Close Menu
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
Facebook X (Twitter) Instagram
VoxNtt.comVoxNtt.com
Facebook X (Twitter) Instagram
Subscribe
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
VoxNtt.comVoxNtt.com
Home»Seni dan Budaya»“Tato Bukan Kejahatan”: Spirit Dedi Ladjar, Sang Seniman Tato Flores
Seni dan Budaya

“Tato Bukan Kejahatan”: Spirit Dedi Ladjar, Sang Seniman Tato Flores

By Redaksi27 April 20173 Mins Read
Facebook Twitter WhatsApp Telegram
Dedi Ladjar (bertopi)
Share
Facebook Twitter Pinterest Telegram WhatsApp

Larantuka, Vox NTT- Tato merupakan salah satu seni yang menggunakan kulit manusia sebagai medianya. Konon seni tubuh ini sudah ada sejak ribuan tahun lalu. Tato adalah seni, lambang ekspresi yang bebas. Sejarah mencatat bahwa tato berasal dari bahasa Tahiti ‘tatu’ yang artinya tanda.

Adalah Dedimus Rusadi Patal Ladjar, salah satu seniman tato Flores yang memilih mendalami hobi masa kecil yang suka menggambar menjadi pekerja profesional tukang tato.” Saya ingin dikenal sebagai pekerja seni,” katanya dengan seyum yang sumringah.

“Pertama kali saya mulai menekuni seni tato pada pertengahan tahun 2012. Awalnya sekedar hobi tapi ya kini jadi profesi,” kalimat ini meluncur dari Dedimus Rusadi Mulyadi Patal Ladjar.

Pria dengan zodiak Capricorn ini selepas SMA di Larantuka lalu menjadi tukang ojek. Dua tahun mengumpulkan uang dari ngojek, Dedi nekad kuliah.

“Saya tidak tahu tentang seluk beluk kampus itu bagaimana. Dengar kawan-kawan cerita tentang kuliah dan kampus, saya pikir ah saya juga kuliah,” demikian tutur Dedi.

Dedi lalu memilih masuk jurusan Bahasa dan Sastra pada Universitas Flores-Ende sebagai taman menimba ilmu.

Saat masuk semester dua, kebutuhan mulai dari uang registrasi, pembayaran SKS, biaya kost dan makan minum terasa begitu berat. Maunya berhenti kuliah saja tetapi dorongan dari kedua orangtuanya membuat ia bertahan.

Sebagai petani, Dedi layak untuk pesimis dengan latar belakang pekerjaan orang tuanya. Toh penguatan dari mereka untuk bertahan dan ikut membantu membuatnya percaya diri.

Perjalanan menempuh kuliah bagi Dedi memang penuh dengan duka. Ia lalu coba mengembangkan hobi dari masa kecilnya yang gemar melukis dan menulis indah itu untuk  menjadi seniman tato.

“ Saya sebenarnya mengamati situasi sekitar saya. Mau jadi loper koran sudah ada banyak orang. Dedi kemudian mulai belajar otodidak tentang tato. Saya cari aneka referensi tentang tato dan menanamkan dalam diri saya bahwa saya pasti bisa jadi seorang perajah tubuh,” kataya.

Dengan kemauan yang membaja Dedi lalu nekad membeli mesin tato dan segala perlengkapan. Memulai dengan was-was  Dedi kini seolah jadi bintang yang bersinar dalam hal tato.

Bagi Dedi, semua perlengkapaan tatonya steril dan teruji. Bukti dari kecintaannya pada dunia seni merajah tubuh ini,

Salah satu karya tato Dedi Ladjar

Dedi paham hampir semua aliran dalam tato. Terhitung sejak awal jadi tukang tato hingga kini hampir enam ratusan lebih model tato yang dikerjakannya. Mulai dari model tato yang beraliran tribal, oriental tato, neo traditional tattoo, tato tiga dimensi, geometric tattoo, tato mandala, tattoo portrait hingga water color tattoo adalah model yang digarapnya dengan kesungguhan hati. Tato bagi Dedi adalah bagian dari jiwanya. Moto hidupnya jelas, tattoo is not a crime (Tato Bukan Merupakan Sebuah Kejahatan)

“Saya mencintai pekerjaan ini, tato adalah jiwa saya. Saya bangga karena sekalipun kuliah saya sempat berantakan karena terhalang biaya sana-sini tetapi akhirnya kini saya hampir tiba di penghujung. Saya percaya semuanya akan  indah pada waktunya. Saat ini saya lagi menyelesaikan skripsi saya tentang karakter ke-Indonesiaan para tokoh dalam roman Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer,” ujar Dedimus Rusadi.

“Rencana dari awal sih mau menulis skripsi tentang tato tetapi saya tidak punya buku referensi yang cukup. Setelah wisuda tahun ini saya ingin jadi guru tato yang punya studio tato sendiri, juga punya taman baca,” tambahnya. (Hengky Ola/VoN)

 

Flores Timur
Previous ArticleIni Komentar Pelaku Pariwisata Soal Tour de Flores
Next Article PN Bajawa Tolak Permintaan Konsiyasi Pemda Nagekeo

Related Posts

Andy Liwun Minta Warga Tanjung Bunga Bersabar, Pekerjaan Jalan Latonliwo–Patisirawalang Tunggu Rekomendasi Tipikor

14 Juni 2026

Warga Kampung Barang Gelar Roko Molas Poco, Tiang Utama Rumah Adat Gendang Diarak ke Lokasi Pembangunan

11 Juni 2026

Festival Religi dan Budaya Paroki Wae Nakeng Libatkan 18 UMKM, Dorong Persaudaraan dan Pariwisata Religi

30 Mei 2026
Terkini

Upah Kebajikan: Melestarikan Kehidupan dan Mati Bagi Dosa

28 Juni 2026

Fransisco Bessi Kembali Terpilih Aklamasi Pimpin Taekwondo NTT

27 Juni 2026

Soroti Kasus Dokter Icha, Tenaga Ahli Menteri HAM Desak Pemeriksaan Anggota DPRD TTU

27 Juni 2026

Banggar DPRD NTT Dorong Digitalisasi PAD dan Perkuat Pengawasan Fiskal

27 Juni 2026

Tewas dengan Enam Luka Tembak, Kasus Marselinus Ngala Mesti Jadi Pelajaran Bawaslu

27 Juni 2026
© 2026 VoxNTT
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.