Close Menu
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
Facebook X (Twitter) Instagram
VoxNtt.comVoxNtt.com
Facebook X (Twitter) Instagram
Subscribe
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
VoxNtt.comVoxNtt.com
Home»Regional NTT»Gereja Katolik dan Ribuan Umat Tolak Proyek Geotermal di Nagekeo
Regional NTT

Gereja Katolik dan Ribuan Umat Tolak Proyek Geotermal di Nagekeo

By Redaksi6 Juni 20252 Mins Read
Facebook Twitter WhatsApp Telegram
Ribuan umat Katolik di Kabupaten Nagekeo menggelar aksi demonstrasi tolak kehadiran geothermal, Kamis, 5 Juni 2025 (Foto: Patrianus Meo Djawa/ VoxNtt.com)
Share
Facebook Twitter Pinterest Telegram WhatsApp

Mbay, VoxNTT.com — Rencana eksplorasi pengeboran panas bumi (geotermal) sebagai sumber energi baru untuk pembangkit listrik di Kabupaten Nagekeo kembali mendapat penolakan keras.

Kali ini, penolakan datang dari Gereja Katolik Roma bersama ribuan umat yang tergabung dalam Forum Peduli Lingkungan Hidup Kevikepan Mbay.

Aksi demonstrasi besar-besaran digelar bertepatan dengan peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia pada Kamis, 5 Juni 2025.

Ribuan peserta yang terdiri dari umat Katolik, biarawan, biarawati, serta tokoh agama memenuhi halaman Kantor Bupati Nagekeo.

Dalam aksi damai tersebut, mereka menuntut agar pemerintah daerah tidak terburu-buru menetapkan lokasi proyek geotermal yang dinilai berisiko tinggi terhadap lingkungan dan masyarakat.

Penolakan ini didukung langsung oleh Uskup Agung Ende, Mgr. Paulus Budi Kleden, yang sebelumnya menyatakan sikap tegas Gereja Katolik dalam menolak pengembangan proyek geothermal di Pulau Flores.

Ia menyampaikan kekhawatiran akan potensi kerusakan ekologis, pencemaran sumber air dan udara, serta ancaman terhadap keberlanjutan lingkungan hidup di masa depan.

“Proyek ini tidak hanya berpotensi merusak lingkungan, tetapi juga mengancam keberlangsungan hidup masyarakat lokal dan generasi mendatang,” ujar Mgr. Paulus dalam pernyataan tertulisnya.

Dalam orasi di hadapan massa aksi, Romo Basilius Lewa menegaskan, proyek geothermal tidak layak dikembangkan di Flores yang merupakan wilayah rawan bencana alam.

“Kami menolak proyek geothermal karena mengancam tanah, air, udara, dan masa depan anak cucu kami. Geotermal tidak cocok dikembangkan di bumi Flores,” tegasnya.

Penolakan juga dilatarbelakangi kekhawatiran terhadap dampak sosial, seperti konflik horizontal, penggusuran, serta hilangnya ruang hidup masyarakat adat dan penduduk lokal.

Meski saat ini proyek masih berada dalam tahap survei, otoritas Gereja menilai langkah awal tersebut sudah cukup untuk menimbulkan keresahan di tengah masyarakat.

Menurut data dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) tahun 2020, terdapat tiga lokasi dengan potensi panas bumi tinggi di Nagekeo, yaitu Desa Pajoreja (Kecamatan Mauponggo), Desa Marapokot (Kecamatan Aesesa), dan Desa Renduteno (Kecamatan Aesesa Selatan), dengan suhu permukaan mencapai 37–38°C.

Wakil Vikaris Episkopal Kevikepan Mbay, dalam pernyataannya kepada massa, mendesak agar pemerintah daerah tidak mengabaikan suara masyarakat.

“Bupati dan DPRD jangan tutup telinga. Jangan gadaikan masa depan Flores demi proyek jangka pendek,” serunya.

Selain itu, Gereja Katolik menyerukan kepada Dinas Pertambangan Provinsi NTT dan Kementerian ESDM RI agar menghentikan seluruh proses perizinan eksplorasi dan mencabut penetapan Pulau Flores sebagai “Pulau Panas Bumi”.

Dalam konferensi pers seusai aksi, Vikep Mbay RD Aster Lado mengimbau umat Katolik dan seluruh masyarakat agar tetap menjaga persatuan dan tidak mudah terprovokasi.

Penulis: Patrianus Meo Djawa

Geotermal Geotermal Flores Nagekeo
Previous ArticleKementerian PKP Dampingi Warga Laporkan Dugaan Penipuan di Perumahan Kharisma Rancamanyar
Next Article Julie Laiskodat Serahkan Hewan Kurban untuk Umat Muslim di Manggarai Barat

Related Posts

‘Gema Mabar’ Diluncurkan, Pemkab Manggarai Barat Fokus pada Ketahanan Pangan hingga Pariwisata Berkelanjutan

2 Juni 2026

Manggarai Barat Dorong Koperasi Desa Merah Putih Beroperasi Meski Belum Punya Gerai

30 Mei 2026

Pemkab Manggarai Barat Evaluasi Seluruh Destinasi Wisata Usai Insiden WNA Austria Terjatuh di Jembatan Gantung

30 Mei 2026
Terkini

Menteri Transmigrasi RI Serahkan Bantuan Sembako untuk Masyarakat Translok di Manggarai Barat

4 Juni 2026

Alarm dari Kupang: Reformasi Radikal Pengendalian PAD

4 Juni 2026

Pemkab Manggarai Barat Usulkan Satgas Perizinan untuk Perkuat Pengawasan Usaha

4 Juni 2026

Menteri Transmigrasi RI Tinjau Pembangunan Sanitasi dan Lokasi HPL di Manggarai Barat

4 Juni 2026

Kejari Manggarai Barat Pulihkan Kerugian Negara Rp2,09 Miliar dari Dua Kasus Korupsi

4 Juni 2026
© 2026 VoxNTT
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.