Close Menu
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
Facebook X (Twitter) Instagram
VoxNtt.comVoxNtt.com
Facebook X (Twitter) Instagram
Subscribe
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
VoxNtt.comVoxNtt.com
Home»Regional NTT»Hutan Mangrove Sudah Punah, Kota Borong Terancam Jadi Langganan Banjir
Regional NTT

Hutan Mangrove Sudah Punah, Kota Borong Terancam Jadi Langganan Banjir

By Redaksi17 Januari 20182 Mins Read
Facebook Twitter WhatsApp Telegram
Thomas Ngalong sedang memantau tembok penahan abrasi dan erosi air laut di Pantai Borong yang sudah rusak (Foto: Nansianus Taris/ Vox NTT)
Share
Facebook Twitter Pinterest Telegram WhatsApp

Borong, Vox NTT- Hutan mangrove di atas lahan milik pemerintah sepanjang Pantai Borong, Kelurahan Kota Ndora, Kecamatan Borong, Kabupaten Manggarai Timur (Matim) terancam punah.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup Daerah (DLH) Matim, Thomas Ngalong mengatakan sebagian besar pohon di hutan mangrove sepanjang 1 kilometer itu hilang pada pertengahan tahun 2017 lalu.

Menurut dia, sebagian pohon hilang ditebang oleh oknum yang tidak bertanggung jawab setelah pelaksanaan kegiatan Tour de Flores II pada Juli tahun 2017 lalu. Hajatan itu digelar di seputar hutan milik Pemda Matim yang berada di sisi selatan Kota Borong.

Thomas mengkhawatirkan, jika kepunahan hutan mangrove tersebut terus dibiarkan, maka berpotensi wilayah Kota Borong bakal menjadi langganan banjir ke depan. Sebab tak ada lagi yang bisa mencegah erosi dan abrasi, serta menstabilkan daerah pesisir.

Apalagi, tampak tembok penahan abrasi dan erosi air laut di Pantai Borong yang sudah dibangun Pemkab Matim sebagai besar sudah rusak dan jebol.

“Kami pernah tanam pohon flamboyan, trambesi, dan pohon waru sebelum ada Tour de Flores di sini. Tapi pohon-pohon itu sudah hilang. Sejak kegiatan Tour de Flores II, mulai sudah tebang-tebang di sini,” kata Thomas kepada sejumlah awak media di Pantai Borong, Rabu (16/01/2018).

Dia mengatakan, ke depan dinasnya akan mulai merawat kembali hutan mangrove tersebut untuk mengantisipasi banjir. Langkah konkret itu akan dilakukan dengan gerakan menanam kembali sejumlah pohon di hutan mangrove Pantai Borong.

“Tapi ini tentu harus ada kerja sama dengan dinas lain agar bersama-sama merawat tempat ini sesuai dengan fungsi dan kewenangan masing-masing,” tukas Thomas.

 

Penulis: Adrianus Aba

Kabupaten Manggarai
Previous ArticlePartai Koalisi di Ende Siap Menangkan Paket Harmoni
Next Article Irigasi di Wae Lekot Ambruk, Ini Kata Kepala BPBD Matim

Related Posts

KemenHAM Serap Aspirasi Warga dalam Sosialisasi Penguatan HAM di Tiga Desa Manggarai Raya

25 Juni 2026

Andy Liwun Minta Warga Tanjung Bunga Bersabar, Pekerjaan Jalan Latonliwo–Patisirawalang Tunggu Rekomendasi Tipikor

14 Juni 2026

Warga Kampung Barang Gelar Roko Molas Poco, Tiang Utama Rumah Adat Gendang Diarak ke Lokasi Pembangunan

11 Juni 2026
Terkini

Upah Kebajikan: Melestarikan Kehidupan dan Mati Bagi Dosa

28 Juni 2026

Fransisco Bessi Kembali Terpilih Aklamasi Pimpin Taekwondo NTT

27 Juni 2026

Soroti Kasus Dokter Icha, Tenaga Ahli Menteri HAM Desak Pemeriksaan Anggota DPRD TTU

27 Juni 2026

Banggar DPRD NTT Dorong Digitalisasi PAD dan Perkuat Pengawasan Fiskal

27 Juni 2026

Tewas dengan Enam Luka Tembak, Kasus Marselinus Ngala Mesti Jadi Pelajaran Bawaslu

27 Juni 2026
© 2026 VoxNTT
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.