Close Menu
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
Facebook X (Twitter) Instagram
VoxNtt.comVoxNtt.com
Facebook X (Twitter) Instagram
Subscribe
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
VoxNtt.comVoxNtt.com
Home»Regional NTT»Di Hari Ketiga, Ritual ‘Nampo’ Warnai Pencarian Jasad Angelinus
Regional NTT

Di Hari Ketiga, Ritual ‘Nampo’ Warnai Pencarian Jasad Angelinus

By Redaksi16 November 20163 Mins Read
Facebook Twitter WhatsApp Telegram
Share
Facebook Twitter Pinterest Telegram WhatsApp

Ruteng, VoxNtt.com- Hingga hari ini, Rabu (16/11/2016), upaya pencarian jasad Angelinus Tifano Leumatawua (16), siswa kelas 1 SMK Karya Ruteng masih terus dilakukan oleh Badan SAR Nasional (Basernas) Pos Labuan Bajo.

Angelinus tenggelam dan hilang di air terjun Cunca Lega, Desa Tengku Lese, Kecamatan Rahong Utara, Kabupaten Manggarai-Flores pada Minggu, 13 November 2016 lalu sekitar pukul 12.00 Wita. Sat itu ia bersama empat temannya sedang berekreaksi sambil bercumbu ke dalam kolam di bawah air terjun tersebut.

Di hari ketiga pencariannya, tim SAR sempat mencari korban dengan melakukan penyelaman ke dasar kolam. Selanjutnya di pertengahan hari memasuki jam makan siang, proses pencarian jasad diisi dengan ritual adat ‘Nampo’ oleh warga sekitar bersama tim SAR.

Nampo dalam kepercayaan adat Manggarai merupakan ritual untuk meminta kepada roh penjaga alam semesta atau para leluhur untuk mengembali benda atau orang yang hilang.

Ritual adat yang dilakukan tepat di samping barat air terjun Cunca Lega ini dipandu langsung  oleh Lorens Jantu, Tua Adat Kampung Bonar, Desa Pong Lengor-Rahong Utara. Kampung ini dekat dengan tempat kejadian perkara (TPK).

Setelah berdoa kepada penjaga alam Cunca Lega, masyarakat kemudian menyembeli seekor kambing sebagai kurban persembahan dalam ritual Nampo.

Sil Jumin (51), warga Bonar yang ditemui VoxNtt.com usai prosesi adat di Cunca Lega mengaku, beberapa tahun silam pernah terjadi kematian tragis salah seorang warga dari kampung itu. Ia meninggal lantaran jatuh di air terjun pertama di Cunca Lega.

Kata dia, warga tersebut jatuh ke dalam jurang air terjun hingga meninggal saat berburu babi hutan bersama teman-temannya. Konon, beberapa teman perburuannya mengejar babi dari arah selatan menuju utara mengikuti arus sungai mengalir. Sementara, warga yang meninggal itu menunggu di bagian utara tepatnya di ujung jurang air terjun pertama itu.

“Katanya, seekor babi hutan itu berlari menuju utara hingga menabrak warga yang meninggal itu dan ia akhirnya jatuh ke dalam jurang,” aku Sil.

Usai jatuh ke dasar, lanjut Sil, warga itu pun langsung hilang. Jasadnya kemudian ditemukan usai melakukan ritual yang sama yaitu Nampo.

“Makanya tadi itu ada bawa tombak juga. Karena dia dulu gunakan tombak saat berburu babi hutan. Acara Nampo ini dibuat untuk meminta kepada arwah dari yang pernah jatuh itu agar segera memberitahukan jasad yang hilang ini,” katanya.

Basilius Wahu, warga Nanu Desa Buar-Rahong Utara yang juga hadir menyaksikan prosesi adat itu mengatakan, biasanya setelah penyembelian hewan kurban semua orang harus meninggalkan tempat tersebut paling sedikit tiga jam dan paling lama satu malam.

“Tadi ini kan kita disuruh tiga jam meninggalkan tempat ini. Hal itu bertujuan agar para leluhur memberitahukan orang yang hilang,” jelas Basilius.

“Acara adat ini dibuat tadi, katanya ada mimpi keluarga korban harus melakukan hal ini. Katanya, dalam mimpi mereka prosesi ini harus dipimpin langsung tua adat kampung Bonar, sebab warga mereka yang pernah meninggal di sini,” tambah Basilius.

Pantauan media ini, usai warga Kampung Bonar melakukan ritual Nampo, sore harinya warga kampung Tebo yang juga dekat dengan Cunca Lega juga melakukan ritus adat di tempat tersebut.

Proses pencarian sempat tersendat lantaran arus baterei senter sebagai alat pelengkap penyelaman habis.

Kebutuhan baterei akhirnya bisa terpenuhi setelah dibawa tim BPBD Manggarai. Mereka baru datang ke pos pencarian di pertengahan hari. (AA/VoN).

Manggarai
Previous ArticlePolres Mabar Gelar Operasi Zebra Turangga Hingga 29 November
Next Article Pemkab Ngada Alokasikan 204,4 M untuk Air, Listrik dan Jalan

Related Posts

Edi Hardum Minta Menteri HAM Awasi Penanganan Laporan Bupati Hery Nabit di Polres Manggarai

4 Juni 2026

Advokat Publik Nilai Laporan Bupati Manggarai terhadap Edi Hardum Tidak Sesuai Mekanisme UU Pers

3 Juni 2026

‘Gema Mabar’ Diluncurkan, Pemkab Manggarai Barat Fokus pada Ketahanan Pangan hingga Pariwisata Berkelanjutan

2 Juni 2026
Terkini

Menteri Transmigrasi RI Serahkan Bantuan Sembako untuk Masyarakat Translok di Manggarai Barat

4 Juni 2026

Alarm dari Kupang: Reformasi Radikal Pengendalian PAD

4 Juni 2026

Pemkab Manggarai Barat Usulkan Satgas Perizinan untuk Perkuat Pengawasan Usaha

4 Juni 2026

Menteri Transmigrasi RI Tinjau Pembangunan Sanitasi dan Lokasi HPL di Manggarai Barat

4 Juni 2026

Kejari Manggarai Barat Pulihkan Kerugian Negara Rp2,09 Miliar dari Dua Kasus Korupsi

4 Juni 2026
© 2026 VoxNTT
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.