Ilustrasi (Foto: dakwatuna)

Oleh: Viktor Juru

Guru SDN Reweng Kecamatan Elar, Kabupaten
Manggarai Timur

Catatan sejarah menjelaskan kepada kita bahwa Tiga Ratus Lima Puluh tahun dan ditambah Tiga Setengah tahun bangsa Indonesia dijajah bangsa Belanda dan Jepang.

Selama masa penjajahan bangsa kita ditindas dan dirampas hak-hak kemanusian. Atas bentuk ketidakadilan ini, hadir para pahlawan lokal yang dengan gigih berani melawan penjajah.

Bangsa Indonesia melakukan perlawanan dan menolak bentuk-bentuk penjajahan. Pertempuran dan pertumpahan darah terjadi di setiap jengkal tanah Pertiwi dan suku bangsa Indonesia. 

Di Aceh kita kenal perjuangan Cut Nyak Dhien melawan Belanda dalam perang Aceh.

Ada Pangeran Diponegoro yang menjaga tanah Jawa dari kesewenang-wenangan pemerintah Hindia-Belanda.

Di tanah Sulawesi hadir Sultan Hasanudin si ayam jantan dari timur yang gagah berani melawan dan mengusir penjajah dari tanah Celebes.

Thomas Matulessy atau Pangeran Patimura yang siap membantai penjajah yang merongrong hasil bumi di tanah Maluku.

Di Flores ada pahlawan daerah yang mempertaruhkan nyawa untuk mempertahankan wilayah dari penguasaan penjajah.

Beberapa pahlawan daerah seperti Motang Rua, Nipa Do, Marilonga Bhara Nuri, Teka Iku, yang rela mati demi mempertahankan setiap jengkal tanah Pertiwi yang suci, luhur, dan mulia.

Betapa perjuangan kemerdekaan adalah perjuangan dalam satu nada mempertahankan persatuan Nusantara.  

Puncak perjuangan mengusir bangsa penjajah berakhir di Tahun 1945. Saat itu Indonesia dijajah oleh Jepang yang tengah berada di ambang kehancuran bangsa.

Tanggal 6 Agustus 1945 sekutu menghancurkan kota Hirosima dan kemudian kota Nagasaki di tanggal 9 Agustus 1945. Di saat situasi genting itu para pendiri bangsa Indonesia memanfaatkan untuk meproklamasikan kemerdekaan.

Sebelumnya, ada upaya untuk memikat hati bangsa Indonesia dengan menjanjikan kemerdekaan. Jepang membentuk satu badan yang bertugas untuk menyelidiki usaha-usaha persiapan kemerdekaan Indonesia atau yang dikenal dengan nama BPUPKI (Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia).

Mendekati hari-hari Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya BPUPKI berubah nama menjadi Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI).

Masa-masa kemerdekaan Indonesia, 17 Agustus 1945 adalah masa-masa yang menegangkan terutama antara golongan muda dan tua. Golongan muda menginginkan segera memproklamasikan kemerdekaan.

Golongan muda menegaskan bahwa kemerdekaan bukan merupakan hadiah atau pemberian Jepang. Sedangkan golongan tua meninginkan agar kemerdekaan tidak dilaksanakan secara terburu-buru.

Perbedaan pendapat ini kemudian mendorong kaum muda untuk menculik tokoh-tokoh pendiri bangsa. Mereka membawa para tokoh dari golongan tua ke desa kecil bernama Rengasdengklok.

Di sana mereka mendesak Soekarno dan M. Hatta segera memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Peristiwa penculikan ini kemudian dikenal dengan peristiwa Rengasdengklok.

17 Agustus 1945 di kediaman Soekarno Jalan Pegangsaan No. 56 berkumpul para pendiri bangsa dan kaum muda . Saat itu Soekarno membacakan teks proklamasi, tanda bahwa Bangsa Indonesia menyatakan diri bebas dari tekanan, penindasan bangsa lain, dan siap berdiri di kaki sendiri, siap untuk mengatur kehidupannya sendiri.

Kemerdekan menjadi tanda bahwa bangsa Indonesia adalah bangsa yang besar, bangsa yang kuat, dan bangsa yang terus memperjuangkan kedaulatannya.  

Kemerdekaan Indonesia bukan terjadi secara kebetulan. Kemerdekaan Indonesia juga bukan terjadi karena terdesak lantaran para pemuda menculik Soekarno dan Moehamad Hatta ke Rengasdengklok untuk segera menyatakan bahwa bangsa Indonesia merdeka. Kemerdekaan Indonesia juga bukan merupakan pemberian atau hadiah dari Jepang.  Kemerdekaan kita adalah upaya panjang para pendahulu kita.

Momentum peringatan kemerdekaan Indonesia merupakan momentum bagi kita untuk tidak lupa akan sejarah bangsa ini. Sejarah panjang dan pilu bangsa kita dalam menapaki kemerdekaan tidak boleh diabaikan.

Sejarah bangsa ini mesti menjadi landasan menjalankan kehidupan berbangsa dan bertanah air. Kita dapat menemukan banyak dasar pemikiran dari pendahulu kita yang justru saat ini dibutuhkan.

Sebagai contoh, saat ini kita sedang gencar menjalankan pendidikan karakter. Pendidikan yang membentuk jiwa nasionalis berdasar pada Pancasila.  Arah pendidikan kita telah tersirat dalam syair lagu Indonesia Raya “bangunlah jiwanya bangunlah badannya untuk Indonesia raya”.

