Ilustrasi Bung Karno (Foto: Istimewa)

(Spesial untuk Presiden Jokowi)

          Oleh: Yoss Gerard Lema

Wartawan, Penulis, Novelis Tinggal di Kota Kupang-NTT

DENTUMAN meriam menggelegar. Langit Jakarta pecah. Indonesia terdiam. Semua menghitung.  17 Kali. Angka keramat. Agustus, bulan keramat. 1945, Tahun keramat. Tepat 10.00 pagi, Bung Karno dan Bung Hatta, Proklamirkan Kemerdekaan Indonesia. Singkat kata-katanya. Penuh coretan tangan. Kini naskah itu telah berubah  menjadi negara besar. 74 Tahun usianya. Itulah Indonesia Raya. Negeri Pancasila. Negeri Gotong Royong. Bhineka Tunggal Ika. Berbeda-beda namun satu. MERDEKA…MERDEKA…MERDEKA…!!!

****    

Tanda kebesaran pun dibuka. Presiden Joko Widodo (Jokowi) akan menyerahkan naskah Proklamasi kepada Ketua DPR RI untuk dibacakan. Semua hening. Langit Jakarta biru. Awan putih membentang di atas Istana Negara. Burung-burung terbang melintas. Ratusan juta rakyat Indonesia menanti dengan cemas detik-detik itu. Semua berharap Bung Karno yang akan baca naskah itu.

“….PROKLAMASI. Kami bangsa Indonesia dengan ini menyatakan kemerdekaan Indonesia. Hal-hal yang mengenai pemindahan kekuasaan dan lain-lain disellenggarakan dengan cara saksama dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya. Jakarta, 17 Agustus 1945. Atas nama bangsa Indonesia. Soekarno-Hatta…”.

Kata-kata berdurasi tidak lebih dari tiga menit itu telah mengguncang dunia. Diksi yang dipakai dalam naskah Proklamasi itu tegas. Jepang, lunglai. Belanda, tergagap. Kolonial yang selama 350 tahun menjajah tercengang. Para politisi kawakan di berbagai belahan dunia terpana.  

Sesudah itu Presiden Jokowi serahkan Sang Saka Merah Putih kepada gadis cantik pembawa baki. Hening-diam-bisu. Hanya terdengar langkah kaki gadis pembawa baki menuruni anak tangga kehormatan berkarpet merah. Bendera pun siaaap. Lagu Indonesia Raya berkumandang. Seluruh anak bangsa menyanyi. Menggerek Merah Putih  ke puncak tertinggi ‘ Tiang Agustus’. Merah Putih berkibar-kibar di hati nurani seluruh anak bangsa.

Kemudian sepi. Bening. Lagu Gugur Bunga melukis wajah Bung Karno dan Bung Hatta dalam imajinasi anak bangsa. Sendu. Sediiih. Pediiih. Periiiih.

Detik-detik itu, teringat pula pada mereka yang menaikan bendera Merah Putih 74 tahun silam. Ingat pula pada ribuan pemuda-pemudi yang hadir pada upacara proklamasi itu. Ingat bagaimana mereka menyanyikan Indonesia Raya sambil berlinganan air mata. Haruuu. Mereka  generasi nekad. Nyawa digadaikan demi Indonesia merdeka. Mereka pahlawan tanpa nama, tanpa tanda jasa.  

Lalu nada lagu Gugur Bunga mencapai puncak kesenduan. Ooouuh telah gugur pahlawanku. Mengarsir lembut wajah Pahlawan Nasional Kusuma Bangsa. Tjut Nya Dien, Imam Bonjol, Pangeran Diponegoro, Hassanudin, Teuku Umar, Thomas Matulesi Patimura, Cristina Marta Tiahahu, dll. Serta Arek-Arek Suroboyo yang mengorbankan jiwa raganya demi mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

Di titik inilah saya pun teringat pada sosok Marilonga dan Baranuri, Pahlawan lokal bumi Ende-Lio yang diyakini ‘mendampingi’ Bung Karno ketika dibuang ke Ende. Teringat pula pada Nipado, pahlawan tanah Ngada. Tekaiku, pahlawan tanah  Sikka. Dan Sonbai, pahlawan bumi cendana wangi Timor.

