristi dan Meja Belajar Sekolah

Altar ekaristi di dalam Gereja Katolik adalah simbol pusat dari iman Kristen, tempat di mana umat beriman merayakan sakramen Ekaristi sebagai peringatan akan pengorbanan Kristus dan sumber hidup rohani.

Altar ini bukan hanya sebuah tempat fisik, tetapi juga mewakili pemanggilan umat untuk hidup dalam persatuan dengan Kristus dan dengan sesama.

Meja belajar sekolah, di sisi lain, adalah tempat siswa mengejar pengetahuan dan mengembangkan intelektualitas mereka.

Di dalam konteks sekolah Katolik, meja belajar tidak hanya melayani tujuan akademik tetapi juga menjadi alat pembelajaran yang mengarahkan siswa kepada pencarian kebaikan, kebenaran, keindahan serta keheningan kontemplatif yang pada akhirnya mengarah kepada Tuhan.

Pendidikan di sekolah Katolik menekankan bahwa semua ilmu dan pengetahuan adalah bagian dari pencarian yang lebih besar akan kebijaksanaan ilahi.

Hubungan antara altar ekaristi dan meja belajar adalah kesatuan dalam pencarian kebenaran dan makna hidup.

Seperti altar yang menjadi pusat kehidupan rohani, meja belajar adalah pusat kehidupan intelektual di sekolah.

Keduanya bekerja bersama untuk membentuk siswa menjadi pribadi yang utuh: memiliki pengetahuan yang luas, kebijaksanaan, dan spiritualitas yang mendalam.

Martabat Manusia dalam Pendidikan Katolik

Martabat manusia merupakan konsep mendasar dalam ajaran Gereja Katolik. Setiap manusia diciptakan menurut gambar dan rupa Allah (Kejadian 1:27) dan karena itu memiliki martabat yang tak tergantikan dan hak-hak yang melekat.

Pendidikan Katolik bertujuan untuk mempromosikan dan melindungi martabat manusia ini dengan mengembangkan seluruh potensi siswa: intelektual, fisik, moral, dan spiritual.

Dalam konteks sekolah, martabat manusia diwujudkan melalui: Pendidikan Inklusif dan Berkeadilan: Setiap siswa dihargai dan didukung untuk berkembang sesuai dengan kemampuan dan bakat masing-masing.

Pengembangan Karakter dan Moral: Pendidikan tidak hanya berfokus pada pencapaian akademik tetapi juga pada pembentukan karakter siswa agar menjadi individu yang bermoral, beretika, dan bertanggung jawab.

Penghormatan terhadap Setiap Individu: Memastikan bahwa setiap siswa diperlakukan dengan hormat dan cinta kasih, sesuai dengan nilai-nilai Kristiani.

Martabat manusia ini dihubungkan dengan altar ekaristi karena melalui Ekaristi, umat Katolik dipanggil untuk menjadi satu dengan Kristus dan, dalam semangat persatuan kasih persaudaraan ini, menghargai dan menghormati martabat setiap orang sebagai saudara dan saudari dalam Kristus sekaligus menyapa semua makhluk ciptaan sebagai saudara dan saudari.

Lestari Alam dan Pendidikan Ekologis

Kelestarian alam adalah tanggung jawab yang diakui dalam ensiklik Laudato Si oleh Paus Fransiskus, yang menekankan panggilan untuk menjaga bumi sebagai rumah bersama kita.

Pendidikan Katolik mengajarkan bahwa manusia adalah penatalayan ciptaan Allah dan bertanggung jawab untuk menjaga dan merawat alam.

Dalam konteks pastoral sekolah holistik: Edukasi Ekologis: Sekolah mengajarkan siswa tentang pentingnya menjaga lingkungan melalui kurikulum yang mencakup studi tentang ekologi, keberlanjutan, dan etika lingkungan.

Keterlibatan dalam Aksi Lingkungan: Sekolah mendorong siswa untuk terlibat dalam tindakan nyata yang mendukung kelestarian alam, seperti program daur ulang, penanaman pohon, atau konservasi energi.

