Close Menu
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
Facebook X (Twitter) Instagram
VoxNtt.comVoxNtt.com
Facebook X (Twitter) Instagram
Subscribe
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
VoxNtt.comVoxNtt.com
Home»Regional NTT»Kesulitan Jaringan Internet dan Telepon, Warga di Ende Rela Panjat Pohon
Regional NTT

Kesulitan Jaringan Internet dan Telepon, Warga di Ende Rela Panjat Pohon

By Redaksi8 Juni 20192 Mins Read
Facebook Twitter WhatsApp Telegram
Ilustrasi
Share
Facebook Twitter Pinterest Telegram WhatsApp

Ende, Vox NTT- Warga empat desa di Kecamatan Maurole, Kabupaten Ende, Flores, NTT belum menikmati jaringan internet hingga saat ini. Keempat desa tersebut ialah Desa Aewora, Desa Ngalukoja, Desa Detuwulu dan Desa Otogedu.

Warga Aewora, Arkadius Aku Suka menyebutkan, keempat desa tersebut hingga kini benar-benar belum tersentuh jaringan internet sama sekali.

“Belum, belum sama sekali kita disini nikmati jaringan internet. Termasuk jaringan telkomsel juga, padahal kita sangat membutuhkan,” ucap Arkadius terpisah, Sabtu (08/06/2019) pagi.

Menurut dia, jaringan internet sangat diperlukan apalagi hidup pada era terbuka saat ini. Terutama sebagai alat komunikasi terhadap sanak saudara yang bepergian jauh.

“Ia, kan ada keluarga kita yang merantau, ada juga yang kuliah. Jadi, jaringan internet dan jaringan handphone sangat-sangat diperlukan. Untuk kepentingan komunikasi sebenarnya,” kata Arkadius.

Ia pun bercerita pengalaman selama ini dalam menggunakan akses informasi dan komunikasi di wilayah setempat. Warga harus menempuh jarak 5 kilometer untuk mendapatkan sinyal telepon.

Lebih buruk lagi, saat keperluan mendadak warga harus rela memanjatkan pohon untuk dapat berkomunikasi.

“Ini peristiwa yang paling buruk yang kami alami di sini,” tutur dia.

Mantan aktivis ini pun menyentil tentang program pemerintah yang saat ini telah gencar terhadap lembaga pendidikan agar mengikuti Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK) dengan jaringan internet menjadi sebuah syarat wajib.

Menurut dia, program ini seperti mendorong orang buta ke jurang.

“Diwajibkan untuk menggunakan jaringan internet tapi tidak disiapkan. Nah, kami sangat mengharapkan respon cepat dari pihak-pihak terkait agar keluhan kami dapat terjawab dan program pemerintah dapat dilaksanakan,” katanya.

Penulis: Ian Bala
Editor: Ardy Abba

Ende
Previous ArticleBaru Diresmikan, Pasar Malam Soe Sepi Pengunjung
Next Article Tahun-Konay Disebut-sebut Mulai ‘Tak Seiring Jalan’

Related Posts

Polsek Amarasi Timur dan Pemerintah Kecamatan Tinjau Lokasi Kebakaran Rumah Warga di Pakubaun

6 Juni 2026

‘Gema Mabar’ Diluncurkan, Pemkab Manggarai Barat Fokus pada Ketahanan Pangan hingga Pariwisata Berkelanjutan

2 Juni 2026

Manggarai Barat Dorong Koperasi Desa Merah Putih Beroperasi Meski Belum Punya Gerai

30 Mei 2026
Terkini

Gabriel Goa Desak Penuntasan Kasus TPPO Mariance Kabu dan Yuliana Dopo

6 Juni 2026

Ahli Waris Yakin PN Kupang Putus Objektif Gugatan Peralihan Sertifikat dan Rumah

6 Juni 2026

Polsek Amarasi Timur dan Pemerintah Kecamatan Tinjau Lokasi Kebakaran Rumah Warga di Pakubaun

6 Juni 2026

Peti Persembahan vs Peti Mati

6 Juni 2026

Jejak Skandal AKP Serfolus Tegu: Istri Simpanan, Dugaan Kekerasan hingga Laporan ke Propam

5 Juni 2026
© 2026 VoxNTT
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.