Patung Pahlawan Lokal, Teka Iku di Sikka

Biasanya, upacara bendera mengenang Proklamasi  17 Agustus 1945 diakhiri oleh parade pesawat tempur TNI Angkatan Udara yang terbang melintasi diatas langit Istana Negara, Jakarta sambil mengucapkan Dirgahayu RI.  Dilanjutkan dengan lagu-lagu perjuangan dari paduan suara siswa-siswi se-Jakarta. Setelah itu Presiden dan Wakil Presiden meninggalkan tempat upacara. 

Sakral

Upacara peringatan Proklamasi 17 Agustus 1945 memang sakral.  Naskah Proklamasi yang cuma beberapa penggal kata itu penuh kharisma. Kekuatan kata-kata itu sungguh dahsyat. Raja Hirohito dan tentara Dai Nippon terdiam. Ratu Juliana dan tentara Belanda termangu.

Dunia pun terperangah, terbius, terpesona. Terhipnotis pada suara berat lelaki yang membacakan naskah Itu. Dialah ‘Singa Podium’.  Putra Sang Fajar yang mampu menjinakan Kerajaan Matahari Terbit dari timur. Dia Penyambung Lidah Rakyat Indonesia.

Hari itu, 74 tahun silam, Bung Karno dan Bung Hatta baru saja melahirkan Indonesia sebagai sebuah negara merdeka.  Letaknya di wilayah di Asia Tenggara. Persis di bentangan garis khatulistiwa. Beberapa kepala negara langsung ucapkan selamat. Mereka hormat dan percaya pada sosok  Bung Karno dan Bung Hatta. Mereka tahu sepak terjang keduanya sebagai pemimpin bangsa. Keduanya pejuang sejati. Berjuang demi kebenaran hakiki. Bukankah kemerdekaan adalah hak segala bangsa?

 Tapi kenapa dalam merayakan peringatan Proklamasi 17 Agustus 1945 yang sakral itu, justru kita melupakan sesuatu yang sakral bagi keutuhan bangsa dan negara Indonesia? Pancasila adalah sesuatu yang sakral. Sesuatu yang esensi bagi keutuhan bangsa dan Negara Indonesia.

Pancasila itu sama sakralnya dengan Proklamasi 17 Agustus 1945. Sama sakralnya dengan Bendera Merah Putih. Sama sakralnya dengan lagu Indonesia Raya. Sama sakralnya dengan Gotong Royong, Bhineka Tunggal Ika, berbeda-beda namun tetap satu. 

Pancasila ibarat jantung dalam tubuh manusia. Nyawa, jiwa dan roh bangsa bagi bangsa dan  negara Indonesia. Pancasila itu kudus. Suci. Putih. Bersih. Mulia. Tuhan bertakhtah dan bersemayam di setiap sila-silanya.

Siapa saja yang ingin menggantikan Pancasila dengan ideologi asing, Tuhan pasti berperang melawan mereka. Dan sejarah bangsa Indonesia telah membuktikan semua itu sejak pertama Indonesia akan merdeka.

Bahkan sampai akhir-akhir ini, masih ada segelintir anak bangsa, kaki tangan bangsa asing, tidak pernah berhenti ingin menghancurkan keutuhan bangsa dan negara Indonesia.

BACA JUGA:

Saya membayangkan Presiden Jokowi bersama Ketua DPR RI, Ketua MPR RI, Ketua DPD RI akan bersepakat agar teks Pancasila dibacakan dalam upacara Detik-Detik Proklamasi HUT ke-74  RI tanggal 17 Agustus 2019 di Istana Negara, Jakarta. Pada saat yang sama juga dibacakan di seluruh wilayah negara Indonesia dan Kedutaan Besar Indonesia di seluruh dunia.  

