Close Menu
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
Facebook X (Twitter) Instagram
VoxNtt.comVoxNtt.com
Facebook X (Twitter) Instagram
Subscribe
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
VoxNtt.comVoxNtt.com
Home»KESEHATAN»Angka Kehamilan Bawah Umur di Sikka Tinggi
KESEHATAN

Angka Kehamilan Bawah Umur di Sikka Tinggi

By Redaksi16 November 20171 Min Read
Facebook Twitter WhatsApp Telegram
Dari kiri ke kanan: Camat Nita, Yance Padang, Wakil Ketua Komisi IX DPR RI, Pius Lustrilanang, Kabid Advokasi Perwakilan BKKBN NTT, Kudji Rihibiha, dan Kadis Pengendalian Penduduk, Keluarga Berencana, Pemberdayaan Perempuan dan Anak, Konstantia Arankoja hadir sebagai pemateri sosialisasi KB di Desa Blorong pada Kamis (16/11/2017) (Foto: Are de Peskim/ Vox NTT)
Share
Facebook Twitter Pinterest Telegram WhatsApp

Maumere, Vox NTT- Angka kehamilan bawah umur di Sikka sangat tinggi.

Kepala Dinas Pengendalian Penduduk, Keluarga Berencana, dan Pemberdayaan Perempuan dan Anak Kabupaten Sikka, Konstantia Arankoja menyatakan angka kehamilan bawah umur yang dimaksudkan adalah kehamilan di bawah usia 20 tahun.

“Data Dinas Kesehatan tahun 2016 terdapat 558 kasus sementara pada data terakhir untuk tahun 2017 berjumlah 400 kasus,” terangnya dalam sosialisasi Keluarga Berencana di Kantor Desa Bloro, Kamis (16/11/2017).

Data tersebut menurutnya relevan dengan hasil penelitian Yayasan Kesehatan dan Kesejahteraan Masyarakat Flores-Lembata (Yakkestra) mengenai perilaku seks remaja.

Menurutnya, saat ini seks pra nikah sudah dilakukan bahkan sejak usia SMP.

Fakta ini tersebut tidak hanya menunjukkan generasi muda saat ini berada dalam ancaman penyakit menular seksual namun juga menghambat pembentukan generasi emas.

Arankoja memberi catatan khusus pada komunikasi dalam keluarga dan pengawasan orang tua.

Ia berharap para orang tua mengawasi anak-anak mereka.

“Kita harus bisa menciptakan generasi emas yang mampu merencanakan kegiatannya, merencanakan pendidikan dan merencanakan pernikahannya sendiri,” tegas Arankoja.

 

 

Penulis: Are de Peskim

Editor: Adrianus Aba

Sikka
Previous ArticlePMKRI dan LMND Sikka Desak KPK Tangkap Setya Novanto
Next Article Dua Anggota DPRD TTU Ini, Tolak Rencana Pembangunan Patung Proklamator

Related Posts

Demokrat Manggarai Timur Tanam 250 Pohon dan Bersihkan Pantai Borong

17 Juli 2026

JPIC OFM dan FORKASI Adukan Konflik Agraria Tonggurambang ke Komnas HAM

13 Juli 2026

Jelang Pelantikan Pejabat, Pemkab Nagekeo Bantah Isu Retaknya Hubungan Bupati dan Wakil Bupati

13 Juli 2026
Terkini

Uskup Ruteng: Indonesia Tak Kekurangan Orang Pintar, Tapi Krisis Hati Nurani

19 Juli 2026

Kompak Indonesia Desak KPK Audit Dugaan Korupsi Proyek RSUD Borong Rp19,4 Miliar

19 Juli 2026

Kerajaan dan Keadilan yang Dibangun dalam Roh vs Yang Dibangun dalam Nafsu

19 Juli 2026

Pemkab Manggarai Pastikan Kesehatan Peserta MPA PMKRI

18 Juli 2026

Dugaan Pungli Pengambilan SKL dan Ijazah di SMPN Satap Munde Matim, Warga Desak Dinas Tindak Tegas

18 Juli 2026
© 2026 VoxNTT
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.