Close Menu
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
Facebook X (Twitter) Instagram
VoxNtt.comVoxNtt.com
Facebook X (Twitter) Instagram
Subscribe
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
VoxNtt.comVoxNtt.com
Home»KESEHATAN»Matim Jadi Endemik Mikrofilaria, Anggaran Pengobatannya Dicoret DPRD
KESEHATAN

Matim Jadi Endemik Mikrofilaria, Anggaran Pengobatannya Dicoret DPRD

By Redaksi17 Desember 20182 Mins Read
Facebook Twitter WhatsApp Telegram
Fransiskus Onggang, Anggota Advokasi Filaria NTT
Share
Facebook Twitter Pinterest Telegram WhatsApp

Kupang, Vox NTT- Manggarai Timur (Matim) menjadi kabupaten dengan tingkat penyebaran cacing Filaria paling banyak di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT).

Fransiskus Onggang, Anggota Advokasi Filaria NTT mengaku, pihak sudah melakukan penelitian terkait mikrofilaria pada tahun 2016 lalu.

Kata dia, hasil penelitian sangat mengejutkan, dimana Matim adalah kabupaten dengan endemik mikrofilaria di Provinsi NTT.

“Ada 300 responden kisaran umur 4 sampai dengan 70 tahun dan semuanya positif mikrofilaria dalam darah,” ujar Frans kepada VoxNtt.com, Senin (17/12/2018).

Ia mengatakan, di Matim sebaran cacing filaria paling tinggi ada di tiga kecamatan yakni; Sambi Rampas, Elar dan Elar Selatan.

“Ada di tiga kecamatan itu Sambi Rampas, Elar dan Elar Selatan, tahun 2017 dan 2018 harus mencapai 90 atau bahkan 100% pengobatan,” kata dia.

Namun, hingga 2019 pengobatan Filaria itu baru mencakup 80%.

Menurut Frans, pengajuan anggaran pendistribusian obat dan operasional sudah diajukan ke Pemlab Matim di APBD tahun 2019. Sayangnya, anggaran tersebut dicoret oleh DPRD dengan dalil masih prioritas ke pembangunan infrastruktur jalan.

“Dengan pengobatan tahun 2017 dan 2018 total pencapaian 85% didukung dana operasional. Dan trendnya harus meningkat sampai 90 hingga100 %. Tahun 2019 tidak ada sama sekali dianggarkan. Diajukan Dinkes namun dicoret di DPRD alasannya untuk infrastruktur,” tukas Frans.

Menurut dia, pengobatan harus 5 tahun sampai semua orang dalam tubuhnya dalam kondisi mikrofilaria negatif.

Dikatakan, penyakit yang disebabkan oleh cacing ini jika tidak dieliminasi akan mengakibatkan kecacatan menetap dan kerugian ekonomi.

“Orang dengan usia produktif tidak bisa melakukan aktivitas sehari hari,” tutupnya.

Penulis: Ronis Natom
Editor: Ardy Abba

Kota Kupang Manggarai Timur
Previous ArticlePimpin Apel Hari Terakhir Jabatannya, Ini Pesan Bupati Elias Djo
Next Article Hak Peserta PBK Disunat Disnakertrans Belu

Related Posts

Rutan Kupang Siap Serahkan Rekaman CCTV Terkait Dugaan Suap terhadap Saksi Kasus Jaksa Peras Kontraktor

24 Juni 2026

Palma Hill Gelar Pelatihan Public Speaking untuk Anak di Kupang

15 Juni 2026

Hampir Sebulan Jebol, Crosway Wae Musur Hilir Belum Ditangani Pemkab Manggarai Timur

12 Juni 2026
Terkini

Tewas dengan Enam Luka Tembak, Kasus Marselinus Ngala Mesti Jadi Pelajaran Bawaslu

27 Juni 2026

Tiga Tahun Tak Kunjung Diperbaiki, Jembatan Pomakeke Masih Jadi Langganan Pencitraan Politik

26 Juni 2026

KemenHAM Serap Aspirasi Warga dalam Sosialisasi Penguatan HAM di Tiga Desa Manggarai Raya

25 Juni 2026

Julie Laiskodat Sumbang Rp100 Juta untuk MTQ Tingkat Provinsi NTT di Nagekeo

25 Juni 2026

Rutan Kupang Siap Serahkan Rekaman CCTV Terkait Dugaan Suap terhadap Saksi Kasus Jaksa Peras Kontraktor

24 Juni 2026
© 2026 VoxNTT
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.