Kegiatan pelatihan pengolahan limbah air cucian beras menjadi pupuk cair untuk Poktan di Dusun Dewulawe, Desa Salama, Kecamatan Reok, Kabupaten Manggarai (Foto: Selvianus Hadun)
alterntif text

Ruteng, Vox NTT- Sebanyak 15 orang anggota kelompok tani (Poktan) di Dusun Dewulawe, Desa Salama, Kecamatan Reok, Kabupaten Manggarai mengikuti pelatihan pengolahan limbah air cucian beras menjadi pupuk cair, Kamis (25/07/2019).

Pelatihan ini diberikan oleh Tim Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Katolik Indonesia (UKI) Santu Paulus Ruteng.

Kegiatan ini dilatarbelakangi oleh berbagai realitas yang dialami oleh Poktan di Dusun Dewulawe. Salah satu di antaranya adalah kesulitan mendapatkan pupuk yang murah dan berkualitas oleh petani sawah dan sayur.

Menyikapi realitas ini, Tim PkM UKI Santu Paulus Ruteng yang diketuai oleh Wigberts Gaut Utama hadir dan memberikan pelatihan yang bertajuk “Pemberdayaan Masyarakat dalam Pengolahan Limbah Air Cucian Beras Menjadi Pupuk Cair.”

Salah satu anggota Tim PkM Kanisius Supardi, dalam pemaparan materinya menjelaskan, kandungan nutrisi yang terdapat pada air cucian beras sangatlah kompleks.

Itu di antaranya karbohidrat yang menduduki peringkat nomor 1 dengan nilai 90% yang berupa pati, kemudian ada pula vitamin, mineral serta protein. Proteinnya sendiri terdiri dari 80% protein glutein.

“Dengan kandungan unsur hara yang begitu banyak dan melimpah seperti itu, sudah kita bayangkan alangkah sejahteranya tanaman kita setiap hari mendapat asupan dari air cucian beras ini,” kata Kanisius.

“Kita tidak perlu mencari pupuk jauh-jauh sementara pupuk yang murah dan berkualitas selalu kita jumpai setiap hari,” lanjut dia.

Peserta dalam pelatihan ini adalah petani sawah dan sayur. Mereka sangat antusias dalam mengikuti pelatihan ini.

Antusiasme mereka terlihat selama pelatihan, di mana peserta juga intens berdiskusi dengan Tim PkM.

Salah satu bahan diskusi mereka adalah masalah lain yang dialami dan belum bisa diatasi. Masalah tersebut yakni bagaimana cara membuat pestisida alami yang tepat guna untuk mengusir hama ulat pada tanaman sayur.

Pada bagian akhir pelatihan, peserta meminta kepada Tim PkM agar kegiatan seperti ini semestinya sering dilakukan sedapat mungkin agar para petani tidak mengalami kesulitan dalam bertani.

Para peserta juga berniat untuk segera mempraktikkan apa yang mereka telah peroleh dari pelatihan ini.

Mereka merasa sangat bangga karena mendapatkan pengetahuan yang sangat berharga dari kegiatan ini.

KR: Selvianus Hadun
Editor: Ardy Abba

Baca Juga: Dosen PGSD UKI Santu Paulus Gelar PkM di MIN 2 Tempode Reo