Pancasila adalah jati diri bangsa Indonesia. Proses mendapatkannya tidaklah gampang. Tuhan ada di balik semua ini. Sehingga Bung Karno mesti dibuang ke Ende-Flores. kota kecil nan sepi itu, ia menjadi akrab dengan Tuhan. Takut akan Tuhan adalah permulaan hikmat. Dia tekun menjalankan sholat lima waktu, dzikir dan  puasa senin-kamis. 

Patung Bung Karno di Taman Permenungan Bung Karno Ende, Flores, NTT (Foto: Ian Bala/Vox NTT)

Lihatlah ke kamar dan tempatnya berdoa. Ada bekas telapak tangannya. Ada bekas keningnya saat sujud. Hanya Tuhan yang tahu berapa banyak air mata yang keluar dari mata politisi muda yang cerdas itu. Berapa banyak ingus  yang meleleh bersama tangisannya. Betapa kerasnya dia berteriak minta tolong kepada Tuhan, agar bangsanya terbebas dari belenggu kolonial.

Sholat lima waktu, dzikir dan berpuasa membuat Tuhan mengkaruniakan mukjizat terindah kepadanya. Pancasila adalah mukjizat terbesar dan terhebat bagi bangsa dan negara Indonesia. Sebab di Ende inilah Bung Karno menyaksikan Pancasila yang hidup. Pancasila yang bisa dilihat, diraba, dirasakan, dinikmati dalam kehidupan sehari-hari.

Di Ende inilah Bung Karno  menjadi bagian dari Pancasila yang hidup itu. Perbedaan agama, suku, bahasa, budaya, etnis, warna kulit, dll tidak menjadi halangan dalam pergaulan antar manusia. Di Ende inilah Bung Karno ditempa dalam tungku kemuliaan menjadi seorang negarawan sejati. 

Oleh karena itu, Pancasila bukanlah teori. Hanya bisa diajarkan dari generasi ke generasi melalui contoh hidup. Praktek nyata kehidupan. Dan Presiden Jokowi serta keluarga kecilnya telah memulainya sejak menjadi Walikota Solo dua periode. Gubernur DKI Jakarta. Dan Presiden Indonesia 2014-2019. 

Presiden Jokowi  dan keluarga kecilnya adalah contoh Pancasila yang hidup. Pancasila yang  bisa dirasakan melalui kebijakan-kebijakan yang diperjuangkan ketika menjadi Walikota Solo, Gubernur DKI Jakarta dan Presiden RI 2014-2019. Kebijakannya membangun infrastruktur di seluruh wilayah Indonesia, Sabang sampai Merauke, Miangas sampai Pulau Rote merupakan penerapan Sila Kelima, yaitu, Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia. 

Sikap hidup Jokowi yang jujur, sederhana, ramah, lemah lembut adalah contoh Pancasila yang hidup. Begitu pula sikap hidup isterinya Iriana juga menjadi contoh bagi semua istri yang suaminya pejabat. Tidak menjerumuskan suaminya menjadi seorang koruptor. Juga ketiga anaknya, yaitu Kaesang, Kahiyang Ayu dan Gibran adalah contoh bagi anak yang orang tuanya pejabat.

Mereka tidak memafaatkan jabatan orang tuanya. Ketiganya bangga menjadi penjual martabat, pisang goreng dan kopi rakyat milik  Kahiyang Ayu dan suaminya Boby Nasution.

Selain Presiden Jokowi ada pula beberapa pejabat daerah yang layak disebut sebagai contoh Pancasila yang hidup. Sebut saja Walikota Surabaya Tri Rismaharini,  mantan Walikota Bandung Ridwan Kamil (kini menjadi Gubernur Jawa Barat), mantan Bupati Bantaeng Nurdin Abdullah (kini Gubernur Sulawesi Selatan), mantan Bupati Belitung Timur dan mantan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaya Purnama alias Ahok. 

