Close Menu
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
Facebook X (Twitter) Instagram
VoxNtt.comVoxNtt.com
Facebook X (Twitter) Instagram
Subscribe
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
VoxNtt.comVoxNtt.com
Home»HEADLINE»Surat Kematian dari Johor Menyapa Masyarakat NTT
HEADLINE

Surat Kematian dari Johor Menyapa Masyarakat NTT

By Redaksi22 Juli 20183 Mins Read
Facebook Twitter WhatsApp Telegram
Beberapa aktivis menjemput jenazah TKI di Bandara Eltari dengan ibadat kematian yang dipimpin seorang pastor katolik (Foto; Arta)
Share
Facebook Twitter Pinterest Telegram WhatsApp

Kupang, Vox NTT-Surat kematian dengan nomor 287/07/SKMt/Kons-JB/2018 yang dikirim dari Konsulat Jendral Republik Indonesia di Johor Baru, Malaysia kembali menyapa masyarakat NTT.

Surat berisi pesan kematian itu, tiba di Bandara Eltari Kupang, Sabtu (21/07/2018) sekitar pukul 13.00 Wita bersama sebuah peti jenazah yang ditelah dibungkus dengan plastik putih transparan. Di luarnya tidak ada catatan apapun terkait nama atau lembaga pengirim maupun alamat yang dituju.

Surat itu menerangkan kematian seorang warga NTT bernama Boe (26), kelahiran Waturesa 10 Mei 1992.

Boe berasal dari Waturesa, RT 015/RW 009, dusun Waturesa, desa Woiorega, kecamatan Paga, kabupaten Sikka, Flores, NTT.

Baca DI SINI Laporan Terkait Human Trafficking di NTT

Kematian Boe dikabarkan karena menderita severe sepsis secondary to intra abnominal sepsis. Almarhum meninggal di rumah sakit Sultana Aminah Johor Baru pada tanggal 16 Juli 2018 pukul 23.00 waktu setempat.

Setelah dijemput oleh beberapa relawan dari Jaringan Relawan Untuk Kemanusiaan (J-RUK) NTT dan perwakilan aktivis gereja, jenazah itu dititipkan di kamar mayat RSUD Kupang semalam.

Beberapa aktivis sedang mendoakan jenazah Boe di ruang jenazah RSUD Kupang Sabtu 21 Juli 2018

Di ruang jenazah RSUD Kupang, Sabtu malam, beberapa aktivis kemanusiaan NTT juga mendoakan jenazah Boe secara katolik sebelum dikirim ke Sikka pada hari ini Minggu, (22/07/2018).

Tentang Johor Baru

Nama Johor Baru bukan asing lagi di telinga sebagian aktivis kemanusian. Nama ini akrab dengan pesan kematian sebab dari sanalah kebanyakan jenazah TKI asal NTT dikirim.

Catatan Wikipedia menyebut Johor Bahru didirikan pada 1855 dengan nama Iskandar Puteri ketika Kesultanan Johor berada di bawah pengaruh Temenggong Daeng Ibrahim.

Pada Perang Dunia II, Jepang menggunakan Istana Bukit Serene sebagai basis utama mereka untuk meluncurkan serangan terhadap kekuatan Inggris terakhir di Singapura. Johor Bahru diduduki oleh pasukan Jepang dari 1942 sampai 1945.

Setelah perang, Johor diadministrasikan sebagai bagian dari Negeri-Negeri Melayu Tidak Bersekutu dan Johor Bahru tetap menjadi ibukotanya.

Johor Bahru menjadi pusat nasionalisme Melayu setelah perang dan melahirkan sebuah partai politik yang bernama United Malays National Organisation (UMNO) pada 1946.

Setelah pembentukan Malaysia pada 1963, Johor Bahru menyandang status sebagai ibukota negara bagian dan meraih status kota pada tahun 1994.

Dari kota pusat nasionalisme Melayu inilah korban penyiksaan, pembunuhan dan perlakuan tak wajar yang menyebabkan kematian sebagian besar jenazah TKI asal Indonesia khususnya NTT dikirim.

Sepanjang tahun 2018, jumlah TKI yang meninggal di Malaysia terus bertambah. Data BP3TKI Kupang menyebut dari Januari-akhir Mei 2018 ada 35 jenazah yang dikirim ke NTT. Sebanyak 34 dikirim dari Malaysia dan satu dikirim dari Afrika Selatan.

Dari 35 orang TKI yang meninggal tersebut, sebanyak 26 orang berjenis kelamin laki-laki dan sembilan orang perempuan.

Para TKI yang meninggal itu paling banyak berasal dari Kabupaten Malaka (9 orang), kemudian Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS) (6 orang), Flores Timur (5 orang), Ende (4 orang).

Selanjutnya, Kabupaten Kupang, Manggarai Timur, Belu dan Sumba Barat, masing-masing dua orang dan Timor Tengah Utara (TTU), Sikka dan Kota Kupang, masing-masing satu orang.

Data ini belum terhitung dengan 4 TKI yang meninggal akibat tabrakan speedboat di Perairan Sebatik pada bulan Juni dan Jenazah Boe yang dikirim Sabtu (21/07/2018) kemarin. Jika dihitung jumlahnya sudah mencapai 40 orang sepanjang tahun 2018. Sebagian besar TKI yang meninggal ini tidak terdokumentasi alias ilegal.

Penulis: Irvan K

Kota Kupang
Previous ArticleTruk Pengangkut Semen Terbalik di Gapong
Next Article Empat Hari Menghilang, Pria 72 Tahun di Cibal Barat Ditemukan Tewas di Tengah Hutan

Related Posts

Soroti Kasus Dokter Icha, Tenaga Ahli Menteri HAM Desak Pemeriksaan Anggota DPRD TTU

27 Juni 2026

Banggar DPRD NTT Dorong Digitalisasi PAD dan Perkuat Pengawasan Fiskal

27 Juni 2026

Tiga Tahun Tak Kunjung Diperbaiki, Jembatan Pomakeke Masih Jadi Langganan Pencitraan Politik

26 Juni 2026
Terkini

Usut Dugaan Intimidasi Dokter Icha, Polres TTU Diminta Bergerak Cepat dan Transparan

28 Juni 2026

Pemuda Katolik NTT Dukung Investigasi Kematian Dokter Icha, Desak BK DPRD TTU Gelar Sidang Etik

28 Juni 2026

Upah Kebajikan: Melestarikan Kehidupan dan Mati Bagi Dosa

28 Juni 2026

Fransisco Bessi Kembali Terpilih Aklamasi Pimpin Taekwondo NTT

27 Juni 2026

Soroti Kasus Dokter Icha, Tenaga Ahli Menteri HAM Desak Pemeriksaan Anggota DPRD TTU

27 Juni 2026
© 2026 VoxNTT
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.