Close Menu
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
Facebook X (Twitter) Instagram
VoxNtt.comVoxNtt.com
Facebook X (Twitter) Instagram
Subscribe
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
VoxNtt.comVoxNtt.com
Home»Regional NTT»Festival Gawi Ramaikan HUT ke-63 SMAK Syuradikara, Ende
Regional NTT

Festival Gawi Ramaikan HUT ke-63 SMAK Syuradikara, Ende

By Redaksi29 September 20161 Min Read
Facebook Twitter WhatsApp Telegram
Tarian Gawi asal Ende, Flores, NTT (Foto: mataflores.com)
Share
Facebook Twitter Pinterest Telegram WhatsApp

Ende, VoxNtt.com-Menyambut HUT ke-63 SMAK Syuradikara, HUT ke-4 SMK Syuradikara serta pesta emas imamat Pater Bernadus Kota, SVD, SMAK Syuradikara Ende menyelenggarakan festival gawi (tarian khas Ende, Red) antar kecamatan di lapangan sepakbola SMAK Syuradikara, Kabupaten Ende, Selasa malam, 27/9/2016.  Disampaikan Pos Kupang, Festival ini diikuti para peserta dari sembilan kecamatan di Kabupaten Ende.

Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan, Silvester Keu, mengatakan pelaksanaan HUT kali ini agak berbeda dengan sebelumnya. Jika sebelumnya diisi dengan sejumlah kegiatan modern seperti drum band, namun saat ini diisi dengan kegiatan tradisional yang berbasis budaya lokal Ende-Lio seperti tarian gawi. Diharapkan dengan tarian gawi tersebut dapat menumbuhkan semangat kecintaan generasi muda akan budaya lokal.

Sementara itu, Wakil Bupati Ende, Drs. Djafar Achmad, saat membuka kegiatan festival lomba gawi mengatakan, kehadiran internet, televisi dan majalah yang banyak menampilkan kebudayaan asing membuat para remaja selalu ingin mencoba dan meniru budaya asing tersebut.

“Kondisi inilah yang mengakibatkan kebudayaan lokal kurang memiliki minat dan cenderung dianggap kuno atau ketinggalan zaman” tegasnya (VoN)

Ende
Previous ArticleDi Matim, Harga Cengkeh Menurun Drastis
Next Article Agas: Gertak Bersama Hasilkan Padi Melimpah

Related Posts

Pasien ODGJ Dipasung Selama Dua Tahun di Welak Akhirnya Dibebaskan

12 September 2026

Brimob Operasikan Watergen, Hasilkan 950 Liter Air Bersih per Hari untuk Pengungsi Gempa di Reok

3 September 2026

SMAN 3 Cibal Semarakkan Hari Pramuka ke-65 dengan Perkemahan dan Beragam Lomba

14 Agustus 2026
Terkini

Ketika Manusia Menghapus Wajah Sesamanya

13 September 2026

Pasien ODGJ Dipasung Selama Dua Tahun di Welak Akhirnya Dibebaskan

12 September 2026

Herman Musakabe Desak Kapolri Ungkap Tuntas Penembakan Tiga ASN di Jayawijaya

12 September 2026

Ketika Doa Menjadi Kekuatan bagi Penyintas Gempa

12 September 2026

Pekan Depan, Janda Muda Asal Ngada Jalani Sidang Perdana Dugaan Pencemaran Nama Baik

12 September 2026
© 2026 VoxNTT
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.