Cerita tentang Jokowi, Tri Rismaharini, Ridwan Kamil, Nurdin Abdullah, Basuki Tjahaya Purnama dan mereka yang perilaku hidupnya dinilai sebagai Pancasila yang hidup. Pemerintah Indonesia wajib membukukannya untuk dibaca seluruh anak-anak Indonesia. Mulai dari TK, SD, SMP, SMU dan Universitas.

Jiwa nasionalis mereka mesti dibuka. Kehidupan regilius mereka dibuka. Cita-cita dan perjuangan mereka semuanya dibuka. Sebab bangsa ini butuh contoh hidup. Sebab di semua media hari ini didominasi oleh berita  tentang korupsi, radikalisme, narkoba, dan hoaks. 

Sudah saatnya sejarah Indonesia melahirkan idola-idola baru. Mudah-mudahan nanti ada ribuan, bahkan ratusan ribu pejabat daerah dan pejabat pusat di berbagai bidang kehidupan yang menjadi contoh Pancasila yang hidup. Pancasila mesti hidup pada karakter setiap anak bangsa. Bahkan jabang bayi yang ada dalam kandungan ibunya telah mengenal Pancasila dari bisikan kasih mesra kedua orang tuanya.  

Nilai Diri 

Pancasila bukan angan-angan. Bukan pula hayalan.  Pancasila adalah sebuah visi nyata. Oleh karena itu, semua anak bangsa mesti sekolah setinggi-tingginya. Jangan buta huruf atau buta aksara. Laki perempuan mesti  belajarlah sampai akhir hayat. Kejarlah ilmu sampai ke negeri Cina.  

Sejumlah siswa SDK Wolondopo, Ende, NTT harus melintasi jalur longsor saat ke sekolah. Tidak ada jalan alternatif dari Gegaria menuju sekolah mereka (Foto: Ian)

Kenapa? Pancasila menghendaki semua anak pintar. Cerdas. Briliant. Mampu melahirkan gagasan bagi bangsa dan negaranya. Semua itu bisa didapat di sekolah formal dan di sekolah kehidupan. Ijazah S1, S2, S3 dan profesor memang membanggakan. Meningkatkan harga diri.

Namun Pancasila butuh lebih dari sekedar harga diri. Pancasila membutuhan anak bangsa yang memiliki Nilai Diri.

Ilmu pengetahuan dan teknologi akan membuat seseorang kenal akan dirinya. Apakah layak dimata Tuhan, sesama, budaya, lingkungan dan alam raya.  

Jadilah seperti padi. Semakin berisi semakin merunduk. Itu peribahasa tua. Semakin tua buah kelapa semakin berminyak.

Pancasila menghendaki anak bangsa yang memiliki nilai diri yang tinggi. Jujur, rendah hati, lembah lembut, memiliki kasih pada sesama, tidak ada pikiran untuk korupsi, tidak bohong, tidak suka berpura-pura, anti menyebarkan hoax, dll.

Nilai diri berasal dari sifat Takut Akan Tuhan, apapun agamanya. Karena nilai diri bersifat kekal. Berbeda dengan harga diri yang selalu orang banggakan, sifatnya semu, tak abadi, menipu dan mencelakakan.

Sehingga wajib hukumnya teks Pancasila dibacakan pada upacara peringatan Proklamasi RI ke-74 tanggal 17 Agustus 2019. Pertanyaannya, siapa yang paling pantas untuk membaca teks Pancasila? Ketua MPR RI kah? Ketua DPD RI kah? Atau Ketua DPR RI kembali dipercaya untuk membacanya? 

Tidaaak…!!! Sekali lagi tidak. Jangan biarkan para politisi berebut untuk membaca naskah Pancasila yang sakral itu. Pancasila adalah produk budaya. Intisari dari akar budaya nusantara. Semua  adat budaya setiap daerah mencerminkan Pancasila.

