Ronsi B Daur, calon anggota DPR RI dari Dapil NTT 1, Partai PAN, Nomor urut 2 (Foto: Ardy Abba/ Vox NTT)
alterntif text

alterntif text

alterntif text

alterntif text

alterntif text

alterntif text

Ruteng, Vox NTT- Senin 11 Februari 2019, di sebuah kota kecil yang dingin di Pulau Flores NTT, RBD bertemu awak media ini.

Ruteng begitu nama kotanya. Kota yang menempel di lereng bukit Golo Lusang ini merupakan ibu kota Kabupaten Manggarai.

Di kota yang selalu menawarkan kesejukan dan alam yang hijau sepanjang tahunnya tersebut ”sehari bersama RBD” mulai tercatat.

Di depan sebuah rumah di kawasan Tenda Ruteng, pemilik nama lengkap Ronsianus Bahung Daur itu menjemput mentari pagi.

Ia ditemani sejumlah rekannya sedang berdiskusi serius, namun raut muka terlihat penuh canda gurau.

Semakin mendekat, rupanya RBD dan temannya sedang mendiskusikan banyak hal, salah satunya soal kondisi terkini peta perpolitikan perebutan DPR RI dari Dapil NTT 1.

Di pagi yang cerah itu, RBD berpikir lain dari biasanya saat ia tinggal di ibu kota Negara, Jakarta.

Selain soal menghitung pertahanan politik lawannya, ia juga menghitung banyak hal yang janggal soal hubungan DPR RI dan masyarakat selama ini.

Tak lama berselang, mobil Toyota Kijang Innova dan pick up merapat ke tempat RBD berdiri. Di mobil pick up bertumpuk penuh kayu bambu dan baliho milik RBD.

Pemilik Konsultan Pajak, Akuntansi & Keuangan *RBD &Co* Jakarta itu rupanya adalah calon DPR RI dari Dapil NTT 1 dari PAN, dengan nomor urut 2.

“Ayo kita keliling Kecamatan Rahong Utara dan sebagian Wae Ri’i,” ajak RBD.

Perjalanan menuju dua kecamatan di Kabupaten Manggarai ini pun dimulai pukul 09.45 Wita. RBD yang tampil sederhana mengenakan celana pendek dan sandal jepit naik ke mobil Toyota Kijang Innova.

Rute yang diambil yakni Ruteng-St.Klaus-Beo Kina-dan Purang. Sedangkan rute balik yakni Bere-Pau-Wae Racang-Rampas Asa-Ranggi-Lalong-Ruteng.

Dalam perjalanan menuju Kecamatan Rahong Utara, RBD makin tenggelam dalam keasyikan canda tawa.

Di beberapa titik, ia berhenti untuk menancapkan tiang balihonya sembari bertemu masyarakat. Ia dibantu rekan seperjalanannya dari Ruteng.

Terpantau, pria berkumis dengan wajah sedikit sangar itu ternyata tak membuat masyarakat yang dijumpainya kikuk.

Di sejumlah titik, senda gurau dan tawa terbahak tampak keluar lepas dari masyarakat. Rupanya, wajahnya saja yang sangar. RBD ternyata adalah pria yang memiliki segudang aksi dan cerita lucu.

Sebelum memasuki Beo Kina, tempat makam pahlawan Manggarai Mota Rua, hujan mengguyur menjemput perjalanan RBD dan teman-temannya. Mereka pun berhenti di sebuah rumah.

Semangatnya tak pernah surut, kemauan untuk mendengar langsung keinginan masyarakat tak pernah kendur.

Sembari bercengkrama dengan nuansa kekeluargaan, hujan terus turun dengan penuh kebisingan. Sesekali gerimis dan sesekali turun dengan lebatnya. Angin juga bertiup cukup kencang.

Tak hanya itu, kabut pun mengepung rumah itu, hingga menutup jarak pandang di balik tirai jendela.

Kendati cuaca tidak bersahabat, jemari tangan dan raut wajah RBD terus menampilkan hal lucu di hadapan orang di rumah itu. Suasana pun selalu cair dengan canda tawa.

