Ruteng, Vox NTT- Kepala Kepolisian Resort Manggarai Barat (Kapolres Mabar) AKBP Bambang Hari Wibowo diduga terlibat dalam tindakan jual beli tanah di Golo Mori, Desa Golo Mori, Kecamatan Komodo. Dugaan keterlibatan orang nomor satu di Polres Mabar itu disampaikan oleh Koordinator Justice, Peace and Integrity of Creation – Societas verbi Divini (JPIC-SVD) Ruteng, Pastor Simon Suban Tukan. Pastor Simon mengungkapkan, berdasarkan hasil asesmen lapangan, tim JPIC SVD Ruteng melihat bahwa kasus ini sulit diselesaikan karena diduga aparat Polres Mabar terlibat. “Dugaan itu diperkuat dengan pengakuan dari penjual tanah di Rase Koe bernama Yasin bahwa ia menjual tanah tersebut ke salah…
Penulis: Redaksi
Oleh: Mario Paul (Mahasiswa UNIKA-Kupang) Pandemi Covid-19 masih terus berkanjang di dunia hingga saat ini. Sebuah pertanyaan hadir dalam benak penulis, kapan pandemi Covid-19 musnah dari muka bumi ini? Melihat dari situasi dan kondisi yang terjadi di lapangan, sebuah hipotesis muncul bahwa pertanyaan tersebut mungkin akan tetap menjadi pertanyaan. Banyak terjadi “kejutan” akibat pandemi ini, salah satunya ialah diberlakukannya metode belajar online dalam ranah pendidikan. Seiiring berjalannya waktu dan situasi yang terjadi di lapangan, metode belajar online akan menjadi sebuah “kultur baru”. Kehadiran virus Corona membawa dampak yang sangat signifikan di setiap bidang kehidupan. Berbagai hal berjalan tidak sebagaimana…
Ende, Vox NTT – Seorang pria berinisial BS ditemukan tak bernyawa di bawah kolong jembatan Mbongowani di Jalan Hatta, Kelurahan Mbongowani, Kecamatan Ende Selatan, Jumat (24/09/2021). Pria tersebut merupakan warga RT/RW 001/001, Dusun Kopondopo, Kelurahan Roworena, Kabupaten Ende, yang berprofesi sebagai wiraswasta. Kepala Satuan Reserse dan Kriminal (Satreskrim)Polres Ende, Iptu Yohanes Suhardi mengatakan, korban BS ditemukan oleh segerombolan anak kecil sekira pukul 12.30 Wita. Dia menjelaskan, pada Kamis (23/09/2021), korban BS masih berada di lapak jualannya yang berada di Pasar Mbongawani Ende. “Namun pada Jumat (24/09/2021), segerombolan anak kecil menemukan BS yang sudah tak bernyawa di bawah bawah kolong pelabuhan…
*Cerpen Oleh: Lilin Sampai hari ini, di kepalaku sering muncul gambaran seorang perempuan. Beberapa hari ini ia sering mengeluh sakit punggung, sesak napas, karena fundusnya kian membesar setinggi gunung. Katanya beberapa waktu lagi fundus itu akan pecah dan akan lahirlah dua tubuh, yang bisa jadi sama denganku atau dengan suamiku. Pastinya aku akan senang sekali. Meskipun suamiku tidak terlalu bahagia, tetapi mau tidak mau karena tubuh-tubuh itu adalah bagian dari dirinya. Lagian dengan bertumbuhnya tubuh itu tidak akan menghabisi tubuh kita. Hanya mungkin tubuh kita akan sedikit bengkok karena mesti berbagi tempat secara utuh. Perempuan itu mengatakan lagi, setiap malam…
Realita Realita merobek manusia Karena luka menganga si lara Di bawah akhir sejahtera Mereka mengorek tanya Kapan kami berada? Realita merobek hati Menunggu, menanti Bersama putra dan putri Yang hampir mati Korban cacat hati Miskin kasih Pengidap monopoli Realita tersakiti Suka si dasi? Ia bertanya dalam perih Tertawa? Berpora dalam duka Mengisahkan suka semesta Mereka lupa pada kata Terbuai dunia Oh! Durhaka berulah Realita berdarah Terbuai korupsi Tertawan dalam tawa Hedonis politik Suka si dasi Nepotisme karib politik Realita menuntut janji Rasa senasip Lupa akan karsa Rasis meraja lela Isu SARA mebabibuta Lantas, kita senasib? …
