Aktivis Bara JP NTT (Barisan Relawan Jokowi Presiden), Hildebertus Selly (tengah) saat diwawancarai awak media (Foto: Ist)

Kupang, Vox NTT – Relawan Jokowi Nusa Tenggara Timur (NTT) meminta Presiden Joko Widodo untuk mempertimbangkan lagi rencana kunjungannya ke Kupang pada 21 Agustus 2019 mendatang.

“Apalagi kunjungan ke NTT hanya untuk melakukan panen garam di Desa Nunkurus, Kecamatan Kupang Timur, Kabupaten Kupang, NTT,” kata Aktivis Bara JP NTT (Barisan Relawan Jokowi Presiden), Hildebertus Selly kepada VoxNtt.com melalui pesan WhatsApp, Senin (19/08/2019) malam.

Menurut Hildebertus, kerusuhan yang terjadi di Papua adalah persoalan serius dan mengancam eksistensi kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Indonesia sebagai Negara merdeka yang berdiri atas dasar ideologi Pancasila barusan selesai merayakan HUT yang ke-74 tahun.

“Namun kerusuhan di Papua menjadi catatan refleksi bagi bangsa ini bahwa masih ada soal yang belum mampu diselesaikan,” tegasnya.

Kerusuhan di Papua ini kata dia, bermula dari permasalahan yang terjadi di Surabaya, Jawa Timur.

Sesungguhnya persoalan itu lanjut Selly, adalah perbedaan dan stigma kepada kaum tertentu yang memang masih menjadi parasit membahayakan terhadap eksistensi Pancasila.

“Sehingga persoalan tidak bisa diselesaikan dengan permintaan maaf, melainkan butuh Negara hadir dan tindakan nyata Presiden Jokowi sebagai kepala Negara,” tukas Selly.

“Biar persoalan tidak terus berlanjut dan berdampak buruk. Proses pembiaran peristiwa ini sama dengan pembunuhan terhadap kemanusiaan,” tambahnya.

Sebab itu, ia meminta Jokowi untuk mempertimbangan lagi atas rencana kunjungannya ke Kupang. Apalagi hanya untuk melakukan panen garam.

“Posisi lokasi panen garam tersebut berada di tanah milik rakyat yang dicaplok oleh PT Timor Life Stock Lestari. Sebaiknya Pak Jokowi atasi soal genting di Papua ketimbangan datang memberi legitimasi kepada perampas hak rakyat Nunkurus,” tegasnya.

“Jika sampai bapak Presiden memberi legitimasi atas lokasi tambak garam tersebut, maka sama dengan bapak Presiden membiarkan penderitaan kepada rakyat yang telah memilihnya,” sambung Selly.

Ia menambahkan, pihaknya tidak mau kehadiran Presiden Jokowi membawa petaka bagi rakyat di Nunkurus.

“Karena prinsip kami adalah kehadiran Jokowi memberi kegembiraan kepada rakyat, keadilan, kesejahteraan dan kebaikan bagi semua,” tutup Selly.

Untuk diketahui, kerusuhan di Manokwari Papua terjadi pada Senin (19/08/2019). Warga menggelar aksi membakar ban bekas dan meletakkan ranting pohon di sejumlah ruas jalan dalam kota Manokwari.

Massa diketahui menyampaikan aksi protes terkait dugaan persekusi dan rasisme terhadap mahasiswa Papua di sejumlah daerah seperti, Malang, Surabaya dan Semarang.

Aksi tersebut dilakukan dengan cara warga menyebar ke sejumlah jalan sambil membawa senjata tajam dan spanduk.

Penulis: Tarsi Salmon
Editor: Ardy Abba

alterntif text