Ben Senang Galus

Oleh: Ben Senang Galus

Penulis buku “Kosmopolitanisme Satu Negeri Satu Jiwa, edisi Oktober 2018, tinggal di Yogyakarta

Pernyataan Gubernur NTT “orang miskin dan orang bodoh  tidak akan masuk Surga”, mengundang pro dan kontra di kalangan masyarakat. Diskusi di berbagai medsos tidak pernah berhenti sampai saat ini.  

Tulisan ini sedikit menyerempet otensitas gereja di NTT, oleh karena itu sebelumnya saya mohon maaf jika dalam tulisan ini sedikit mengganggu pembaca.

Pernyataan Gubernur NTT, kalau saya mencoba membacanya merupakan bentuk sindiran kepada gereja kita di NTT. Walaupun dalam sejarah perjalanan, Gereja di NTT kita akui telah berperan  aktif untuk mengentaskan kemiskinan.

Sumbangan besar gereja bagi masyarakat NTT tidak hanya terletak dalam bidang iman dan moral, tetapi juga dalam bidang sosial karitatif seperti pendidikan, kesehatan, pertanian dan pelbagai pengembangan ekonomi umat yang bertujuan mewujudkan kehidupan bersama yang adil dan sejahtera.

Namun di balik klaim ini ada hal-hal yang tersembunyi maupun kasat mata sedang dipraktekan pihak gereja di NTT. Itu terutama  banyak bentuk “penodaan” yang justru melibatkan pihak gereja. Atau dengan kalimat lain gereja telah ‘menjual’ kemiskinan demi melegitimasi otoritas gereja.

Gereja mengajarkan kesederhanaan  kepada umat, sementara gaya hidup birokrat gereja mewah, dan mungkin gereja hadir sebagai simbol keangkuhan.

Fakta emperis, seperti persoalan kemiskinan, busung lapar, KDRT, HIV/AIDs, perdagangan manusia, mutu pendidikan rendah, dan perkawinan di luar nikah, dan sebagainya dipandang sebagai persoalan multidimensional yang dihadapi gereja di  NTT.

Persoalan di atas diangap telah membentuk lingkaran setan atau cycle of devil. Demikian pula rendahnya kualitas iman umat merupakan masalah krusial yang dihadapi umat NTT. Keterbatasan pelayanan gereja menjadi penyebab utama rendahnya kualitas iman umat.  

Berjalan di Padang Gurun

Gereja berkata bahwa mereka mengutamakan Roh Kudus, menekankan perasaan emosional, menekankan apa yang disebut “doa penyembahan” dan semua bentuk doktrin yang diserukan. 

Namun tidak pernah dapat sampai pada realitas, tidak pernah dapat sampai pada pengenalan pribadi akan kebenaran, tidak pernah melihat kebangunan rohani.

Teologi sekering debu, diajar namun tidak menanggap, belajar namun tidak membakar! Mengajar (teaching) namun tidak berkhotbah (preaching)! Memberikan informasi (informing) namun tidak mempertobatkan (converting).

Dengan berat hati, kita harus mengatakan,  “Gereja di NTT masih berjalan di padang gurun”.  Kita sedang berada di tengah situasi dimana kegelapan dan kekelaman merajalela.  Gereja-gereja kita pun masih melintasi periode yang tandus itu.

Kita telah menjadi seperti anak bungsu yang durhaka yang berada di negeri yang jauh, menghabiskan waktu kita di peternakan babi dan tidak makan apa-apa selain ‘ampas makanan babi’.

Ya, kita telah berada dalam perbudakan, telah berada dalam ketakutan dan itu masih berlangsung sampai sekarang ini.

Kita masih ada di padang gurun, masih melintasi periode tandus, namun begitu percaya diri bergantung pada dirinya sendiri. Kekristenan  di NTT sebenarnya tidak lebih baik dari kekristenan di Amerika, Inggris dan Kontinen Eropa.

Satu fakta yang tidak dapat disangkal bahwa manusia sudah rusak total (total depravity). Total depravity ini sebenarnya sudah sangat jelas ditunjukkan dalam Kejadian 6:5 dan Roma 3:10-12 bahwa segala kecenderungan hati dan pikiran manusia semata-mata adalah untuk kejahatan dari pada berbuat baik.

Bukankah ini adalah fakta dalam kehidupan umat/jemaat di NTT?

Gereja dan Kapitalis 

Banyak stigma buruk yang melekat dalam tubuh gereja NTT. Diantaranya Gereja sudah keluar dari misi sejatinya  dan lebih berpihak pada kaum kapitalis serta berselingkuh dengan birokrasi lokal.

Gereja dalam penziarahannya belum mampu mengatasi persoalan sosial yang dihadapi oleh orang NTT, seperti kemiskinan,  KDRT, perdagangan manusia, kesehatan buruk, dan mutu pendidikan yang rendah, dsbnya. Sehingga tidak heran orang kristiani yang miskin pun mudah dijumpai di NTT.

Apakah ini sebuah pertanda kegagalan gereja di NTT  dalam mengemban misi sejatinya?

