Close Menu
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
Facebook X (Twitter) Instagram
VoxNtt.comVoxNtt.com
Facebook X (Twitter) Instagram
Subscribe
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
VoxNtt.comVoxNtt.com
Home»NTT NEWS»Petani Kakao Kritik Pemda Ende Tidak Siapkan Pasar Komoditi
NTT NEWS

Petani Kakao Kritik Pemda Ende Tidak Siapkan Pasar Komoditi

By Redaksi20 November 20172 Mins Read
Facebook Twitter WhatsApp Telegram
Kakao di Desa Embuzozo, Kecamatan Nangapanda, Kabupaten Ende. Petani kakao meminta Pemda Ende siapkan pasar dengan harga yang stabil (Foto: Ian Bala/Vox NTT)
Share
Facebook Twitter Pinterest Telegram WhatsApp

Ende, Vox NTT-Rupa-rupa kritikan petani kakao terhadap Pemerintah Kabupaten Ende yang tidak menyiapkan pasar hasil komoditi.

Petani kakao asal Desa Embuzozo, Kecamatan Nangapanda, Arnoldus Rera menilai, selama ini pemerintah kerap menyiapkan fasilitas transportasi baik laut, darat maupun udara.

Baginya, kesiapan tersebut hanya diperuntukan masyarakat yang bepergian. Sementara, bagi masyarakat kelas bawah yang ingin pasarkan hasil komoditi justru tidak menjadi prioritas.

“Kita kan tidak jual ke Surabaya atau Jakarta. Kita jual disini dan mestinya pemerintah siapkan pasar dengan harga sesuai,” katanya saat bertemu di kantor desa Embuzozo, Senin (20/11/2017).

Selama ini, jelas dia, masyarakat mendistribusi komoditi ke Maumere Kabupaten Sikka melalui Koperasi Serba Usaha (KSU) dengan harga yang selisih.

Arnoldus menjelaskan, masyarakat kesulitan memasarkan hasil komoditi seperti kakao, fanili, cengkeh, kelapa dan kemiri dengan harga stabil.

“Pokoknya tidak stabil. Kalau di Maumere 23 ribu, kita disini 21 ribu. Ini yang menurut saya tidak adil,” ucap dia.

Kritikan serupa diungkapkan Maria Wenggo dan Serlina Ajo.

Mereka menyatakan apresiasi kepada pemerintah yang telah menghadirkan kapal masuk ke Ende.

“Kita senang ada kapal, tapi harus ada pasar komoditi. Kami, jamin mutu (komoditi, red) baik tapi harus siapkan pasar,”kata Maria.

“Ia, tidak perlu kita kirim ke Maumere. Kita bisa tampung langsung di sini,” sambung Serlina.

Penulis: Ian Bala
Editor: Adrianus Aba

Ende
Previous ArticleAtasi Banjir, Bupati Nagekeo Pimpin Langsung Keruk Kali Mati di Danga Au
Next Article Launching Biogas, Robert Marut Ajak Manfaatkan Pupuk Organik

Related Posts

Soroti Kasus Dokter Icha, Tenaga Ahli Menteri HAM Desak Pemeriksaan Anggota DPRD TTU

27 Juni 2026

Banggar DPRD NTT Dorong Digitalisasi PAD dan Perkuat Pengawasan Fiskal

27 Juni 2026

Tiga Tahun Tak Kunjung Diperbaiki, Jembatan Pomakeke Masih Jadi Langganan Pencitraan Politik

26 Juni 2026
Terkini

Pemuda Katolik NTT Dukung Investigasi Kematian Dokter Icha, Desak BK DPRD TTU Gelar Sidang Etik

28 Juni 2026

Upah Kebajikan: Melestarikan Kehidupan dan Mati Bagi Dosa

28 Juni 2026

Fransisco Bessi Kembali Terpilih Aklamasi Pimpin Taekwondo NTT

27 Juni 2026

Soroti Kasus Dokter Icha, Tenaga Ahli Menteri HAM Desak Pemeriksaan Anggota DPRD TTU

27 Juni 2026

Banggar DPRD NTT Dorong Digitalisasi PAD dan Perkuat Pengawasan Fiskal

27 Juni 2026
© 2026 VoxNTT
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.