Ratusan FPPN dan THL mendatangi Kantor Bupati Nagekeo (Foto: Arkadius Togo/Vox NTT)

Mbay, Vox NTT-Sejak Januari 2019, Bupati Nagekeo Johanes Don Bosco Do memberhentikan 1.046 Tenaga Harian Lepas (THL).Pemberhentikan itu dilakukan karena masa kontrak para THL telah selesai.

Sejak pemberhentian Januari lalu, hingga kini belum ada informasi yang pasti apakah Pemda Nagekeo bakal merekrut kembali THL atau tidak.

Namun rumor yang beredar belakangan ini, Bupati Nagekeo Johanes Don Bosco Do sedang meminta setiap pimpinan OPD untuk memasukan formasi sesuai Analisis Beban Kerja (ABK) untuk kembali merekrut THL.

Tetapi sedikit berbeda dengan perekrutan THL yang terjadi di RSD Aeramo. Walaupun belum ada penerimaan THL di lingkup Pemda Nagekeo, namun ada 16 orang THL sudah bekerja di RSD Aeramo.

Ke-16 THL itu diduga lamarannya melalui Kepala Desa Aeramo Dominggus Biu Dhore. Kades Dhore dikabarkan sebagai salah satu tim pemenangan pasangan Johanes Don Bosco Do dan Marianus Waja(Paket YES) pada Pilkada Nagekeo kali lalu.

“Saya punya anak buah di rumah mau pergi antar lamaran tapi saya tidak izin. Karena lamaran itu harus melalui Kades Aeramo. Saya heran kok kepala desa bisa terima lamaran untuk kerja di RSD Aeramo. Apakah ini RSD dikelola oleh Pemerintah Desa Aeramo atau dari Pemda Nagekeo. Kalau Pemda Nagekeo seharusnya melalui Bupati Nagekeo,” ujar salah satu tokoh muda Aeramo yang tidak ingin namanya dimediakan saat ditemui VoxNtt.com, Selasa (14/05/2019).

Sumber itu mempertanyakan anggaran untuk membayar upah THL yang bekerja di RSD Aeramo tersebut.

Apabila melalui dana desa, menurut dia hal tersebut sudah salah sasaran.Sebab, RSD Aeramo bukan dikelola oleh pemerintah desa melainkan Pemda Nagekeo.

Pemilik ulayat RSD Aeramo, Patris Seo membenarkan hal itu. Ia mengatakan, ada 16 THL yang sudah bekerja di RSD Aeramo. Mereka direkrut oleh Kades Aeramo.

Ketua Suku Nataia itu juga mempertanyakan kapasitas Kades Aeramo dalam merekut THL di RSD Aeramo.

“Masa bukan Bupati tapi Kades Aeramo yang rekrut. Ada apa ini?” tanya Patris penuh curiga.

Menurutnya, perekrutan THL oleh Kades Aeramo sangat keliru. Sebab tidak ada regulasi yang mengatur bahwa Kades bisa merekrut para THL untuk dipekerjaan di RSD Aeramo.

Selain itu, kata Patris, perekrutan THL di RSD Aeramo sangat tertutup dan pilih kasih.

“Kalau memang ini kebijakan Kades Aeramo seharusnya panggil fungsionaris adat Nataia bicara dulu, agar bisa ada pemerataan perekrutan. Saya lihat THL yang kerja di RSD Aeramo, orang-orang dekatnya Kades Aeramo,” ujarnya.

Berdasarkan informasi yang dihimpun VoxNtt.com, ke-16 THL tersebut diberi upah Rp 1.500.000 per bulan. 15 orang di antara 16 THL itu lamarannya diduga melalui Kades Dhore.

Mereka yang dipekerjakan itu yakni cleaning service 5 orang, sopir 2 orang, di bagian laundry 2 orang, pramusaji 2 orang, listrik 1 orang, penjaga air 1 orang dan pemasak 3 orang.

Sementara itu hingga berita ini diturunkan Kades Dhore belum berkomentar seputar dugaan tersebut.

Saat dihubungi VoxNtt.com melalui pesan WhatsApp-nya, Kades Dhore mengaku masih sibuk dengan kegiatan kunjungan mahasiswa dari STPM Ende. Para mahasiswa itu dikabarkan menggelar kegiatan pengabdian masyarakat di Desa Aeramo.

“Nanti ada waktu saya kontak adik untuk menjelaskan secara detail terkait soal perekrutan THL itu,” ujarnya, Rabu (15/05/2019).

Penulis: Arkadius Togo
Editor: Ardy Abba