Masjid Al. Istiqamah Kampung Ronting, Desa Satar Kampas, Kecamatan Lamba Leda, Matim (Foto: Sandy Hayon/ Vox NTT)
alterntif text

Borong, Vox NTT-Kampung Ronting merupakan sebuah kampung yang ada di Desa Satar Kampas, Kecamatan Lamba Leda, Kabupaten Manggarai Timur (Matim), Flores-NTT.

Desa Satar Kampas sendiri merupakan wilayah pemekaran dari Desa Satar Padut pada tahun 2012 lalu.

Lokasi Kampung Ronting tepat berada di bibir pantai laut Flores. Masyarakat kerap menyebut wilayah ini dengan nama pantai utara Matim.

Sebagian besar penduduknya bermatapencaharian sebagai nelayan. Ada juga yang berprofesi sebagai petani ladang maupun sawah.

Perjalanan menuju Kampung Ronting sekitar 4 sampai 5 jam berkendaraan dari Borong ibu kota Kabupaten Matim.

Dari Borong, Anda akan melewati empat kecamatan yakni Borong, Ranamese, Poco Ranaka, Poco Ranaka Timur hingga masuk ke wilayah Kecamatan Lamba Leda.

alterntif text

Bisa juga dari Ruteng ibu kota Kabupaten Manggarai. Anda akan menghabiskan sekitar 3 jam dengan kendaraan melalui rute Ruteng-Reo-Dampek.

Selain memiliki potensi laut yang berlimpah, Kampung Ronting memiliki keindahan alamnya. Di bibir pantai terdapat pasir putih berkilau dan air laut yang bersih.

Hamparan pasir putih di Kampung Ronting (Foto: Sandy Hayon/ Vox NTT)

Zaitun seorang pemuda di Desa Satar Kampas mengatakan, Kampung Ronting sangat layak untuk dijadikan tempat wisata.

Namun, potensi laut dan keindahannya belum mampu “ditangkap” oleh Pemkab Matim sebagai aset yang bisa menghasilkan pundi-pundi pendapatan daerah.

“Hasil lautnya banyak, hamparan pasirnya luas, ada juga hutan mangrove apalagi airnya sangat jernih dan bersih,” ujarnya kepada VoxNtt.com, Jumat (1/3/2019).

Menurut dia, jika potensi itu dimanfaatkan dengan baik, maka pasti akan memberikan dampak yang baik bagi masyarakat.

Zaitun mengatakan, akses yang cukup jauh dari pusat Kabupaten Matim akan memberikan efek yang bagus, khususnya peningkatan pendapatan warga.

Para wisatawan yang datang selain untuk menikmati keindahan alam, juga mereka akan lebih lama berada di kampung itu.

“Ini semacam membuka kran ekonomi, kalau mereka lama di daerah kita pasti akan keluar banyak uang dan inilah yang menguntungkan kita,” kata Zaitun.

“Mereka puas kita juga puas, saling menguntungkan,” tambahnya.

Kendati demikian, kata dia, semua mimpi dan cita-cita itu sangat bergantung pada kepekaan seluruh stake holders untuk mengembangkan dan mempromosikan sumber daya alam yang ada.

Zaitun menambahkan, potensi alam yang ada di Lamba Leda juga Kecamatan Sambi Rampas seperti danau Rana Tonjong, Rugu, Bukit Cinta belum tersentuh dengan baik.

“Terimkasi kepada VoxNtt, semoga ini menjadi awal yang baik bagi kami ke depan,” tukasnya.

Zaitun berharap potensi keindahan alam di Kampung Ronting bisa dilirik oleh pemerintah sebagai aset yang berharga.

Seusai diskusi, Zaitun mengajak VoxNtt.com untuk mampir di Masjid Al. Istiqamah. Jaraknya sekitar 50 meter dari rumahnya.

Walau tidak berukuran besar seperti tempat ibadah lainnya, masjid itu kelihatan megah.

Lokasinya, diperkirakan 10 meter jaraknya dengan bibir pantai. Dari pengakuan,Safrudin Arahman (52) sebagai imam tiga, masjid itu merupakan yang pertama di Kecamatan Lamba Leda.

Masjid itu didirikan pada 15 Maret 1985.

Menurutnya, tempat ibadah itu sudah direhab selama lima kali.

“Dulu waktu bangun atapnya masih pakai daun dan lantainya pakai pasir, tetapi terus berkembang dan bersyukur sekarang kami sudah dapat bantuan untuk pembangunan masjid baru,” ujarnya kepada VoxNtt.com.

Safrudin menuturkan, pada tahun 1992 ketika gempa di Maumere, Kampung Ronting sempat terendam air.

Akibatnya, sebagian besar rumah penduduk rusak. Tetapi, masjid itu pun masih tampak utuh.

Tempat budidaya mangrove di Kampung Ronting (Foto: Sandy Hayon/ Vox NTT)

Usai berwawancara dengan Safrudin, VoxNtt.com berkunjung ke hutan mangrove yang letaknya juga tak jauh dari Kampung Ronting. Hutan itu tampak hijau. Di beberapa titik warga tengah membudidayakan pohon mangrove untuk ditanam kembali.

Penulis: Sandy Hayon
Editor: Ardy Abba