Ketuhanan Yang Maha Esa, Kemanusiaan yang adil dan beradab, menjunjung tinggi nilai-nilai persatuan, menghormati demokrasi dalam setiap keputusan adat dan melaksanakan keadilan sosial bagi seluruh masyarakat di wilayah adatnya .      

Memang Bung Karno melihat Pancasila yang hidup itu pada masyakat Ende-Lio. Namun sesungguhnya seluruh adat budaya nusantara memilki kearifan yang sama tentang Pancasila.  Lima Sila terpatri nyata dalam siklus kehidupan masing-masing suku.

Warisan budaya nenek moyang itu selama ribuan tahun terpendam dan tersembunyi dalam perut bumi nusantara. Hanya karena kemurahan Tuhan akhirnya Bung Karno berhasil menggali rahasia besar alam raya nusantara yang diwariskan nenek moyang kepadanya.  Pancasila adalah jantung Indonesia. Tanpa Pancasila semuanya selesai.    

Sebab itu, pada tempatnya bila Anak-Anak Nusantara diberikan kehormatan untuk membaca teks Pancasila. Mereka akan membaca secara kreatif sesuai jiwa mudanya. Mula-mula Pancasila dibaca dalam bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan.

Kemudian teks Pancasila dibaca dalam berbagai  bahasa daerah. Misalnya bahasa Ende, Sabang, Jawa, Papua, Miangas, Rote, Kalimantan, Makasar, dll. Tiap tahun bahasanya bergantian. Stok bahasa daerah kita tidak akan pernah habis.

Maka hadirkan anak-anak TK, SD, SMP, SMU dan Mahasiswa dari 34 provinsi. Sebab mereka akan membaca teks Pancasila itu dibawah kibaran Sang Saka Merah Putih di Istana Negara, Jakarta. Mereka dengan bangga mengenakan busana adat dari daerahnya. Membentuk lingkaran utuh mengelilingi ‘Tiang Agustus’ sambil berpegangan tangan.

Itulah simbol Persatuan Indonesia. Satu hati, satu jiwa, satu cita-cita untuk Indonesia Raya.  Dan di bawah kibaran Sang Saka Merah Putih semua anak-anak Indonesia tersenyum bahagia. 

Kenapa  anak-anak? Sebab mereka orang-orang yang memegang tongkat estafet bangsa Indonesia hari ini dan hari yang akan datang. Mereka yang akan merajut Burung Garuda dengan aneka benang warna-warni. Garuda Pancasila akan terbang tinggi setinggi-tingginya sebab memiliki kedua sayapnya yang kuat. Seperti yang dikatakan Bung Karno di Sarinah, halaman 17-18. 

“Laki-laki dan perempuan adalah sebagai dua sayapnya dalam seekor burung. Jika dua sayap sama kuatnya maka terbanglah burung itu sampai ke puncak yang setinggi-tingginya. Jika patah satu dari pada  dua sayap itu, maka tak dapatlah terbang burung itu sama sekali”.   

Karena itu, anak laki-laki dan perempuan Indonesia mesti memiliki Nilai Diri yang tinggi.  Nilai Diri Pancasilais. Biar para leluhur nusantara bangga dan bahagia. Para pahlawan kusuma bangsa juga tersenyum indaaah. Ooouuh…seandainya Bung Karno dan Bung Hatta masih hidup, keduanya pasti akan menggandeng tangan Presiden Jokowi dan Wakil Presiden Jusuf Kalla untuk  menghampiri anak-anak yang tersenyum gembira di bawah ‘Tiang Agustus’.

Peluklah anak-anak itu. Beri ciuman terindah pada mereka. Sebab tugas Bapa Bangsa adalah meyakinkan generasi penerusnya bahwa Garuda Pancasila kini sedang terbang setinggi-tingginya menuju ke langit cita-cita Indonesia.    

Yakinlah, Pancasila telah tumbuh di lubuk hati anak-anak. Mudah-mudahan diantara mereka ada yang menjadi politisi cerdas. Memiliki hati nurani yang meluap dari jiwa yang jujur, tulus, suci, putih dan mulia. Politisi seperti itu akan membuat Indonesia bercahaya gilang-gemilang.

