>alterntif text

Kupang, Vox NTT-Sekitar 600-an perempuan dari berbagai latar belakang hadir dalam Kongres Perempuan Indonesia Pertama pada tanggal 22 Desember 1928.

Kongres ini digelar di Yogyakarta, tepatnya di pendopo Dalem Jayadipuran milik Raden Tumenggung Joyodipoero.

Keseluruhan kongres membahas tentang masalah perempuan. Mulai dari urusan perkawinan di bawah umur, derajat perempuan, pendidikan sampai pada adab perempuan.

Untuk mengenang moment bersejarah ini, Presiden RI, Sukarno mengeluarkan dekrit No.316 Tahun 1953.

Dalam dekrit tersebut, Presiden Sukarno menetapkan setiap tanggal 22 Desember diperingati sebagai Hari Ibu.

Hari ibu kemudian dimaknai sebagai hari penghormatan terhadap perjuangan kaum perempuan Indonesia untuk merebut kemerdekaan.

Pendeta Emmy Sahertian, aktivis perempuan dan kemanusiaan asal NTT, memaknai lebih dalam soal Hari Ibu.

Dijelaskan Emmy, Hari Ibu sesungguhnya peringatan perjuangan hak sosial dan politik perempuan untuk setara dengan laki-laki khususnya dalam membangun bangsa.

“Jadi Hari Ibu ini ada kaitannya dengan nasionalisme kaum perempuan Indonesia. Tanggung jawabnya tidak ringan. Tantangan terbesar kini adalah belum semua perempuan mendapat tempat dalam pembangunan bangsa” tegas pendeta Emmy.

Tantangan itu, lanjut Emmy, ditunjukan dengan tingginya angka kekerasan dalam rumah tangga yang dialami perempuan dan anak, tingginya angka kematian ibu melahirkan, tingginya angka eksploitasi seksual dan perdagangan manusia.

“Tantangan ini membuat kita perlu mengevaluasi kembali perjuangan perempuan secara politik dan sosial termasuk pendidikan untuk memperbaharui metode perjuangan perempuan di berbagai lini” sambungnya kepada VoxNtt.com, Sabtu (22/12/2018).

Untuk itu dia menyerukan kepada kaum perempuan Indonesia khususnya NTT untuk bersatu melawan upaya-upaya eksploitasi kemanusiaan yang marak terjadi terhadap perempuan.

Menghargai Jasa Kaum Perempuan

Sementara Maria Mathildis Banda, penulis sekaligus akademisi perempuan asal NTT, mengenang Hari Ibu dengan cara berbeda.

Penulis yang sering mengangkat masalah keperempuanan dan anak NTT dalam berbagai novelnya ini, meresapi Hari Ibu sebagai penghormatan terhadap jasa seorang ibu dalam melahirkan sekaligus membesarkan anak.

Salah satu karyanya yang dipersembahkan khusus untuk kaum ibu dituangkan Maria dalam novel Wijaya Kusuma dari Kamar Nomor Tiga.

Maria Matildis Banda dalam novel ini mampu merekam dengan jujur pengabdian paramedis dan pengorbanan para ibu dalam melahirkan anak-anak NTT.

Novel ini mengangkat kisah yang cukup problematik dan dramatik. Misalnya bagaimana ketika sebuah tabung oksigen diperebutkan, perjalanan ibu hamil terjebak di antara tebing, jurang, dan jalan putus.

Para tokoh yang hadir dalam novel ini, dihadapkan pada keterbatasan fasilitas, mitos, dan stigma budaya tentang pengambilan keputusan.

Di moment hari Ibu, Maria membagikan sebuah kado untuk para ibu di Indonesia dan NTT khususnya.

Kado itu ia bagikan dalam bentuk sebuah puisi berjudul ‘Aku Ingin Pulang’. Bagi Maria, ibu adalah puisi yang tak habis dibaca, selalu rindu untuk dikenang.

Berikut puisinya:

Mama…
Kembang yang kutaburkan di pusara
– berhamburan meski berkali-kali sudah kurapihkan
Lilin yang kupasang tidak pernah sekali pun
– menyala meski berada di antara api sesamanya

Taman Bahagia ini diliputi sunyi
Dingin merayap masuk ke dalam hati
Aku berlutut di kakimu mengharapkan uluran tangan
Dekapan rindu ibu pada anak yang jua bunda
“Ibu…lihatlah anakmu,” sayup Suara itu menikam sukma
Yang merana mencari cintamu yang lama kubiarkan

Mama…
Tiada makanan terhidang di meja dapur kita
yang selalu menanti sebelum aku tiba di rumah
Tiada kata “mari, duduk di sini…makan sama-sama.”
Pada detik-detik pertama sebelum masuk ke rumah

Apakah engkau rindu padaku Ma
bunga-bunga dan lilin di pusaramu
Sudah kuganti dengan nasi, sop brenibon, dan pucuk labu
doa-doa dan nyanyian yubilate milikmu
Sudah kuganti dengan roti, kue pia, dan kopi susu

Mama…
Semua ada darimu sudah tiada
Di rumah sunyimu hatiku hampa
Membaca sederetan kata-kata
Di atas nisan tanpa harga

Denpasar, 25 Februari 2018
Maria Matildis Banda

(Puisi ini telah ditayang pada laman ambau.id)

“Bagi bapa ibu, kaka ade, saudara/i, dan anak-anak yang masih punya ibu, jaga dia bae-bae (baik-baik). Sayang dia, perhatikan sedapat mungkin dengan kasih sayang. Sebab kala ibu tak ada lagi, penyesalan akan datang satu demi satu,” demikian tutup Maria kepada VoxNtt.com, Sabtu (22/12/2018).

Penulis: Irvan K