Balkis Soraya Tanof
alterntif text

Kota Kupang, VoxNtt.com-Beberapa hari lagi Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) akan memasuki usianya yang ke-58 tahun, tepatnya pada 20 Desember 2016 mendatang.

Di usia yang tergolong sangat tua ini masih banyak persoalan kemanusiaan yang melilit pembangunan di NTT, terutama masalah diskriminasi terhadap perempuan dan anak serta human trafficking yang masih sangat tinggi.

Seorang tokoh perempuan NTT, Balkis Soraya Tanof dalam perbincangan bersama VoxNtt.com, Jumat (09/12) mengatakan, saat ini hak dan partisipasi perempuan dalam bidang politik memang semakin meningkat, banyak perempuan yang masuk di parlemen.

Namun demikian, mereka (red: perempuan) belum mampu menduduki jabatan-jabatan strategis, misalnya jadi ketua fraksi, ketua komisi atau posisi strategis lainnya yang bersentuhan dengan kebijakan publik.

Menurutnya hal ini penting agar mereka dapat terlibat penuh dalam memproduksi regulasi-regulasi yang berpihak pada kepentingan perempuan dan anak yang akhir-akhir ini sering menjadi korban kekerasan, baik kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) maupun menjadi korban human trafficking.

Dosen sosiologi pada Universitas Nusa Cendana ini juga menyentil hari Hak Asasi Manusia yang jatuh pada hari ini, Sabtu (10/12). Ia mengatakan masalah perempuan dan anak ini harus menjadi perhatian serius pemerintah provinsi NTT.

Menurutnya tingkat diskriminasi terhadap kaum perempuan dan anak ini merupakan wujud nyata lemahnya perlindungan negara terhadap perempuan dan anak.

“ Mereka seolah-olah kaum yang dimarginalkan yang tak pernah merasakan kehadiran negara dalam kehidupan yang mereka hadapi” ujar Balkis.

Eksploitasi anak-anak di bawah umur misalnya ditemukan setiap hari sedang berjualan koran di jalan Eltari, Kota Kupang.

“Mereka  mendorong grobak di pasar dan jadi buruh kasar adalah bentuk nyata kekerasan terhadap anak dibawah umur” ungkap Balkis.

Menyangkut jumlah korban HIV/AIDS yang menimpa perempuan khususnya Ibu rumah tangga yang semakin meningkat, ia sangat menyayangkan hal tersebut.

“Ini tentu merupakan sebuah kenyataan pahit yang dialami perempuan kita di NTT sekaligus merupakan potret buramnya pembangunan dan kemiskinan daerah ini”

Menurutnya perempuan korban HIV/AIDS merupakan dampak langsung dari kebijakan Negara yang tidak menyentuh kaum perempuan. Dikatakn Balkis korban tersebut kebanyakan terinfeksi HIV/AIDS saat menjadi pekerja rumah tangga di luar negeri.

“Ini tentu sangat disayangkan. Negara gagal melindungi kaum perempuan” pungkasnya.

Oleh karena itu, kata Balkis pemerintah tidak boleh menutup mata dengan persoalan-persoalan ini.

BACA: Sebanyak 1.667 TKW Asal NTT Jadi Korban Human Trafficking

Perempuan harus dilibatkan dalam berbagai aktivitas atau gerakan-gerakan yang menyentuh aspek-aspek keperempuanan, sehingga para perempuan kita dapat memperoleh lebih banyak informasi dan skill tentang pekerjaan yang layak.

Dalam bidang politik, minimnya keberadaan perempuan dalam mengisi posisi-posisi penting dalam berbagai sektor pembangunan di NTT  dipengaruhi oleh dua hal.

Pertama kata Balkis disebabkan oleh budaya patriarki yang masih sangat kuat dan mendominasi hampir seluruh daerah di NTT.

Selain itu faktor budaya ini juga disebabkan karena mindset perempuan yang merasa dirinya sebagai orang yang berada pada kasta kedua setelah laki-laki.

“Padahal mestinya perempuan harus memposisikan dirinya sebagai orang yang sejajar dengan lelaki dan saling melengkapi dalam banyak hal” tegasnya. (BJ/VoN)

Foto Feature: Ibu Balkis Soraya Tanof