Erik Jumpar

Oleh: Erik Jumpar

Guru SD di Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat

Peringatan hari kasih sayang atau yang dikenal dengan Valentine Day yang jatuh pada hari ini bertepatan dengan peristiwa bersejarah untuk seluruh masyarakat Kabupaten Manggarai Timur.

14 Februari 2019 merupakan titik pijak untuk Kabupaten Manggarai Timur. Pijakan baru itu diawali dengan dilantiknya Bupati Agas Andreas dan Jaghur Stefanus di Aula Eltari, Kupang-NTT.

Pelantikan bupati Manggarai Timur bak angin segar untuk rakyat Manggarai Timur. Harapan dan spirit untuk mendapatkan pemimpin baru sudah sah secara konstitusional.

Jutaan pekerjaan rumah yang selama ini menumpuk resmi dititipkan pada pundak Ande-Stef.

Semua mata tidak tertutup dengan kompleksitas persoalan di Manggarai Timur, hanya orang tuli dan buta saja yang tidak tahu persoalan di Manggarai Timur.

Jasad Markus Mbaur (40), pria asal kampung Reong, Desa Rana Gapang, Kecamatan Elar, Kabupaten Manggarai Timur, NTT terpaksa pulang digotong keluarga dan warga setempat (Foto: Sandy/VoxNtt.com)

Sentuhan tangan dan nyali yang besar dalam membangun, niscaya bisa membuka ketertinggalan pada bangunan Manggarai Timur yang kita cintai. Saya percaya pemimpin yang baru bisa menjalankannya dengan baik.

Buruknya Infrastruktur

Pada (11/02/2019), VoxNtt.com menurunkan berita yang mengernyitkan dahi. Mengapa tidak? VoxNtt.com merilis berita jasad Markus yang meninggal di Puskesmas Elar terpaksa digotong oleh warga, karena tidak adanya kendaraan untuk mengangkut.

Ruas jalan menuju Elar Selatan, Manggarai Timur yang putus total akibat longsor (Foto: Istimewa)

Persoalan ini salah satu dari sekian persoalan yang terjadi di Matim. Buruknya infrastruktur dasar turut mempengaruhi keterisolasian penduduk. Jangan heran keadaan yang demikian berbuntut pada terganggunya pelayanan dasar lainnya.

Kondisi deker di ruas jalan Deno-Lawir Manggarai Timur yang sudah rusak

Jalan raya yang buruk dapat mempengaruhi bengkaknya biaya operasional warga. Untuk ke kota saja butuh merogoh kocek yang tidak sedikit. Belum lagi tentang akses keluar desa yang membutuhkan jangka waktu berjam-jam baru bisa tiba di kota.

Peliknya infrastruktur di Manggarai Timur memang sering dibicarakan. Media-media nasional beberapa kali menyoroti persoalan ini.

Karena itu, pemimpin yang baru harus mulai berpikir populis untuk menuntaskan persoalan infrastruktur. Rakyat Manggarai Timur sebagai empunya pemilik kekuasaan sebisa mungkin leluasa mengakses buah pembangunan. Rakyat tidak boleh menjadi tumbal dari kekuasaan. Dalil politik yang beranggapan bahwa daerah tertentu bukan lumbung suara saat pilkada tidak boleh dijadikan argumentasi politik saat sudah duduk di kursi kekuasaan. Artinya, kalkukasi politik saat pilkada harus disingkirkan.

Ande-Stef tidak boleh menjadi pengkhianat. Janji-janji kampanye harus dibuktikan. Cengkeraman elite yang membekingi saat suksesi pilkada jangan sampai dijadikan sebagai refrensi utama dalam membangun. Pemimpn tidak boleh di bawah ketiak tim sukses.

Ande-Stef harus memiliki roh kepemimpinan yang jelas. Konsentrasi pembangunan akan terganggu saat bisikan demi bisikan tim sukses menjadi  refrensi pemimpin terpilih.

Kondisi jalan Provinsi NTT menuju wilayah Elar Selatan Manggarai Timur (Foto: Nansianus Taris/Vox NTT)

Saya percaya di tangan pemimpin terpilih, Kabupaten Manggarai Timur menjadi lebih baik. Benih-benih kepemimpinan yang didapat oleh Bapak Ande Agas saat mendampingi Bupati Yosep Tote tinggal dipreteli lagi untuk perbaikan Manggarai Timur tercinta.

Guru Honor Menjerit

Selain akses infrastruktur yang masih buruk, kado valentine bagi Bupati Ande Agas salah satunya persoalan guru honor. Publik Manggarai Timur tentu tidak asing lagi dengan persoalan ini.

Awal Februari 2019, ada putusan menarik nan kontroversial yang diambil oleh orang nomor satu di Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Manggarai Timur. Ia memberhentikan guru BOSDA dan THL sebanyak 1014 orang.

Sejumlah guru saat mendatangi Kantor Dinas PK Matim (Foto: Sandy Hayon/ Vox NTT)

Putusan ini seketika menuai aneka kecaman. Kita ketahui bahwa Kadis PK Kabupaten Manggarai Timur memiliki rekam jejak yang menarik terkait persoalan guru di daerah itu. Namanya sering diperguncingkan oleh media. Hal ini dilandasi oleh keputusan yang adakalanya berseberangan dengan keinginan publik.

Sebagai guru, saya merasakan bahwa keputusan yang memotong upah guru memperburuk performa guru di kelas. Psikologis pengajar akan terganggu. Guru akan dengan tenang dan senang mengajar di depan kelas saat kebutuhan sehari-harinya terpenuhi, demikian pun sebaliknya. Guru akan terganggu saat kebutuhan hidupnya diabaikan. Ada korelasi antara pemberian BOSDA dengan penampilan guru di depan kelas.

Kadis PK Manggarai Timur sejatinya menyadari hal demikian. Proyek peradaban di bidang pendidikan ada di tangan guru. Jika gurunya dengan bangga berdiri dengan dibuktikan upah yang layak, maka ia akan menghasilkan cetakan yang bermutu pula.

Pemecatan guru THL harus didukung dengan kebijakan antisipasi. Ketakutan saya bahwa guru yang tidak masuk dalam THL diabaikan begitu saja tanpa adanya kejelasan nasib mereka sendiri. Klimaksnya, anak didik pun jadi korban.  

Pemimpin Manggarai Timur terbaru harus datang dengan program kerja yang lebih progresif. Artinya, semangat untuk mengutamakan kepentingan umum jadi jualan utama. Rakyat tidak boleh jadi korban, apalagi anak bangsa yang sedang mengenyam di bangku pendidikan menjadi korban kebijakan karena hak-hak pendidik diabaikan. Jangan sampai itu terjadi.

Gedung darurat SMAN 2 Lamba Leda (Foto: Nansianus Taris/ Vox NTT)

Penulis percaya bahwa pemimpin terpilih hadir dengan niat yang bersih, memiliki semangat cinta kasih, serta membangun Manggarai Timur dengan hati.

Rasa percaya diri penulis semakin melambung kala pemimpin terpilih dilantik saat hari Valentine, hari di mana orang di seluruh belahan bumi sedang bereuforia untuk saling berbagi kasih sayang dengan sesama.

Ya, pemimpin baru kita akan menjadi pemimpin yang mengasihi rakyat. Selamat memimpin untuk Bapak Ande Agas dan Bapak Stef Jagur.