Kepala BBKSDA NTT, Timbul Batubara (Foto: Ronis. Vox NTT)
alterntif text

Kupang, Vox NTT-Sebanyak enam ekor Komodo selundupan yang berhasil diamankan Polda Jawa Timur beberapa waktu lalu akan dikembalikan ke habitat aslinya di Flores bagian utara pada senin 15 Juli tahun 2019.

Demikian disampaikan Kepala Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam, Timbul Batubara di kantornya Kamis 11 Juli 2019.

Menurut Timbul, 6 Komodo tersebut akan dilepaskan ke Pulau Ontoloe, Riung, didahului dengan habituasi di kandang. Berdasarkan penelitian DNA yang dilakukan LIPI habitat aslinya berasal dari Pulau Ontoloe.

“Kita pakai pesawat udara nantinya, karena dalam kandang menurut standar kesehatan hewat komodo itu harus kurang lebih 24 jam. Jalunya nanti melalui Jawa Timur-Bali-Labuan Bajo menggunakan pesawat lalu pakai jalan darat ke Reo hingga Riung”, kata dia.

Keberangkatan enam ekor Komodo selundupan itu dijadwalkan Senin 14 Juli dan 15 Juli 2019 siang tiba di Riung.

Kura-kura Leher Ular akan Dikembangkan Kembali di Rote

Selain Komodo, hewan khas asal Rote Ndao yakni kura-kura leher ular akan didatangkan dari Singapura untuk kembali dilepas di habitatnya. Untuk sementara sebanyak 26 ekor akan dibawa kembali ke Rote.

“Selama ini, di bawah ke luar Negeri untuk dikembangkan dan berhasil. Kita akan datangkan kembali ke Rote. Di daerah aslinya sudah punah. Untuk sementara masih dilakukan kelengkapan administrasi”, jelas Kepala Seksi Perencanaan, Pengawetan dan Perlindungan (P3), BBKSDA Provinsi NTT, Imanuel Ndun, Kamis 11 j=Juli 2019.

Lanjut Imanuel, tahun 2009 pernah dilakuan uji coba pelepasan dan kemudian dilakukan survei dari tahun 2011 hingga 2013. Hasilnya ternyata gagal.

“Diduga waktu dilepaskan itu usianya masih sangat kecil. Hasil riset kami menemukan ada predator pemangsa seperti ikan gabus besar. Bayi kura-kura tidak ditemukan lagi”, jelasnya.

Menurutnya, habitat asli kura-kura leher ular hanya ada di pulau Rote. Seluruh wilayah Rote dulunya terdapat hewan tersebut.

”Habitatnya air tawar. Selain faktor hewan pemangsa juga secara ekologis danau dangkal karena erosi tidak sampai musim hujan, sehingga spesies kura-kura leher ular tersebut punah”, sambungnya.

Soal waktu kedatangan spesies tersebut belum dipastikan namun BBKSDA akan melakukan upaya penataan ekosistem sosial terhadap 3 danau, untuk tahap awal.

Penataan tersebut akan membagi peran pemerintah dan masyarakat dengan menggunakan pendekatan kearifan lokal.

Penulis: Ronis Natom

Editor: Irvan K

alterntif text