*Cerpen Oleh: Venan Antus Mungkin benar yang pernah engkau katakan. Kisah hidup kita tak selalu sama. Cara meraih masa depan pun tak selalu sama meskipun kita memiliki tujuan hidup yang sama. Aku berpijak pada bumiku di sini dan engkau menjunjung langitmu di sana. Kita terpisahkan oleh jarak. Kita adalah dua dari seribu manusia yang sedang mengejar mimpi yang selalu dimogakan. Jarak terkadang menyakitkan. Jarak terkadang menciptakan rindu yang adalah hukuman bagi dua orang yang saling mencintai. Jarak menghadirkan sejuta tanya, memoles seribu kepalsuan bahkan menghadirkan kecurigaan. Jarak juga menghadirkan sebuah keraguan, meski pada sebuah kesetian yang tulus. Di sini aku…
*Cerpen Oleh: Fiktor Sengga Masih segar dalam ingatanku. Tak terkecuali. Seakan memutar kaset usang yang selalu kuputar berulang kali tanpa kata henti dan juga bosan. Kali ini kuputar kembali bukan dengan air mata seperti yang lalu, namun sebuah senyum terbit sebagai tanda pelepas rindu. Rindu yang selalu menderaku, menikamku pada asa yang tak dapat kugapai. Semua terasa sesak dalam relungku. Hingga mungkin pernah inginku mati agar mengakhiri rindu yang berat. Anastasia, memang benar cerita ini adalah satu dari ragam khayalku itu, untuk kemudian menjadi suatu kemungkinan ataupun kenyataan dan tetap menjadi sebuah rahasia. Jalinan asmara dan cerita kita dulu hilang…
*Antologi Puisi Rejeng Vox Aku Kembali Belajar Rindu Kepada embun yang bertengger di ujung daun Kepada mimpi-mimpi yang membadai Seolah-olah dirampok para penyamun Juga kepada kata-kata yang tiba-tiba dingin ditelan kabut halimun Kepada jalan setiap pagi yang tubuhnya disesaki anak-anak sekolah Orang-orang yang berangkat ke pasar, ke kantor, ke pabrik, ke tempat yang bisa menyangkutkan mimpi Aku kembali belajar rindu kepada sajak-sajak Yang dirangkai kata-kata tak berjarak Yang selama ini dibuat jurang di antara kelompok Juga kepada tubuh-tubuh yang menjadi puisi, saat senja akan menjauh, dan malam yang akan luruh Juga, tentu kepada dirimu Aku kembali belajar…
*Puisi Perjuangan Ayah Ibu Jago mulai berkokok subuh telah tiba. Ayah memikul cangkul ibu menjunjung bakul melewati pematang sawah Langit pun terlihat gelap ayah ibu hilang sejak waktu itu kala semua dalam pembaringan hangatnya subuh. Gelisah…gelisah….gelisah….di mana ayah ibu. Menunggu hanya menunggu sampai hujan datang lalu pergi kembali. Ada tangisan terisak-isak di sudut pagi mengingat kisah mereka, saat ayah ibu menyiksa tubuh hingga lelah kala senyuman tak pernah pudar di wajah mereka Penulis: Elle Manuk, mahasiswa semester 1.
*Puisi Sepercik kisah Hei, kau yang duduk termenung di ujung sana Yang menata hari dengan tangisan Melukis kisah dengan titik titik tinta hitam Dan Menjadikannya sebuah cerita malam… Hei, kau sang pelukis hari yang berdiri di ujung tebing Yang melihat dan menata selembar kenangan yang telah kusam Yang di simpan dalam cerita hidup…. Hei, apakah masih ada ingatan yang merajut kisahku Dalam sebuah kertas kusam Yang telah dibuang dan diinjak seribu hinaan… Hei, ini aku sang penikmat senja di ujung timur Yang terus melukis sebuah kisah… Penulis: Angelinus Rigan Laku Leto