RBD saat bertemu masyarakat Bere, Rahong Utara, Senin 11 Februari 2019 sore (Foto: Ardy Abba/ Vox NTT)

Setelah tertahan selama kurang lebih satu jam lebih, hujan pun berhenti. RBD dan teman-temannya lalu pamit dan meneruskan perjalanan menuju Purang, ibu kota Kecamatan Rahong Utara.

Dari dalam mobil, matanya selalu menoleh ke kiri dan kanan. Ia melihat titik pemasangan baliho yang telah ditetapkan penyelenggara pemilu setempat.

Ada banyak tempat strategis untuk pemasangan alat peraga kampanye (baliho) yang ditawarkan salah satu rekannya dalam mobil. Namun, RBD berkomitmen untuk tetap taat pada aturan dan arahan penyelenggara pemilu, yakni dipasang pada zona yang telah ditentukan.

“Kita harus taat aturan, tidak boleh pasang di sembarang tempat walau strategis. Kita harus melihat zona pemasangan yang telah ditetapkan,” jawab RBD.

Ingin Hilangkan Elitisme

Tampilannya yang sederhana bertemu masyarakat sebenarnya tidak dibuat-buat. RBD adalah anak seorang petani kopi asal Wuas, Colol, Kecamatan Poco Ranaka Timur, Kabupaten Manggarai Timur (Matim).

Walau kerap muncul di layar kaca sebagai pengamat pajak, namun tak membuatnya berperilaku glamour saat kembali ke kampung halamannya.

Ia memang cukup terkenal di setiap stasiun TV saat menyampaikan gagasan briliannya di balik wacana tax amnesty (pengampunan pajak) di Indonesia.

Pada dasarnya tax amnesty adalah program pengampunan oleh pemerintah baru-baru ini terhadap wajib pajak yang bermasalah.

Caranya meliputi penghapusan pajak terutang kepada wajib pajak yang menunggak.

Selain itu, ada pula penghilangan sanksi administrasi dan pidana perpajakan atas harta yang diperoleh pada 2015, serta sebelumnya yang belum dilaporkan dalam Surat Pemberitahuan Pajak Tahunan.

Gagasan RBD pun kerap menjadi rujukan publik. Ia pun tenar.

Ia mengaku, penampilannya yang hanya mengenakan sandal jepit dan celana pendek itu juga hanya mau menghilangkan elitisme politisi senayan selama ini.

RBD menjelaskan, elitisme adalah paham yang menempatkan suatu individu atau kelompok yang memiliki predikat atau status sosial yang lebih tinggi dari orang-orang lain, terutama rakyat kebanyakan.

Sadar atau pun tidak, kata RBD, elitisme telah membuat jurang pemisah antara masyarakat dan politisi selama ini. Masyarakat hanya mengangguk-angguk dalam ketidaktahuannya saat berkomunikasi dengan elite politik.

Akibatnya, masyarakat tidak berani berkata jujur akan kebutuhan urgennya ke elite politik. Para elite politik pun bertemu masyarakat semisal saat reses hanya formalitas belaka. Ia pulang ke sanayan tanpa mengetahui persis kebutuhan urgen daerahnya.

Karena itu, ia berkomitmen agar elitisme ini harus dihilangkan.

Selain itu, jika dipercayakan oleh masyarakat duduk di Senayan, RBD berkomitmen untuk menjalankan reses harus menggandengkan kepala daerah. Ia berkomunikasi dengan bupati terkait tempat resesnya.

Hal ini ia lakukan karena bupati yang mengetahui persis daerahnya, terkait data dan kebutuhan masyarakat.

Menurut RBD, jika komunikasi politik dan kerja sama antar DPR RI dengan bupati berjalan dengan baik, maka penyebab rakyat miskin cepat teratasi.

“Karena itu mulai sekarang saya mulai membangun komunikasi hal ini dengan bupati. Kewajiban DPR RI sebenarnya membantu Bupati untuk membangun daerah di Dapil. Ia tahu benar kondisi daerah,” ujar RBD.

Penulis: Ardy Abba