Politisi seperti itu menghadirkan senyum terindah pada rakyatnya. Sebab senyum itu keluar dari relung hati yang berjuang hanya untuk rakyat.

Pada merekalah Indonesia gantungkan harapan. Pada mereka kapal Induk bernama Indonesia Raya mampu berpacu menuju ‘Tanjung Harapan’. Karena mereka nahkoda-nahkoda handal yang siap memenangkan persaingan antar bangsa.   

Pancasila Mendunia

Peri bahasa usang mengatakan gajah mati meninggalkan gading. Harimau mati meninggalkan belang. Manusia mati meninggalkan nama. Peribahasa itu berlaku untuk semua orang. Termasuk Bung Karno. Dia meninggalkan nama yang tak lekang oleh waktu. Menyebut Pancasila masyarakat Indonesia langsung ingat  Bung Karno.

Menyebut Proklamasi juga teringat namanya. Menyebut Presiden pertama Indonesia pastilah Bung Karno. Pendiri Negara Indonesia semua anak bangsa langsung sebut namanya. Singa Podium itulah julukannya saat pidato. Dialah Putra Sang Fajar, lahir saat matahari terbit di ufuk timur. 

Ada banyak kisah tentang Bung Karno. Termasuk 16 kata-kata mutiara yang sampai saat ini terbukti kebenarannya. Bukan itu saja. “Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghormati jasa pahlawannya.  Berikan aku 1000 orang tua, niscaya akan kucabut Semeru dari akarnya. Berikan aku sepuluh pemuda, niscaya akan kuguncangkan dunia. Perjuanganku lebih mudah karena mengusir penjajah, tapi perjuanganmu akan lebih sulit karena melawan bangsamu sendiri”.      

Kata-kata  Bung Karno pun terbukti kebenarannya. Tidak lekang oleh waktu. Cocok dan pas untuk bangsa dan negara Indonesia. Kekhawatiran dan kecemasan sebagian anak bangsa menghadapi kontestasi Pilpres 2019, bahwa Pancasila  akan diganti oleh ideologi asing, itulah sebuah kecemasan terindah dan sempurna.

Kecemasan yang paripurna. Rancangan Ilahi. Sebab nama Indonesia harus ditinggikan. Mesti melejit seperti meteor. Sebab Indonesia adalah bangsa yang Takut Akan Tuhan. Sila pertama, Ketuhanan Yang Maha Esa menunjukkan itu. Tuhan membuktikan bahwa Pancasila terbaik bukan hanya untuk Indonesia saja. 

Lihatlah pada sejarah benua Amerika. Saling perang dan terpisah-pisah. Mereka bangsa coboy  setiap saat siap memuntahkan peluru. Benua itu dibingkai oleh darah dan air mata. Perjalanan bangsa Eropa juga sama.  Satu daratan, saling perang, saling bunuh. Afrika apa lagi. Terpecah belah tak karuan. Perang, bunuh, gampang diadu bangsa asing.

Benua Australia kini ketar-ketir. Ratusan ribu, mungkin  jutaan pengungsi dari Timur Tengah membanjiri benua itu. Cemas dan khawatir menimpa warganya. Lalu benua Asia, perang berkecamuk dimana-mana. Negara-negara di Timur Tengah, memiliki budaya sama, agama sama, kebiasaan sama, ternyata sampai saat ini saling membunuh.

Sehingga wajar jika Indonesia dan Pancasila dalam Pilpres 2019 ini menjadi perhatian seluruh masyarakat dunia. Melalui media sosial masyarakat Amerika, Eropa, Afrika, Australia dan Asia menunggu apakah Indonesia dan Pancasila masih berjaya. Sebab pilpres kali ini tercatat paling brutal dalam sejarah pemilu yang pernah ada di Indonesia. Hoax bertebaran di mana-mana. Mengerikan…!!!

