Close Menu
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
Facebook X (Twitter) Instagram
VoxNtt.comVoxNtt.com
Facebook X (Twitter) Instagram
Subscribe
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
VoxNtt.comVoxNtt.com
Home»Feature»Miguel, Pejuang NKRI di Timor Leste yang Hidup di Gubuk Reyot dan Tak Punya Tanah
Feature

Miguel, Pejuang NKRI di Timor Leste yang Hidup di Gubuk Reyot dan Tak Punya Tanah

By Redaksi28 Agustus 20194 Mins Read
Facebook Twitter WhatsApp Telegram
Miguel Noronha, pejuang NKRI yang kini tinggal di dalam gubuk reyot di dusun Wemalae (Tubaki), Desa Wehali, Kecamatan Malaka Tengah, Kabupaten Malaka. (Foto: Frido/VoxNtt.com)
Share
Facebook Twitter Pinterest Telegram WhatsApp

Betun, Vox NTT-Miguel Noronha adalah seorang mantan pejuang (Milisi) NKRI tahun 1999 di Bobonaro, sebuah Distrik di Republik Demokratik Timor Leste.

Pria berpostur tinggi kurus ini adalah putra asli Timor Leste. Namun karena cintanya kepada Indonesia, ia rela meninggalkan tanah leluhurnya, tempat ia lahir dan dibesarkan.

Dulunya Miguel adalah seoarng petani biasa di kampung halamannya, Bobonaro. Awal tahun 90an beliau mulai ikut membantu TNI menyisir hutan-hutan Timor Leste.

Kala itu ia berperan penting sebagai pemandu jalan di hutan rimba Timor Leste. Istilah dalam dunia militer dinamakan TBO (Tenaga Bantu Operasi).

TBO inilah yang membantu militer Indonesia selama beroperasi di sana. Selain membantu operasi Militer, TBO juga dilatih bergerilya di hutan, dengan maksud jika terjadi situasi mendesak, mereka bisa mengangkat senjata membela NKRI.

Miguel saat itu cukup aktif membantu dan sering mendapat latihan tembak dan latihan teknik dasar perang dari TNI.

Alhasil sampai hari ini, jiwa korsa dan semangatnya terus bergelora meski usianya dirundung senja.

Pecah Perang 1999

Referendum 1999, menurut Miguel merupakan saat paling sadis dan dilematis dalam hidupnya. Sadis karena luka kemanusiaan dan dilematis karena harus memerangi saudaranya sendiri.

Yang lebih parah lagi, lanjut Miguel, tanah leluhurnya harus ditinggalkan demi MERAH PUTIH dan NKRI.

Anak istrinya saat itu diberangkatkan duluan oleh pemerintah RI ke kota Atambua kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur.

Sedangkan Miguel sendiri ikut bergabung bersama milisi Merah Putih lainya dan berjuang mengangkat senjata mempertahankan NKRI. Dalam benaknya, nyawa adalah taruhan demi NKRI.

Singkat cerita, hasil referendum menyatakan Indonesia kalah. Miguel bersama milisi lainya harus bertolak mencari suaka ke Republik Indonesia. Republik yang mereka cinta dan rela pertaruhkan nyawa.

Belu, Provinsi NTT adalah pilihan terakhir untuk mereka tinggal. Alasannya karena satu daratan dan punya kesamaan bahasa serta budaya. Apalagi Belu berbatasan langsung dengan Timor Leste.

Karena situasi sangat mencekam saat itu, Miguel terpaksa berjalan kaki menelusuri hutan dan lembah menuju ke kota Atambua, menyusul istri dan anak-anaknya.

Jarak tempuh sekitar ratusan kilo meter dari Bobonaro ke Atambua. Tapi saat itu, jarak tidak menjadi suatu masalah besar. Intinya sampai dengan selamat.

Hidup dan menjadi pengungsi saat itu adalah saat paling kejam dalam Hidup Miguel. Bayangkan, mau tinggal di mana dan harus makan apa.