Gerakan perjuangan kemerdekaan dan kemerdekaan Indonesia merupakan wujud perlawanan terhadap penindasan harkat dan martabat manusia (penjajahan). Merdeka berarti bebas dari penjajah dan tindakan penjajahan.

Setelah 350 tahun ditambah 3,5 tahun masa penjajahan, Indonesia menyatakan diri merdeka. Kini Perjuangan kita adalah membebaskan diri dari segala bentuk ketertinggalan, perjuangan tak henti menuju kemajuan dan kejayaan bangsa.

Makna kemerdekaan saat ini adalah melawan segala bentuk penindasan terhadap jiwa. Jiwa rakyat sebagai bangsa Indonesia harus “terbangun”.

Mengisi kemerdekaan tidak cukup dengan melantunkan nyanyian-nyanyian nasional, perlombaan-perlombaan, menata kampung/desa/instansi-instansi, memasang bendera, dan upacara apel peringatan Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia. Jiwa nasionalisme perlu direfleksi dan dibentuk dengan aksi nyata. 

Mengecat pagar, menata kampung, mendirikan tiang bendera, memasang umbul-umbul, perlombaan-perlombaan tidak lain merupakan bagian dari pernyataan kesadaran dan kekompakan rakyat sebagai satu bangsa dan tanah air Indonesia.

Rangkaian acara HUT Proklamasi Kemerdekaan Indonesia hendaknya terlaksana secara bersama, gembira, dan penuh rasa semangat.

Semangat kemerdekaan kita adalah semangat yang berketuhanan, semangat yang berperikemanusiaan, semangat kebhinekaan, semangat persatuan, memiliki etos kerja yang tinggi,  semangat berdemokrasi yang belandaskan Pancasila dan semangat yang berkeadilan.

Ini mesti menjadi intesni sekaligus orientasi kehidupan berbangsa dan bertanah air yang adil dan makmur.

Gesekan-gesekan yang berlandaskan religiositas sudah tidak perlu terjadi. Konflik atas dasar perbedaan sangat tidak relevan dalam rangka pembangunan bangsa. Fokus kita adalah pada nation interest.

Perbedaan mesti menjadi khazanah yang memperkuat jati diri bangsa. Persaingan abad 21 menuntut kita untuk kuat dalam kerja sama tim. Perselisihan dan perpecahan hanya menghambat laju pertumbuhan bangsa. Perbedaan sikap politik adalah wajar dan tetap bermuara pada kerakyataan yang dipimpin oleh kebijaksanaan, manusiawi, bersatu, dan untuk mencapai bonum commune

Bukahkah sesuatu yang teramat lucu jika dahulu perjuangan para pahlawan adalah perjuangan melawan bentuk penindasan dari bangsa lain dan sekarang justru kita saling menindas harkat dan martabat bangsa sendiri?

17 Agustus 1945 bangsa Indonesia menyatakan diri bebas dari intervensi bangsa lain. Indonesia menyatakan diri siap untuk berdaulat berdiri dan mengurus bangsanya sendiri. Perjuangan para leluhur kita adalah perjuangan melawan persenjataan.

Perlawanan kita saat ini adalah upaya untuk tidak kalah bersaing dengan bangsa lain. Perlawanan terhadap lemahnya pengusaaan ilmu pengetahuan, teknologi, dan keterampilan.

Kemerdekaan kita adalah semangat belajar yang tinggi, etos kerja yang tinggi, semangat berkarya yang tidak kalah dalam persaingan dengan bangsa lain. Kita gagal jika kita masih saja menjadi alat dan ladang subur bagi bangsa lain.

Kemeriahan perayaan ulang tahun kemerdekaan juga mesti menjadi simbol kebahagiaan hidup besatu sebangsa dan setanah air.

Sikap dan tindakan yang merperkuat dan memperkaya dinasti-dinasti primordialisme, kelompok atau golongan, dan dinasti berbasis keagamanan harus dihancurkan. 

Kerja kita adalah kerja yang tulus tanpa pamrih kepada kejayaan tanah air Indonesia.

Mengenang dan merayakan kembali momentum proklamasi kemerdekaan Indonesia berarti pula bahwa kita sedang menegaskan Pancasila adalah dasar dan ideologi bangsa yang sah, kokoh, dan utuh.

Perayaan kemerdekaan adalah moment bagi kita untuk sekali lagi mempertahankan Pancasila dan UUD 1945 sebagai supremasi hukum.

Kemeriahan dan kebahagiaan kita adalah kebahagiaan melihat Garuda Pancasila tetap sehat, berani dan tak terkalahkan. 

Kemerdekaan adalah upaya panjang bangsa Indonesia. Kemerdekaan diraih dengan pertumpahan darah setiap pahlawan yang gugur.

Kemerdekaan adalah kebahagiaan kita bersama di atas tanah Pertiwi yang sama. Kemerdekaan adalah tonggak sejarah yang harus dijaga secara bersama.

Kemerdekaan adalah perjuangan bersama yang belum berakhir dan tak akan berakhir dengan rangkaian perayaan peringatan HUT proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia. Perjuangan kita masih terus berlanjut untuk 17 Agustus yang akan datang.

alterntif text