Gestianus Sino berpose di lahan pertanian terpadu seluas sekitar 1000 m2 di Desa Penfui Timur, Kecamatan Kupang Tengah, Kabupaten Kupang (Foto: Boni/VoxNtt.com)
alterntif text

alterntif text

alterntif text

alterntif text

alterntif text

alterntif text

Kupang, Vox NTT- Konsep pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) menjadikan Pariwisata sebagai leading sector pembangunan dinilai kurang tepat.

Hal itu disampaikan petani muda sekaligus konsultan pertanian NTT, Gestianus Sino.

Menurut pemenang penghargaan Duta Petani Muda Indonesia ini, konsep Gubernur NTT, Viktor Bungtilu Laiskodat yang menjadikan Pariwisata sebagai Leading Sector pembangunan, keliru.

Sejumlah penghargaan yang berhasil diraih Gesti sebagai sosok petani muda sukses

Hal itu kata dia karena NTT merupakan daerah agraris dan sebagian besar masyarakatnya bermatapencaharian petani. Sebagai masyarakat daerah agraris maka konsekuensinya hidup dan besar dalam budaya bertani, budaya tanam. Jadi terang dia, masyarakat NTT secara keseluruhan tidak paham Pariwisata.

Akibatnya, dalam pembangunan yang berbasis pariwisata masyarakat asli NTT bisa tersingkir dalam persaingan kerja ke depan terutama di wilayah-wilayah tujuan pariwisata.

Karena itu saran Gesti, Gubernur NTT mesti fokus mendorong pertanian NTT sambil menyiapkan infrastruktur dan meningkatkan SDM orang NTT untuk menyambut masa depan sebagai daerah Pariwisata. Namun sebelum menuju ke sana tegas dia, pertanian dan petani di desa harus diperkuat.

“Kalau kita lompat tangga nanti cukup kewalahan. Bagaimana mendamaikan kepentingan rakyat NTT yang mayoritas petani dan kepentingan pengusaha pariwisata. Sementara jika model persaingan yang ditawarkan petani pasti kalah karena skill kepariwisataannya masih rendah” katanya.

Bagi Gesti, daerah Pariwisata itu erat kaitannya dengan bisnis perhotelan, restoran dan Caffe serta bisnis kuliner lainnya. Karena itu kebutuhan akan beras, sayur-sayuran, buah-buahan dan umbi-umbian akan sangat besar.

Karena itu tegas dia, kalau sektor pertaniannya tidak kuat dan petaninya lemah maka Pariwisata itu hanya akan menguntungkan petani-petani dari luar yang mengimpor hasil pertaniannya ke NTT.

Sehingga, kata Gesti jangan heran kalau banyak orang-orang NTT dan pemuda yang memilih menjadi TKI ke luar negeri, kemudian menjadi korban human trafficking.

Gestianus Sino berpose di lahan pertanian terpadu seluas sekitar 1000 m2 di Desa Penfui Timur, Kecamatan Kupang Tengah, Kabupaten Kupang (Foto: Boni/VoxNtt.com)

Meminimalisir jumlah orang NTT yang menjadi TKI, pemerintah mesti mulai aktif mendorong pertanian sebagai salah satu brand daerah ini. Mengaktifkan seluruh petani di NTT untuk menggarap lahan pertanian di desa masing-masing.

Informasi yang diperoleh media ini, hingga saat ini sayur-sayuran dan buah-buahan di Labuan Bajo masih dominasi oleh sayuran dan buah-buahan impor, terutama dari Bima, Nusa Tenggara Barat (NTB) dan Makasar, Sulawesi Selatan.

Walau begitu, Gesti tak menampik kalau Gubernur mempunyai cara pandangnya sendiri dalam mengarahkan pembangunan di NTT.

Menurut dia, jika serius ingin memajukan NTT, sejahterakan dulu petani dengan cara memperkuat SDM dan infrstruktur pertaniannya sehingga pertanian NTT mampu menghasilkan komoditi pertanian yang handal, bila perlu berkualitas impor.

“Ya, setiap Gubernur atau pemerintahan yang baru kan pasti punya latar belakang dan program kerjanya sendiri-sendiri. Tapi kalau NTT dominan pariwisata saja, saya rasa kurang pas. Pariwisata iya, tapi harus juga didorong dengan sektor-sektor lain. Misalnya pertanian,” ungkapnya.

Pemetaan Potensi

Ketika ditanya, persoalan mendasar yang dialami provinsi NTT terkait pertanian, Gesti melihat kelemahan daerah ini ada pada sistem pendataan atau database yang lemah. Dan itu kata dia menjadi tanggung jawab pemerintah terutama dinas-dinas terkait, baik di Provinsi maupun Kabupaten.

Berdasarkan pengamatannya, dinas-dinas pertanian di NTT tidak mempunyai catatan yang jelas terkait potensi-potensi masing-masing wilayah.