Di titik inilah mata dunia menunggu. Apakah Pancasila masih bergigi merekatkan sekitar 17.400 pulau (Besar, sedang, kecil, dan sangat kecil). Merekatkan tali kasih di antara sekitar 300 juta jiwa, ribuan suku, ribuan adat budaya, ribuan bahasa daerah dan logat, bermacam-macam agama (islam yang dominan, lainnya kristen, katolik, hindu, budha dan agama-agama local).

Nyatanya Pancasila tetap kokoh. Pilpres 2019 selesai dan bangsa Indonesia baik-baik saja. Melalui Pilpres ini masyarakat dunia akhirnya percaya bahwa Pancasila sebagai Dasar Negara Indonesia memiliki akar tunggang yang sangat dalam. Cobaan-cobaan saat Pilpres, bahkan ada pula kekuatan asing yang ingin menghancurkan Pancasila, justru Tuhan yang berperang melawan mereka. 

Dunia pun tercengang. Nama Bung Karno kembali terkenang. Bukankah dalam setiap kunjungan kenegaraan Bung Karno selalu promosikan Pancasila. Mulai dari Negara-negara di Asia, Afrika, Australia, Eropa dan Amerika. Bahkan Bung Karno mempromosikan Pancasila di hadapan Kongres Amerika dan PBB.

Dengan bangga Bung Karno jelaskan satu persatu sila dari Pancasila. Ekspresinya hebat. Seluruh audiens memberikan aplaus meriah. Putra Sang Fajar, Penyambung Lidah Rakyat Indonesia kembali membius masyarakat dunia tentang Pancasila. 

Bung Karno saat berpidato di PBB pada 30 September 1960 (Foto: Istimewa)

Kini ahli-ahli sejarah dunia harus meluangkan waktu untuk mencermati pikiran Bung Karno pada setiap tarikan nafas Pancasila. Sebab Pancasila memiliki energy yang dahsyat. Yaitu toleransi dan gotong royong. Toleransi dan gotong royong adalah lem utama yang membuat semboyan Bhineka Tunggal Ika menjadi nyata dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.    

Di tengah dunia yang semakin hebat, modern, persaingan ditentukan oleh kecepatan mengakses teknologi (termasuk informasi), namun perilaku manusia masih seperti zaman primitive. Perang berkecamuk didalam dunia serba canggih ini. Membunuh menggunakan teknologi mutahir. Jutaan manusia mati terbunuh. Yang lain mengungsi sejauh-jauhnya. Bahkan lari sampai ke negeri yang tak pernah dibayangkan.

Mereka mengungsi melalui darat, laut dan udara. Beberapa negara kini kebanjiran pengungsi, termasuk Indonesia. Ibarat hujan di Bogor, namun penduduk Jakarta  menerima banjir kiriman dengan segala konsekwensinya. 

Di titik inilah Presiden Jokowi pada periode kedua kepemimpinannya (2019-2024) mesti jeli untuk menempatkan seseorang menjadi Duta Besar. Silahkan semua persyaratan dipenuhi. Namun pribadi yang bersangkutan haruslah seorang negarawan Pancasilais.

Sekali lagi, Negarawan Yang Pancasilais sejati.  Negarawan yang mengerti apa yang ada didalam pikiran dan jiwa Bung Karno. Karena sekarang ini dunia terpaku pada nafas toleransi dan gotong royong yang menjadi intisari dari Pancasila.

Oleh karena itu, siapapun yang ditugaskan jadi Duta Besar PBB adalah pribadi terbaik. Toleransi dan gotong royong mengalir dalam darah, jiwa, serta rohnya. Pribadi yang memiliki kharisma kharismatik.

Salah satu nama yang pantas dipertimbangkan adalah Basuki Tjahaya Purnama (BTP) atau Ahok. Dengan kharismanya Ahok mudah-mudahan mampu mencerahkan politisi dunia dari timur, barat, utara, selatan agar Palestina jadi negara merdeka.