Abidin di gudang penggilingan miliknya
alterntif text

Maumere Vox NTT-Waktu ponsel menunjukan pukul 09.00 WITA  ketika saya tiba di rumahnya di Kampung Bugis-Desa Magepanda, Kabupaten Sikka, NTT.

Kami janjian bertemu pada Selasa, (16/5/2017). Pria pendiam yang selama ini hanya terdengar cerita tentangnya dari orang  harus diwartakan juga kerja mulianya, begitu saya membatin saat dalam perjalanan dari Maumere.

Tiba di rumahnya, kami membahas banyak hal tentang pertanian. Hanya satu kata, takjub. Pria 38 tahun ini adalah petani sejati.

“Saya tak sampai tamat STM Pak, hanya sampai kelas 3 dan memilih berhenti karena ayah sakit. Sebagai anak laki-laki besar saya harus pulang membantu keluarga. Kakak perempuan saya dan adik-adik masih sekolah, jadi biar saya yang tidak sekolah. Saya mantap memutuskan tidak sekolah. Jadi petani. Sejak berhenti sekolah saya hanya ingat kata hati kecil saya bahwa saya tidak boleh menyesal”kalimat ini Abidin ucapkan dengan terbata.

Tahun 1998 menjadi titik start baru bagi Abidin menjadi petani. Sejak memutuskan untuk tidak menyesal karena tidak sekolah Abidin lalu giat bertani.

Piagam penghargaan untuk Abidin dari Pemprov NTT

Mulai dari lihat petani-petani tua yang bekerja di sawah sampai dengar arahan para petugas PPL Pertanian, tanya sana-sini, Abidin yakin jadi petani bukan pekerjaan rendahan.

Sekarang dengan kemajuan teknologi dan perkembangan informasi, Abidin mengaku senang karena tentang ilmu pertanian ia baca dan akses lewat smartphonenya.

“Barang ini tergantung kita mau manfaatkan untuk hal yang baik dan berguna pasti efeknya juga berguna untuk kita” begitu kata Abidin sambil menunjukan ponselnya.

Saat ini Abidin menjadi Ketua Kelompok Tani Mandiri. Anggota kelompok taninya ada 13 orang. Menurut Abidin, 13 orang yang tergabung dalam kelompok Tani Mandiri untuk musim tanam kali ini mengelola sekitar 23 hektar sawah.

Abidin sendiri mengaku mengelola empat hektar sawah. Empat hektar sawah ini kini telah dipanen dan hasil beras yang bakal diperoleh kira-kira delapan ton lebih. Hasil ini sudah bisa untuk kebutuhan konsumsi keluarga, untuk jual dan kebutuhan pendidikan anak, kesehatan juga deposito.

Sejak tahun 2016 kelompok Tani Mandiri menjadi salah satu pusat penangkaran benih padi. Kelompoknya termasuk sukses dalam kerja penangkaran.

“Sampai tahun kemarin, kelompok kami menjadi suplai bibit ke enam kabupaten di NTT. Diantaranya kabupaten Ngada, Nagekeo, Alor, Lembata dan Rote Ndao. Juli 2016 kemarin itu kami juara 3 tingkat provnsi NTT sebagai kelompok Tani pelaku agribisnis komoditi padi” tuturnya.

Ada bersama kelompok tani aku Abidin, sangat membantu dan banyak manfaatnya. Sebagai petani Abidin dan para petani lainnya tidak lagi diatur oleh ijon atau tengkulak. Yang terpenting lagi menurut Abidin adalah keberadaan bersama kelompok tani membuatnya bangga karena selalu terjun ke tengah petani di kecamatan-kecamatan khususnya di kabupaten Sikka untuk berbagi tentang ilmu bertani yang tepat dan benar.

BACA:Kisah Motong Wuwur, Penyuluh Pertanian yang Gigih Merawat Spirit

Tidak hanya sampai di level kabupaten Abidin juga membuktikan dirinya berkualitas, dengan menjadi petani yang berbagi kisah suksesnya kepada para petani di 18 kabupaten di NTT.

“Petani tidak hanya cukup tahu tentang cangkul, tanam dan panen. Jadi petani itu harus bisa memanfaatkan semua produk pertanian dengan tepat dan benar. Harus tahu tentang bagaimana menyiapkan lahan sampai menentukan pasaran yang pas untuk dijual. Tidak asal gunakan pupuk, juga tidak asal semprot pestisida. Semuanya harus seimbang” tuturnya.

Abidin berpose dengan mobilnya di depan rumah

Terbukti jerih payahnya dalam bertani kini membuahkan hasil. Saat ini di gudangnya ada 700-an karung padi yang siap digiling dan juga bibit.

“Belum semuanya masuk Pak. Yang lain masih dijemur di lapangan sana.Totalnya ya bisa mencapai 1000-an karung ” kata Abidin.

Kerja keras dan kerja cerdas dari Abidin bersama kelompok Tani Mandirinya pun mendapat apresiasi dari  berbagai pihak. Dari catatan buku tamunya  ada Ani Andayani, staf ahli dari Kementerian Pertanian, ada Siti Munifa, Ketua STPP Malang.

Menurut Andayani dan Siti Munifa apa yang dicapai oleh Abidin adalah bukti perjuangan dan kerja kerasnya. Harapan mereka apa yang telah Abidin capai bersama kelompok Tani Mandiri terus menginspirasi banyak orang bahwa menjadi petani itu bukan masuk kategori masyarakat kelas rendahan.

Itulah Abidin. Mimpi besarnya saat ini adalah masyarakat petani di desanya menjadi petani yang berdaulat dengan hidup dari bertani.

“Kesempurnaan hidup saya rasanya semakin lengkap kalau diri saya berguna dan menginspirir banyak petani di NTT untuk mencintai dunia pertanian,” tuturnya. (Hengky Ola/VoN)