“Sehingga setiap dinas dan instansi, dia harus punya catatan yang jelas. Misalnya dinas pertanian, harus tahu pemetaan tanaman daerah horti itu yang cocok di mana, sayuran di mana, buah di mana, peternakan di mana. Sehingga, kita punya kekurangan saling mengisi bukan sedikit-sedikit import dari luar,” ungkap mantan pegawai honor di dinas pertanian NTT ini.

Lahan pertanian organik milik Gesti

Menurut dia NTT sebagai daerah kepulauan sangat mungkin untuk menerapkan konsep pembangunan seperti itu. Hasil yang akan dicapai dari pemetaan potensi masing-masing wilayah ini jeas dia, antardaerah di NTT bisa saling barter, saling mengekspor dan mengimpor lintas kabupaten, tidak melulu dari luar NTT.

“Apalagi daerah kepulauan seperti NTT ini, didata, diidentifikasi secara merata. Kita bisa saling baerter antara satu daerah dengan daerah yang lain, karena setiap daerah itu punya kekhasan dan ciri masing-masing. Misalnya ke Timor sini, jagung dari Timor sini bisa dikirimkan ke Flores, beras dari Flores bisa dikasih ke Timor sini. Cabe, labu jepang tidak usah dari Jawa sana, cukup dari Bajawa kirim ke sini. Untuk itu kita harus ada landscape, identifikasi jenisnya dan itu harus dikembangkan. Seperti di tanah Timor ini, bisa jadi tempat pupuk organic secara besar-besaran, karena kotoran sapi menjadi produk utama,” jelasnya sambil menunjuk kotoran sapi yang sudah dikumpulkannya di Penfui Timur.

Konsep Penyuluhan Pertanian Diubah

Menurut Gesti, selama ini perekrutan penyuluh pertanian di NTT masih menggunakan cara kuno. Karena kemampuannya hanya diukur dari besar kecilnya IPK di kampus.

Menurut dia, IPK tidak menjamin orang itu mempunyai kemampuan dan konsep bertani yang bagus. Sebab, kata dia isi buku kadang berbeda dengan kondisi ril di lapangan.

“Penyuluh pertanian itu dia baca dia buku. Misalnya penyuluh pertanian dia tinggal di kos dan tidak punya lahan, lalu dia mau datang menyuluh kami di sini. Itu tidak bisa. Terus kriteria penialaian itu berdasarkan IPK, tidak selamanya orang yang IPK tinggi-tinggi itu bisa kerja pertanian. Tidak bisa,” tegasnya.

Karena itu menurut dia, yang direkrut jadi penyuluh pertanian itu haruslah petani yang aktif yang mempunyai lahan pertanian dan usahanya di bidang pertanian berhasil.

“Jadi, sebagai penyuluh tu sebenarnya sudah aktif pertanian, banyak orang muda yang punya lahan dan punya kemampuan itu bisa dijadikan penyuluh pertanian. Ini malah penyuluh pertanian tinggal di rumah kontrakan, baru suruh dia jadi penyuluh pertanian. Dia tahu apa? Jadi salah satu indikator menjadi penyuluh pertanian itu dia adalah seorang petani aktif yang punya lahan pertanian. Kenapa kita masih saja kekurangan produk horti dari 10-20 tahun yang lalu, kekurangan pangan, kalau penyuluh itu aktif dan berhasil?,” tandasnya.

Strategi Menahan Impor “Bale Nagi”

Untuk menahan impor, Gesti menawarkan konsep yang sangat sederhana. Sama seperti konsep mengembangkan pertanian sesuai potensi lokasi, agar ekspor impor pangan itu hanya terjadi lintas kabupaten dalam Provinsi.

Dia juga menyarankan agar masyarakat NTT harus kembali ke budayanya sendiri, mengaktifkan kembali sistem produksi daerah masing-masing.

“Kita harus mengembalikan pada produk daerah masing-masing. Karena sekarang keanekaragaman hayati kita hilang. Semuanya minta bantuan luar, kita tidak mengaktifkan kekhasan daerah kita. Misalnya pulau Timor ini, semua orang di sini makanan pokoknya jagung, kenapa tidak kembali pada kita, “ Bale Nagi” istilahnya. Pemerintah punya kewajiban untuk membalikan itu,” pintanya.

“Pulau Timor ini cantik. Coba kita lihat dari atas pesawat hanya 20 % saja lahan yang digunakan untuk pertanian dan untuk rumah tingal, selain itu tanah kosong yang digunakan untuk bayar pajak saja. Kenapa kita tidak gunakan sektor pertanian sebagai brandnya Nusa Tenggara Timur? Kan Negara Indonesia ini kan Negara Agraris, apalagi NTT. Sehingga mimpinya lima tahun atau 10 tahun ke depan kita wujudkan ini Negara agraris. Tapi kalau Negara agraris hanya ada dalam catatan saja, tetapi perlakuannya tidak ada, sama saja. Karena kita harus memulai pertanian dari pekarangan rumah tangga,” tambah pemenang penghargan Duta Petani Indonesia ini.

Penulis: Boni J