Pengintegrasian Spiritualitas dan Tindakan: Tindakan merawat alam diintegrasikan dengan ajaran spiritual Gereja, yang menekankan bahwa menjaga ciptaan adalah bagian dari menghormati Tuhan sebagai Pencipta.

Tindakan Pastoral Sekolah Holistik

Tindakan pastoral sekolah holistik mencakup semua aspek ini dengan cara yang terintegrasi.

Altar ekaristi, meja belajar sekolah, martabat manusia, dan kelestarian alam semuanya dipandang sebagai bagian dari keseluruhan pendidikan yang membentuk individu untuk menjadi orang yang utuh dan kudus, baik dalam iman maupun tindakan hirau peduli lestari alam.

Altar ekaristi mengajarkan pengorbanan, persatuan, persaudaraan  kasih dan persahabatan sosial, yang kemudian diterjemahkan dalam meja belajar sebagai pencarian kebenaran dan pembelajaran yang adil serta berorientasi pada kebaikan bersama.

Martabat manusia dihargai dan dikembangkan melalui pendidikan yang mengintegrasikan nilai-nilai moral dan spiritual dalam pembelajaran akademik dan praktis.

Kelestarian alam diajarkan sebagai bagian dari tanggung jawab moral dan spiritual untuk merawat ciptaan Tuhan, yang dipraktekkan melalui kurikulum dan kegiatan sekolah yang mempromosikan keberlanjutan dan kesadaran lingkungan.

Dengan pendekatan ini, pendidikan di sekolah Katolik tidak hanya menghasilkan siswa yang cerdas dan berpengetahuan, tetapi juga membentuk individu yang peduli, bertanggung jawab, dan terlibat aktif dalam menjaga martabat sesama manusia dan lingkungan hidup  mereka. Ini baru Pastor memperhatikan pendidikan kami di sekolah.

Pendekatan holistik dalam pendidikan ini mengintegrasikan iman, pembelajaran, dan tindakan yang selaras dengan nilai-nilai Kristiani, memastikan bahwa siswa tidak hanya memahami dunia mereka tetapi juga bagaimana mereka dapat berkontribusi secara positif untuk menjadikannya tempat yang lebih baik.

Daftar Pustaka

1. Paus Fransiskus. Laudato Si: On Care for Our Common Home. Vatican Press, 2015.
2. Congregation for Catholic Education. Educating Today and Tomorrow: A Renewing Passion.Vatican City, 2014.
3. Groome, Thomas H. Educating for Life: A Spiritual Vision for Every Teacher and Parent. Crossroad Publishing Company, 1998.
4. John Paul II. Fides et Ratio: On the Relationship between Faith and Reason. Vatican Press, 1998.
5. Ryan, Maurice, dan Geraldine Ditchburn. Catholic Schools: Mission, Purpose, and Curriculum. Vaughan Publishing, 2019.
6. Moran, Gabriel. Showing How: The Act of Teaching. Trinity Press International, 1997.

Pater Vinsensius Darmin Mbula
Previous ArticlePembangkangan dan Panggung Sandiwara Demokrasi
Next Article Pasangan Melki-Johni Jalani Pemeriksaan Kesehatan di RSUP Ben Mboi

Related Posts

Tanah Ulayat, Identitas, dan Derita Sosial

6 Maret 2026

Cerdas Digital Saja Tidak Cukup: Haruskah Psikologi Jadi Pelajaran Wajib di Sekolah?

6 Maret 2026

Memburu “Hantu”, Memukul Manusia, dan Psikologi Sosial

6 Maret 2026
Terkini

Cerpen: Mata Tua di Tubuh Bayi Bole Wote

6 Maret 2026

Tanah Ulayat, Identitas, dan Derita Sosial

6 Maret 2026

Desa Golo Riwu Tetapkan APBDes Tahun Anggaran 2026, KMP dan MBG Jadi Fokus Utama

6 Maret 2026

Rote Ndao Siap Jadi Tuan Rumah Selancar Ombak PON 2028

6 Maret 2026

Polres Manggarai Limpahkan Dua Tersangka Kasus Narkotika ke Kejaksaan

6 Maret 2026
© 2026 VoxNTT
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.