Harta benda tidak satu pun mereka bawa dari Bobonaro (RDTL). Sebuah kesulitan hidup yang sangat memprihatinkan.

Beberapa bulan di Atambua, Miguel bersama keluarganya bertolak ke selatan, tepatnya di Kecamatan Malaka Tengah (Kab.Malaka sekarang).

Mereka bergeser ke Malaka demi menyusuli sanak keluarga yang sudah mendahului mereka. Katanya, di sana masih banyak tanah kosong dan cocok untuk bertani.

Tahun 2000

Miguel dan keluarga berjalan kaki menuju Malaka. Di sana mereka tinggal di camp pengungsian yang sudah disediakan pemerintah dan PBB.

Hidup bertahun tahun dari satu camp ke camp yang lain, Miguel pun memutuskan untuk bekerja dan menyambung hidup.

Tapi apa boleh buat, hidupnya tak sebaik saat masih di Bobonaro. Di Malaka, Miguel tidak mempunyai rumah dan tanah sendiri untuk bisa melanjutkan hidupnya.

Terletak di dusun Wemalae (Tubaki), Desa Wehali, Kecamatan Malaka Tengah, Kabupaten Malaka, Miguel hidup dan mengasingkan diri di kebun milik Dinas Kehutanan.

Ia hidup dalam gubuk reyot bersama istri dan 7 anaknya yang masih sangat kecil. Sungguh sebuah pemandangan yang mengharukan di tengah gaya hidup hedonis kaum elit negeri ini.

Miguel dan keluarga berpose bersama wartawan VoxNtt.com di dalam gubuk yang mereka tinggal

Seorang pejuang NKRI, bertaruh nyawa demi Merah Putih, meninggalkan tanah kelahiran tapi kesejahteraan hidupnya tidak diperhatikan negara.

Miguel saat ditemui VoxNtt.com pada 20 Agustus 2019 lalu berharap, pemerintah mengingat jasanya dan teman-temanya yang saat itu ikut berjuang.

Beliau juga berharap, pemerintah kabupaten Malaka membantu menyekolahkan anak-anaknya.

Terakhir beliau berpesan untuk kaum muda NKRI, “Tetap semangat mempertahankan ideologi Pancasila dan berjuang terus memerangi korupsi oleh elit-elit politik”. SALAM HORMAT PEJUANG.

Penulis: Frido Raebesi

Editor: Irvan K

Malaka Perbatasan RI-RDTL
Previous ArticlePelajar Indonesia dan Timor Leste Ikut Workshop Pertukaran Budaya
Next Article Penataan Lampu Lima Ende, Kadis Frans: Monumen Pancasila yang Ditonjolkan Bukan Tempat Foto

Related Posts

Perjuangan Mama Sebina: Bertahan Hidup, Sekolahkan Anak di Tengah Kemiskinan Manggarai Timur

25 Februari 2026

Telan DAU 989 Juta, Proyek Lapen Lidang – Rambe Bermutu Buruk, Ada Dugaan Keterlibatan Kades

19 Desember 2025

Kuryanto, Penjual Bakso Keliling yang Menjadi “Ayah Kedua” Bagi Adik-Adiknya

11 Desember 2025
Terkini

Satgas Pangan Sidak Pasar, Pastikan Stok Aman dan Harga Stabil di Labuan Bajo Jelang Idul Fitri

7 Maret 2026

Ketua PSSI Manggarai Barat Buka O2SN Gugus 04 Namo di Lembor Selatan

7 Maret 2026

Kisah Nangadhero, Desa Pesisir di Nagekeo Tempat Petani dan Nelayan Menjaga Harmoni

7 Maret 2026

Pentingnya Pendidikan Karakter dalam Membentuk Generasi Remaja Berintegritas

7 Maret 2026

Tuhan sebagai Gembala dan Bapa Yang Penuh Belaskasih dan Mengampuni 

7 Maret 2026
© 2026 VoxNTT
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.