Julius Mbeo saat ditemui VoxNtt.com, Senin (03/12/18).

Kupang, Vox NTT-Nama Julius Mbeo tak asing lagi bagi para penikmat minuman tuak lontar atau laru di Kota Kupang, ibu kota Propinsi NTT.

Pria asal Rote ini sudah 13 tahun (sejak 2005 silam) menekuni pekerjaannya sebagai peracik tuak profesional.

Kini, Julius tinggal di pesisir pantai Oesapa, Kelurahan Oesapa, Kecamatan Kelapa Lima, Kota Kupang, NTT. Di tempat ini, dia memulai karirnya sebagai salah satu pebisnis laru di kota Kupang. Baginya pohon lontar adalah pohon kehidupan.

“Itu be pung (saya punya) hidup pa,” tuturnya kepada VoxNtt.com, Senin (03/12/18).

Rumah sekaligus tempat usaha milik Yulius Mbeo.

Pria kelahiran tahun 1945 ini, mengaku jika dirinya sempat mengenyam pendidikan dasar. Namun karena orang tuanya tidak mampu, Julius kecil terpaksa berhenti untuk melanjutkan pendidikan.

“Saya sekolah tahun 1954 tamat SD 1960, karena orang tua tidak mampu saya langsung iris tuak sampe hari ini,” imbuhnya.

Julius terlahir diselimuti duka. Kala dirinya lahir, ibu kandungnya meninggal dunia. Hingga kini ia tak ingat sedikit pun wajah sang ibu.

“Kaki, muka, hidungnya kermana (bagaimna) beta sonde (saya tidak) tahu,” tutur Julius dengan nada haru.

Pernah Jatuh

Meski demikian, Julius tak putus asa. Untuk menyambung hidup, ia memilih menjadi pengusaha tuak putih (laru) dari pohon lontar.

Di tengah semangatnya merintis usaha, nasib sial ia alami pada tahun 1969 silam. Kala itu Julius sudah menikah dan memiliki dua orang anak.

“Pernah jatuh dari atas pohon tuak tahun 1969, tapi waktu itu puji Tuhan saya masih bisa hidup hanya kepala saya yang luka,” tuturnya sambil menunjukan kepala yang terbentur batu.

Kecelakaan yang ia alami membuatnya belajar untuk lebih berhati-hati. Bagaimanapun pohon lontar tetaplah pilihan terbaik untuk menyambung hidup, meski nyawa taruhannya.

Laru yang baru dipanen Julius dalam kondisi belum disaring

Kepiawaiannya meracik tuak dia sadari sebagai penghasil uang. Pada 1984 silam, Julius bersama keluarga berani mengadu nasib ke kota Kupang. Hijrah ke Kota Kupang, kata dia, dengan satu tujuan yakni menjadi peracik air pohon lontar.

“Tahun 1984 saya masuk Kota Kupang, tapi karena di sini sudah ada orang saya iris tuak di Takari, dan sekarang baru di sini,” kisah Julius.

Sejak tahun 2005 Julius bersama istri bekerja sebagai pembuat gula lempeng. Namun, usahanya tidak sukses.

Kehilangan Istri

Pada tahun 2007 silam, Julius untuk ketiga kalinya mengalami kisah piluh dalam hidupnya. Sebelumnya ayah dari keempat anak ini, mengalami peristiwa kehilangan ibu kandung, jatuh dari pohon lontar hingga akhirnya sang istri tercinta meninggal dunia.

Kala itu, ia tak pernah mengetahui jika sang istri mengidap penyakit kangker lidah.

“Istri saya meninggal karena kangker lidah,” ungkap Julius.

Istri Julius sempat berobat namun Sang Khalik berkehendak lain. Sang istri pergi untuk selamanya.

Pohon laru setinggi 9 meter yang menjadi penghidupan keluarga Julius

Lius demikian ia disapa kini seorang duda. Kendatipun seorang diri tanpa istri, ia tak mau mencari pengganti lain. Tak terbersit sedikitpun dalam hatinya untuk mencari wanita pengganti.

“Itu kita punya jiwa satu untuk selamanya,” ungkap pria 73 tahun itu.

Pebisnis Laru

Setelah gagal berbisnis gula lempeng disusul kematian sang istri, Lius akhirnya kembali meracik laru sejak 2007 silam. Ia menilai usaha gula lempeng justru membuatnya rugi lantaran proses yang sangat lama.

“Kalau gula lempeng rugi, prosesnya lama, kalau laru turun langsung minum, orang datang beli,” ungkapnya.

Kendati usia yang tak muda lagi Julius mampu menaiki pohon lontar sebanyak 25 pohon per hari. Ia tak takut bahkan dirinya menilai hal tersebut sudah biasa.

“Ini olahraga dari dulu pa, kalau dulu waktu masih muda saya mampu 44 pohon tapi sekarang hanya 25 pohon,” ungkapnya.

Saat ini dirinya bersama sang adik menjadi pebisnis minuman laru. Dalam sehari Lius selalu mendapatkan uang.

“Kalau sepi sehari dapat Rp. 50.000- Rp. 100.000 tapi kalau ramai biasa Rp.200.000-Rp.300.000,” imbuhnya.

Bagi Lius penghasilan yang peroleh saat ini sangat cukup untuk membiayai hidup dan biaya pendidikan cucunya.

Penulis: Sandry Hayon

Editor: Irvan K