Banyak kalangan melakukan kajian akademis perihal sumber kemiskinan yang melanda bangsa ini. Namun belum ada studi yang mengungkapkan bahwa antara ajaran kristiani dan kemiskinan ada korelasinya.   

Pernyataan Gubernur NTT coba kita hubungkan dengan beberapa studi para ahli berikut ini.

Pertama, studi Max Weber (1958) menjelaskan, bahwa salah satu penyebab kemajuan ekonomi negara-negara Eropa Barat dan Amerika Serikat adalah adanya Etika Protestan; di mana kepastian nasib di akhirat ditentukan oleh keberhasilan kerja.

Apabila seseorang bekerja dan selalu sukses, maka pasti masuk surga. Ini berarti agama kristiani sudah terbukti atau berkorelasi positif dengan kesuksesan kesejahteraan ekonomi Eropa Barat dan Amerika.

Kedua, Robert Neli Bellah pada agama Tokugawa di Jepang. Dalam  Tokugawa Religion (1957), ia mengatakan bahwa apa yang ada pada etika protestan, juga terdapat dalam ajaran agama tradisional Tokugawa di Jepang.

Itulah sebabnya, Jepang berhasil menjadi kapitalis tangguh Asia yang mensejajarkan diri dengan Eropa dan Amerika.

Ketiga, tertarik dengan temuan Weber, David C. McClerlland mengakui, bahwa kesuksesan ditentukan oleh ethos kerja. McClelland menyimpulkan, kesuksesan tergantung kebutuhan akan prestasi (the need for achievement atau n-ach) (McClelland, 1984; 1961), termasuk prestasi untuk menjalani ajaran agama yang dianut seseorang.

Penyebarluasan agama-agama kristiani di NTT tidak sepihak dengan the protestan ethic seperti Weber dan tokugawa religion-nya Robert Neli Bellah.

Penyebarluasan agama-agama kristiani di NTT lebih menekankan pada kemiskinan sebagai jalan menuju surga dan kekayaan sebagai jalan menuju neraka. Elaborasi ayat-ayat dalam injil lebih berpihak kepada kemiskinan. Tidak banyak, bahkan tidak ada, elaborasi ayat-ayat injil yang memahami kemiskinan sebagai dosa. Bahkan gereja-gereja di Indonesia belum memposisikan teologi bahwa kemiskinan adalah dosa.  

Elaborasi ayat-ayat injil selalu yang memberi inspirasi pembenaran atas kemiskinan, misalnya ajaran yang membenarkan kemalasan dan tidak perlu gelisah dengan hari esok (Matius 6: 25-34; Luk: 22-31), kemiskinan sebagai jalan ke surga (Matius, 5: 3; Lukas, 6: 20), jangan mengumpulkan harta (Matius, 6: 19, 21), dan meninggalkan kekayaan (Matius, 19: 16-24; Markus, 10: 17-27; Lukas, 18: 18-27).

Selain elaborasi ayat-ayat injil, juga dielaborasi lewat simbol-simbol kejadian seputar kehidupan Yesus. Kesederhanaan proses kelahiran Yesus, dipilihnya Yosef yang tukang kayu sebagai ayah Yesus, dan selama hidupNya Yesus berkarya untuk orang-orang kecil.  

Setiap orang kristiani yang saleh pasti mendambakan hubungan yang dekat dengan Yesus. Salah satu cara untuk didekati Yesus adalah menjadi orang miskin; sebab kalau sudah kaya tidak akan diperhatikan Yesus.

Gereja-gereja lokal NTT cukup getol melakukan siaran teologi kemiskinan yang mengarah kepada kemiskinan sebagai jalan menuju surga. Ini berarti kemungkinan bagi mereka yang kristani saleh akan memilih kemiskinan sebagai jalan hidup. Apakah ini benar?

Gerakan agama di NTT pun masih berkutat soal pembangunan fasilitas ibadah dan membangun kesetiaan beribadah.

Kalaupun institusi gereja ikut dalam pemberantasan kemiskinan, itupun masih sama juga dengan gerakan-gerakan yang dilakukan oleh pemerintah dan swasta yang lainnya, yaitu pelatihan keterampilan, bantuan permodalan, penciptaan pasar, dan pengelolaan modal.

Aspek teologi yang membebaskan sendiri tetap tidak disentuh. Kalaupun disentuh, tetap dalam rangka menghibur kaum miskin, Tuhan datang untuk kaum miskin.

Kemiskinan di NTT merupakan persoalan yang saling berkaitan. Kemiskinan telah membuat ribuan anak NTT belum dibabtis, ribuan umat yang bermurtat, ribuan umat kawin di luar nikah gereja, ribuan umat pada hari Minggu tidak beribadah, itu semua merupakan bagian persoalan kecil dari persolan gereja di NTT.

Masih ada lagi persoalan yan besar seperti kurangnya jaminan sosial dan perlindungan terhadap keluarga, menguatnya arus urbanisasi ke kota, TKW/TKI, perdagangan manusia dan yang lebih parah, kemiskinan menyebabkan ribuan rakyat NTT tidak mampu memenuhi kebutuhan pangan, sandang dan papan dan semakin menjauh dari gereja.

