Close Menu
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
Facebook X (Twitter) Instagram
VoxNtt.comVoxNtt.com
Facebook X (Twitter) Instagram
Subscribe
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
VoxNtt.comVoxNtt.com
Home»Regional NTT»Masyarakat Adat Nangahale Tanam Kembali Areal Mangrove di Muara Wairhek
Regional NTT

Masyarakat Adat Nangahale Tanam Kembali Areal Mangrove di Muara Wairhek

By Redaksi22 November 20162 Mins Read
Facebook Twitter WhatsApp Telegram
Share
Facebook Twitter Pinterest Telegram WhatsApp

Sikka, VoxNtt.com- Untuk mengatasi ancaman abrasi, masyarakat adat Nangahale menanami kembali areal mangrove yang diduga dirusakkan pada awal Juni 2016 oleh bekas pemegang hak atas tanah HGU Patiahu-Nangahale.

“Kami sekitar 30 orang menanam bakau di pesisir pantai tepatnya di muara kali Wairhek pada Jumad, 18 November kemarin,” ujar tokoh perempuan, Yustina Yusmiati kepada Vox NTT saat ditemui di Maumere pada Senin, (21/11).

Yustina menambahkan tujuan penanaman ini untuk memperbaiki pohon-pohon yang sudah dirusak dan sekaligus menjaga nuba tempat ritual kami di tepi muara tersebut.

Foto: Bekas areal mangrove yang telah digusur. Lokasi, arah barat ( samping kiri) muara Kali Wairhek di Utang Wair, Nangahale
Foto: Bekas areal mangrove yang telah digusur. Lokasi, arah barat ( samping kiri) muara Kali Wairhek di Utang Wair, Nangahale

Masyarakat adat sebelumnya juga melalukan penanaman pertama dilakukan pada (7/11) lalu.

Ditanya perihal dari mana mereka mendapatkan anakan, Yustina menjelaskan mereka mengumpulkan anakan bakau dari kawasan sekitar.

Lokasi mangrove yang dimaksud terletak tak jauh dari tambak garam milik pemegang hak.

Pantauan Vox NTT di lokasi dimaksud tepat di samping barat muara yang sebelumnya merupakan areal mangrove, telah berubah menjadi kolam-kolam sedalam 1,5 meter.

Pengurus LPMA Pematuli, Rikus menduga kolam-kolam tersebut hendak digunakan untuk membudidayakan ikan air tawar.

“Pengrusakan mangrove tersebut sudah dilaporkan ke pihak BLHD Sikka dan Kehutanan. Namun, sampai saat ini belum ada tanggapan,” ujarnya.

Pihak BLHD dan Kehutanan sempat turun ke lokasi namun setelah mereka kembali tidak ada tindak lanjut apa pun atas laporan masyarakat tersebut. (Are/VoN)

Sikka
Previous ArticleTerkuak, Motor Macet Karena Bensin Dicampur Solar
Next Article Kejari Ende: Kasus bansos tahun 2009 dan 2010 rugikan negara 2,4 miliar

Related Posts

SMAN 3 Cibal Semarakkan Hari Pramuka ke-65 dengan Perkemahan dan Beragam Lomba

14 Agustus 2026

Jalan Tani di Compang Dalo Diblokade Brimob, Lahan Diklaim Aset Polri

14 Agustus 2026

DPRD Manggarai Tinjau TPA Ncolang, Minta Pemkab Siapkan Dana Taktis untuk Tangani Keluhan Sampah

13 Agustus 2026
Terkini

Kebijakan “Ambil Dulu, Bayar Kemudian” Gubernur NTT Direalisasikan di Golo Mendo

26 Agustus 2026

Sheline Lana Tanggung Biaya Sekolah Anak di Wae Ri’i yang Orangtuanya Meninggal Akibat Gempa

26 Agustus 2026

BSI KCP Labuan Bajo Gandeng TNI AL Serahkan Bantuan ke Kecamatan Macang Pacar

26 Agustus 2026

Istri Wagub NTT Pantau Rumah Warga Terdampak Gempa di Manggarai

26 Agustus 2026

PUPR NTT Verifikasi 300 Rumah Terdampak Gempa di Desa Golo Mendo

26 Agustus 2026
© 2026 VoxNTT
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.