Ilustrasi pengeroyokan

Ende, Vox NTT-Kepolisian Resor Ende sedang menyelidiki kasus pengeroyokan yang dilakukan oleh warga Aebai, Mbomba terhadap 7 warga Koponggena, Kecamatan Ende Selatan, Kabupaten Ende. Kasus itu terjadi di Pantai Aebai, Mbomba pada Senin malam (5/11/2018).

Kasubag Humas Polres Ende, AKP Sahab Adam menyebutkan, ketujuh warga Koponggena dimaksud yakni Flow, Eta, Riki, Ongky, Habel Manu, Lego dan Viktor. Para korban ini dikeroyok oleh sekelompok warga Mbomba.

Ia menjelaskan, peristiwa itu berawal Flow dan Eta berpacaran di Pantai Aebai sekitar pukul 19.00 Wita. Warga yang berjumlah enam orang kemudian datang dan meminta uang sebesar Rp. 250.000 pada Flow.

Karena Flow tidak mempunyai uang, maka keenam warga menahan Eta dan memerintah Flow untuk mengambil uang.

Sekitar pukul 19.30 Wita, lanjut Adam, Flow memutuskan pulang ke rumah Habel Manu di depan sekolah MIN Ende. Flow kemudian menceritakan kejadian itu kepada Habel Manu, Ongky, Riky, Lego dan Viktor.

Mereka kemudian kembali menemukan Eta di Aebai menggunakan mobil Avanza milik Riky. Disana mereka menanyakan alasan warga meminta uang.

Karena tak terima, sejumlah warga mengajak para korban untuk berdiskusi di rumah RT. Di tengah perjalanan, sekelompok warga langsung mengeroyok para korban.

Para korban berhamburan melarikan diri. Riky kemudian membalik mobilnya dan kembali ke Ende. Sementara enam korban lainnya kabur berpencaran.

Adam menjelaskan, sekelompok warga kemudian mengejar para korban lantas teriaki korban penculikan anak. Lego, Habel dan Viktor yang lari menuju terminal Ndao berhasil dikepung masyarakat Aebai, Mbomba dan Ndao. Ketiga korban ini kembali dikeroyok.

Ketiga korban tersebut akhirnya diamankan polisi. Sedangkan pelaku masih diburu polisi.

Adam membantah adanya kasus penculikan anak oleh para korban seperti yang diviralkan pada media sosial (medsos).

Ia menegaskan, pihaknya akan mendalami kasus pengeroyokan tersebut dan memeroses sesuai hukum yang berlaku.

Penulis: Ian Bala
Editor: Ardy Abba