Di sisi lain, kemiskinan di NTT, bahkan membuat ribuan umat rela mengorbankan apa saja demi mempertahankan keselamatan hidup (Bandingkan dengan: James C. Scott, 1981).

Kondisi yang menimpa banyak anak kecil belum dibabtis, banyak umat yang belum nikah gereja, banyak orang kristiani menjadi penghuni penjara, merupakan potret buram terhadap kegagalan gereja di NTT.

Semua masalah ini makin menegaskan, “Gereja di NTT masih melintasi padang gurun”.    

Beberapa Pendekatan

Persoalan Gereja di NTT dapat didekati melalui berbagai pendekatan. Pertama, adalah pendekatan struktural. Pendekatan ini menilai bahwa rendahnya iman umat lebih banyak terjadi karena adanya “diskriminasi” pelayanan gereja.

Gereja lebih berpihak kepada pemodal. Kemunculan kelas kaya di NTT, lebih banyak dibentuk oleh hubungan yang terjalin erat antar kapitalis lokal atau pengusaha dengan gereja.

Pendekatan struktural juga menilai bahwa penyebab rendahnya iman umat/jemaat di NTT adalah birokrasi gereja yang lebih banyak bekerja untuk memperoleh keuntungan sendiri dengan membudayakan sikap hidup priyayi.

Kedua, adalah pendekatan kultural. Pendekatan kultural menilai bahwa faktor penyebab rendanya iman umat/jemaat di NTT adalah budaya masyarakat NTT yang cendrung malas, menjunjung tinggi sikap hidup boros dan foya-foya.

Sikap malas dan boros ini tampak dalam berbagai bentuk seperti adanya masyarakat yang lebih suka bermain judi, berpesta dibandingkan dengan kerja di kebun, dan adanya budaya belis dalam perkawinan, dan gereja juga tidak pernah melakukan inisiasi.  

Ketiga, adalah pendekatan program dan kebijakan Gereja. Diakui bahwa sejak tahun 1960-an sampai saat ini program gereja belum menyentuh umat basis. Kecendrungan program yang mucul adalah bersifat ke dalam dan elitis. Sehingga program itu banyak menilai berhasil ke dalam tapi gagal ke luar.

Sebut saja di antaranya adalah program pembangunan fisik gereja lebih diutamakan dari pada pembangunan iman umat.

Gereja lebih banyak menuntut umat untuk menyumbang demi alasan ”Gereja Mandiri”, namun yang terjadi justru gereja tidak memperhatikan kualitas hidup umat bahkan dalam beberapa kasus uang sumbangan umat malah dikorupsi pastor paroki dan uskupnya.

Lalu kita bertanya di mana tanggung jawab gereja?  Semua program-program tersebut, di samping salah sasaran, juga tidak berhasil karena banyak uangnya yang disunat oleh gereja, keterlibatan umat yang terbatas dalam memonitor dan target umat sasarannya tidak jelas.

Keempat, pendekatan tata kelola Gereja (Manajemen Gereja). Ada umat menilai bahwa rendahnya kualitas iman dan hidup umat lebih banyak disebabkan oleh tata kelola gereja yang buruk.

Buruknya tata kelola gereja di NTT, dapat dilihat dari partisipasi umat yang rendah dalam pembangunan gereja, respons gereja yang kurang terhadap kemiskinan, akuntabilitas program kemiskinan yang tidak berjalan, transparansi anggaran gereja yang tidak ada, sampai dengan imunitas atau kebalnya birokrasi gereja yang terlibat dalam ”penyalagunaan” anggaran gereja.  

Kelima, kemiskinan di  NTT juga dapat didekati dari teologi kemiskinan. Pendekatan ini menilai bahwa penyebab utama kemsikinan di NTT adalah gereja yang terlalu bersikap tertutup terhadap realitas kemiskinan.

Kurangnya pendalaman teologi kemiskinan yang diajarkan di Seminari Tinggi, menyebabkan banyak pelaku sosial di kalangan gereja yang bertindak tidak pro terhadap orang miskin di NTT dan bahkan mereka cendrung melegalkan kebijakan-kebijakan pemerintah yang merepresi rakyat miskin NTT

Keenam, fenomena kemiskinan di NTT dapat juga didekati melalui sosiologi masyarakat. Pendekatan sosiologis menilai bahwa pola interaksi antar masyarakat di NTT, cenderung bersifat komunal. Interaksi yang bersifat komunal ini cenderung menyuburkan semangat ”kemiskinan” sebagai milik bersama masyarakat.

Karenanya, kemunculan orang kaya dalam masyarakat, dipandang sebagai ancaman bagi komunitas masyarakat NTT itu sendiri.

Tentu saja, banyak sekali pendekatan yang bisa digunakan untuk menjelaskan realitas kehidupan umat/jemaat di NTT. Tetapi kata kunci yang hendak diangkat dalam tulisan ini adalah melihat peran gereja di NTT dari pendekatan sosiologi, kultural, teologi, elitisme gereja, karena semua hal tersebut dianggap sebagai elemen utama yang membuat umat/jemaat di NTT terus terendam dalam kondisi  panas padang gurun.