Ilustrasi (edi/detikcom)

Kupang, Vox NTT-Menjelang pemilihan legislatif 2019 mendatang, setidaknya tercatat 5 istri pejabat dan mantan pejabat penting di provinsi NTT yang ikut dalam bursa caleg DPR dan DPD RI.

Berdasarkan informasi yang dihimpun VoxNtt.com, berikut lima daftar calon legislatif tersebut.

Pertama, Ratu Wulla, Istri Bupati SBD

Ratu merupakan istri dari Bupati Sumba Barat Daya, Markus Dairo Talu.

Meski suaminya kandas dalam pemilihan bupati SBD pada pilkada serentak 2018 lalu, namun Ratu memberanikan diri untuk maju sebagai calon DPR RI dari dapil 2 NTT.

Maju dari Partai NasDem dengan nomor urut 6, Ratu akan bersaing dengan deretan nama lain yang satu partai. Sebut saja, Jacki Uly, Setefani Tannur, Umbu Amar Balla, Victor Lerik, Alfridus Bria Seran dan Kristiana Muki.

Kedua, Lusia Lebu Raya, Istri Mantan Gubernur NTT 

Pemilik nama lengkap Lusia Adinda Dua Nurak ini merupakan istri dari mantan Gubernur NTT sekaligus ketua DPD PDIP NTT, Frans Lebu Raya.

Bermodal 10 tahun mengenyam kekuasaan bersama sang suami, kini Lusia maju sebagai calon Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI dari dapil NTT nomor urut 41.

Sebelumnya nama Lusia sempat muncul dalam bursa pencalonan Gubernur NTT periode 2018-2023. Namun kala itu, keputusan Partai lebih memilih Marianus Sae, mantan bupati Ngada.

Sementara suaminya, Frans Lebu Raya maju sebagai calon DPR RI dari PDIP.

Ketiga, Julie Sutrisno Laiskodat, Istri Gubernur NTT

Julie merupakan istri dari Gubernur NTT saat ini, Viktor Bungtilu Laiskodat.

Kemenangan Viktor yang berpasangan dengan Josef Nai Soi mematangkan niat Julie untuk bertarung di bursa caleg DPR RI dari dapil NTT 1.

Nama Julie mulai meroket sejak usahanya mempromosikan tenun ikat NTT. Julie berhasil membawa tenun NTT ke ajang New York Fashion Week, Paris Fashion Week dan London Fashion Week.

Julie sendiri akan bertarung dengan Jhonny G Plate (petahana), Kristoforus Blasin, Alexander Ena, Eduardus Hena, dan Nurul Hafild.

Keempat, Kristina Muki, Istri Bupati TTU

Kristina merupakan istri dari bupati TTU sekaligus ketua DPW NasDem NTT, Ray Fernandes.

Ray, suaminya merupakan bupati TTU dua periode. Sebelumnya Ray bergabung dengan PDIP. Namun dinamika internal yang cukup alot selama pilgub NTT memaksanya hengkang dan memilih NasDem.

Awalnya, banyak pihak menduga bupati Ray akan maju sebagai caleg DPR RI, namun ternyata dia lebih memilih sang Istri untuk maju bertarung.

Langkah Kristina terbilang cukup terjal. Dia harus mengalahkan pesaingnya sesama partai seperti Jacki Uly, Setefani Tannur, Umbu Amar Balla, Victor Lerik, dan Alfridus Bria Seran.

Kelima, Hilda Manafe, Istri Wali Kota Kupang

Hilda Manafe merupakan istri dari walikota Kupang sekaligus ketua Demokrat NTT, Jeffry Riwu Kore.

Sebelum menjadi walikota Kupang, Jeffry sendiri adalah DPR-RI dari partai Demokrat.

Bermodal jaringan suaminya sebagai walikota dan ketua Demokrat, Hilda mematangkan niatnya sebagai caleg DPD-RI dapil NTT nomor 34.

Tanggapan Pengamat

Fenomena istri pejabat dan mantan pejabat yang masuk dalam bursa caleg ini dinilai kental dengan pragmatisme politik.

“Fenomena itu menunjukan kentalnya pragmatisme politik pada sebagian elite dengan mengakumulasi dan mengeksploitasi kekuasaan dengan menggunakan inner circle politiknya seperti istri,” demikian kata Umbu Pariangu, pengamat politik dari Universitas Nusa Cendana.

Umbu Pariangu, Pengamat politik dan kebijakan dari Universitas Nusa Cenda (Foto: Dok. pribadi)

Selain itu Umbu menilai fenomena ini menunjukkan Parpol masih lemah dalam kaderisasi politik, sehingga dalam perekrutan dan rekruitmen politik hanya berkonsentrasi pada figur-figur yang dekat dengan kekuasaan.

Sementara secara sosiologis, dia menyebut fenomena ini menunjukan perempuan belum keluar dari perangkap kepentingan politik maskulinitas.

“Kesadaran politik mereka, para istri itu, mudah dikelola oleh kesadaran kekuasaan laki-laki. Ini akan berbahaya ke depannya, karna para istri itu jika lolos dan mengemban fungsi-fungsi politik tidak memiliki cukup alat pertanggungjawaban politik,” katanya saat dihubungi VoxNtt.com lewat WhatsApp, Senin (05/11/2018).

Umbu menambahkan, sebenarnya tak masalah jika kaum perempuan itu terjun dalam politik, asalkan lewat proses atau mekanisme politik yang alamiah dan terukur berdasarkan kapabilitas dan pengalaman mereka. Bukan berdasarkan kedekatan dengan suami mereka yang punya kuasa.

Penulis: Tarsi Salmon

Editor: Irvan K