Kepala Desa Watu Pari, Yohanes B. Halimin (kiri) dan Direktur Change Operator, Arischy Hadur (Kanan)
alterntif text

Kupang, Vox NTT-Desa-desa di Nusa Tenggara Timur memiliki potensi sumber daya alam (hasil bumi, potensi wisata), sumber daya manusia (kelompok pengrajin, kelompok terampil, dll), dan budaya yang melimpah.

Produk unggulan yang telah diekspor keluar negeri merupakan bukti potensi-potensi tersebut dapat meningkatkan pendapatan ekonomi.

alterntif text
Sumber: BPS NTT

Kemajuan ini patut diapresiasi, sebab membangun jejaring bisnis internasional merupakan bukti nyata kontribusi desa membangun Indonesia.

Tercatat, dari 3.353 desa/kelurahan, ada 1031 yang memiliki produk unggulan. Jadi, ada 30,74 persen desa memiliki produk unggulan desa.

Dari 1031, cuma 55 desa yang berhasil melakukan ekspor produk unggulan.

Lalu, bagaimana dengan desa lainnya?

Arichy Hadur, direktur Change Operator mengakui produk unggulan desa (Prudes) di NTT menyimpan potensi yang masih tersamar, belum ditemukan, belum disadari sebagai unggulan, atau belum didesain sebagai produk unggulan.

Hal ini disebabkan masing-masing masyarakat desa berjalan dengan pola ekonominya sendiri-sendiri sehingga tidak terkonsolidasi. Salah satu alasannya adalah belum terciptanya sistem ekonomi yang terpadu di desa.

Dalam observasi Change Operator, lembaga yang fokus pada isu-isu seputar desa di NTT, mengungkapkan, masyarakat desa belum menyadari relasi kelembagaan ekonomi di desanya sebagai potensi.

“Masing-masing petani menjual hasil buminya keluar. Karena masing-masing, maka volume produk yang dijual relatif kecil, jadi masih jauh dari mimpi untuk mengekspor,” kata Hadur.

Menurut dia, pemaksimalan Prudes dapat dilakukan dengan baik melalui BUMDesa. BUMDesa dapat digunakan sebagai sentra ekonomi desa dan berperan sebagai simpul untuk lembaga-lembaga ekonomi lainnya yang ada di desa.

Dengan ini, BUMdes dapat berperan lebih dalam mengatur rantai nilai, memangkas jalur distribusi, dan meningkatkan daya tawar produk masyarakat desa.

Misalnya, ketika biasanya petani menjual hasil buminya sendiri-sendiri, diajak untuk mulai menjualnya dalam skala desa melalui BUMDes.

Keuntungannya adalah pemangkasan biaya distribusi/pengangkutan barang, meningkatkan daya tawar harga (karena dijual dalam gelondongan), dan konsistensi jumlah produksi (BUMDes mengatur volume barang keluar sesuai kebutuhan pasar dan selalu ada sepanjang tahun).

“Ini yang sedang didorong Change’O pada beberapa BUMDes untuk membuat unit usaha yang berelasi dengan usaha masyarakat. Jangan sampai BUMDes dan usaha masyarakat berjalan masing-masing,” kata Hadur.

BUMDes Payung Usaha

BUMDes juga mesti menjadi payung usaha dan Prudes menjadi material penyokongnya.

Dalam skala lebih luas, produk unggulan desa (Prudes), dapat dinaikkan eskalasi bisnisnya ke Produk Unggulan Kawasan Perdesaan (Prukades).

Data statistik di atas memang belum menjelaskan, apakah 1031 desa yang memiliki Prudes ini, sudah menerapkan konsep produk kawasan atau tidak.

“Yang pasti, kami menyarankan agar Pemerintah daerah dapat merespon potensi yang ada dengan membentuk sistem relasi antara BUMDes dan BUMD, serta terhadap lembaga ekonomi nasional dan bahkan jaringan internasional,” tutur Hadur.

Jaringan Bisnis Antardesa

Selain itu, lanjut Hadur, banyak Prudes di NTT yang berjenis sama jika merujuk data ekspor produk unggulan desa yang dirilis VoxNtt.com.

“Bagaimana jika desa-desa itu membentuk jejaring bisnis? Apakah selama ini sudah dilinkage? Di sini kita membutuhkan peran propinsi, dalam hal ini BUMD untuk dapat membaca peluang ini, dan mengambil peran moderasi bisnis Prudes, sehingga dpat mengatur keberpihakan dan profit yang besar untuk masyarakat. Toh jaringan pemasaran internasionalnya sudah ada di 55 desa. Ini bisa dimanfaatkan dengan me-linkage semua desa yang genre produknya sama, untuk dieksport dalam jumlah yang besar,” jelas Hadur.

Hal yang sama juga dapat dilakukan untuk desa-desa yang sudah memiliki prudes, tetapi belum digenjot atau belum memiliki jejaring pasar yang menjanjikan.

Dengan jaringan ekonomi yang tersistem, demikian Hadur, NTT dapat menciptakan 1.031 desa ber-Prudes dan memiliki pasaran produk yang menjanjikan.

Langkah ini terus dilakukan sambil tetap mengampanyekan satu desa satu produk untuk memancing Prudes dari desa-desa lainnya.

Penulis: Tarsi Salmon

Editor: Irvan K